08 Februari 2010

DHDL ala YC0LOW dalam Gambar-gambar, Feb 2010.


Gbr. 1


Gbr 1 memperlihatkan sebagian tiang bambu no. 1 yang dipakai sebagai penopang kawat vertikal sekaligus menjadi pertemuan dengan kawat horizontal baseline yang sejajar dengan tanah. Pada sudut tsb disisipkan sebuah carbon resistor(jangan menggunakan jenis wire-wound) dengan nilai 960 Ohm (tergantung kondisi tanah, ketinggian kawat dll).

Sebelum menemukan nilai tetap resistor yang tepat, saya gunakan sebuah potensio 1 K sebagai variable resistor. Bila Front to Back rasio sudah kedengaran nyata di receiver, maka itulah nilai yang diinginkan antena. VR bisa diganti dengan fixed R.

Gbr. 2




Gbr.2 adalah sebuah long-shot dari tiang bambu no.1. Karena ukuran kawat antena DHDL ini hanya 0.7mm maka garis kawat yang melandai(sloping) ke titik tengah antara dua tiang segaris menjadi tidak terlihat.

Gbr. 3


Gbr.3 adalah sebuah long-shot tiang bambu no.2 yang berhadapan lurus dengan tiang bambu no.1. Pada sudut bawah kawat vertikal dengan kawat horisontal disisipkan rangkaian transformer untuk penyesuai impedansi antena dengan feedline coax RG-58, 50 Ohm. Kawat antena yang tipis tidak terlihat.

Gbr.4


Gbr.4 adalah sebuah close-up dari kotak feedpoint. Saya menemukan rasio 2T:6T (lilit) sebagai nilai terbaik pada toroid binocular Amidon BN-73-202. Pada kotak, tertulis 2T:5T.

Penerimaan antena selalu searah dengan titik feedpoint. Berhubung lahan yang terbatas, antena DHDL ini mengarah ke 5 derajat utara. Enak sekali mendengar sinyal dari Jepang. namun, pagi ini (WIB) saya mendengar sinyal W3 dengan antena ini pada 160m.

Keistimewaan antena ini adalah tidak bergantung pada kondisi tanah (ground-independant)

Tidak ada komentar: