22 Maret 2011

VU4PB pada Band 160m

Sinyal VU4PB diributkan oleh para topbanders dari pantai timur AS dan Eropa, tadi pagi (WIB) karena sinyalnya sangat marjinal di sana.

Saya pantau di 1826.5 kHz, simplex, terdengar baik. Maklum, jaraknya cuma sekitar 2500 km dari Cinere. Saya cukup memanggilnya sekali saja dan langsung kami tukar laporan RST (2210Z). Keisengan saya tambahkan dengan mengirim pesan di ON4KST Chat-line "VU4 very easy!" supaya mereka makin ngeces.

Lima tahun lalu, saya sudah konfirmasi VU4AN/VU3RYC sebagai negara DXCC ke-98 pada 160m, CW. Lihat: artikel bertajuk "Bukan dari India, VU4AN/VU3RYC, Sabtu,, April 22, 2006 11:57 AM",
http://topbanddxdiindonesia.blogspot.com/2008/02/bukan-dari-india-vu4anvu3ryc-sabtu.html

Saat itu aktivasi dari kepulauan Andaman/Nicobar diselenggarakan dalam rangka ulang tahun NIAR, organisasi amatir radio India, tergolong sukses dirayakan oleh para tamu operator/DXer internasional di sana dan di udara.

Kapan hari ulang tahun Orari bisa meriah seperti itu? Saya membayangkan, suatu saat itu akan terjadi di kawasan Raja Ampat, Papua. Konon, kawasan pristine itu sangat indah.

Pada 1823.5 kHz, sejak 2200Z, terdengar sinyal kuat dari YC1COZ memanggil DX sampai saat SR tiba,

NB:
Terima kasih kepada teman-teman yang telah menjenguk -dan berkomentar- di blog saya tentang "Transceiver Baru Elecraft K3 di Cinere".  Hingga larut malam hari kemarin saja, jumlahnya mencapai lebih dari 130 pageviews. Semoga bermanfaat!

2011/3/22 Tarunodjojo
Hi Om Jo,

Tadi pagi saya jg worked VU4PB tapi di 7003/40m..untung saja ga ada orong2 sekitar freq..jadi kalo di 160m banyak QRM, di 40m band CW banyak QRN atau orong2..hihi..

Salam,
Joy/YC0NSI



2011/3/22 Jo, YC0LOW mejawab:
Selamat OM Joy!

Sedikit koreksi tentang istilah QRN adalah gangguan alamiah. Kalau orong-orong yang Anda maksud, tentunya tergolong mahluk bernyawa (=QRM). Maaf, bukan menggurui.

Di 160m tidak ada orong-orong jahil. Mereka sudah jadi pecundang sebelum mulai berperang dengan QRN  :-))

73 de Jo, YC0LOW  

21 Maret 2011

Elecraft K3, Transceiver Baru di Cinere (Maret 2011)

K3 nangkring di atas Acom 1000 di hamshack YC0LOW, Maret 2011
"Transceiver apa yang sangat saya inginkan? Please stay tuned." demikian pertanyaan dalam pesan saya terdahulu (lihat http://topbanddxdiindonesia.blogspot.com/2011/03/sejarah-transceivers-di-yc0low.html


Ini dia! Sebuah high-end radio: Elecraft K3 (lihat Gbr 1 dan Gbr 2).

Gambar 1. Panel depan Elecraft K3. Transceiver modern buatan AS yang telah diakui banyak pihak sebagai yang terbaik untuk LOW bands

Gambar 2. Panel belakang K3
Apa saja keistimewaannya?

Kalau kita mengambil referensi dari buku LOW band DXing oleh John ON4UN, edisi 5, maka transceiver buatan Elecraft, AS, inilah yang sedang naik pamornya. Dalam lima tahun belakangan ini- yaitu saat K2 diluncurkan ke pasar- popularitasnya menonjol dan telah menggeser merek-merek lain (terutama buatan Jepang). Seperti Icom IC-7800, K3 adalah transceiver yang punya fitur dual diversity RX. Spesifikasi main-receiver dan sub-receiver-nya adalah identik.


Kegunaannya? Bila Anda beroperasi secara split (frekwensi TX dan RX terpisah), sub-receiver akan memungkinkan Anda mendengarkan dua frekwensi tsb di saat yang sama. Biasanya, mutu penerimaan audio pada sub-receiver sebuah txcvr akan lebih rendah dari pada main-receiver.


Dengan fitur ini, Anda dapat mendengarkan sinyal yang tertangkap oleh dua antena RX yang diarahkan ke dua mata angin pada saat yang bersamaan. Audio output pada headphone stereo bisa disetel dengan memanfaatkan L dan R speakers.


Dalam pesan saya di blog ini, 17 Februari 2011, berjudul "Merek-merek  HF Transceiver  Favorit untuk LOW Band DXing", lihat: http://topbanddxdiindonesia.blogspot.com/2011/02/merek-merek-hftransceiver-favorit.html jelas tertulis peringkat transceivers yang digunakan oleh para LOW band DXers. Namun, dalam survei yang sama di buku tsb, juga ada Tabel  2-7 "What is the Best Transceiver?" (Chapter 2, hlm 32), sbb:


Transceiver, 160m Total Group (166 respon, dalam prosentase):
- Elecraft K3, 61%
- Ten-Tec Orion, 18%
- Yaesu FT-1000 (D-MP), 10%
- Icom IC-1800, IC-7700, 6%
- Yaesu FT 2000, 3%
- Icom IC756, 3%


Anda juga bisa lihat tabel perbandingannya dengan beberapa merek transceivers pada http://www.elecraft.com/K2_perf.htm#Main%20RX%20Table 


atau Laporan uji-coba oleh ARRL pada http://www.elecraft.com/K3/K3%20QST%20prod%20rev%201.pdf

Reviews dari 130 orang penggunanya dapat dilihat pada 
http://www.eham.net/reviews/detail/6673


Untuk menghemat pengeluaran, saya memesannya dalam bentuk modular kit. Bukan factory assembled. Selisihnya bisa AS $ 250 sendiri! Untuk merakitnya, tidak diperlukan keahlian menyolder. Di YouTube banyak ditemukan video perakitan K3 yang rata-rata memakan waktu sampai 7-11 jam lamanya. Pedoman perakitannya lengkap dan sangat mudah diikuti oleh saya yang tidak punya latar belakang ilmu elektronika.


Modul-modul apa saja yang dipesan dan telah tiba dengan selamat di Cinere, 21 Maret 2011?


Untuk menghindari kesalahan fatal dalam memesan modul, saya lebih dulu berkorespondensi via email dengan beberapa teman top banders di AS dan Inggris. Saya memilih Bill, W4ZV, Dave W5UN dan Pres, N6SS. Ketiganya operator kawakan dari Amerika Serikat. Dari Inggris, saya pilih Ron, GW3YDX. 

Saya anggap mereka dapat memberi saran/petunjuk penting karena mereka adalah pengguna Elecraft K3.


Secara umum, inilah rangkuman saran-saran mereka untuk penggunaan DXing 160m, CW.
  1. Modul-modul K3 bisa dibeli lengkap tapi akan banyak menghabiskan uang. Sebaiknya, dilengkapi secara bertahap karena instalasinya akan sangat mudah (semacam konsep rumah tumbuh di sini -Jo).
  2. Komponen dasar pada modul-modul K3 sudah memberikan keunggulan untuk meredam derau pada topband. DSP-nya dual, 32-bit.
  3. Plot/kurva pada filter-filter RX 250Hz dan 400Hz untuk CW tidak banyak bedanya (lihat http://www.elecraft.com/K3/K3_8_pole_plots.htm Jadi, saya beli  hanya modul KFL3A-200Hz dan KFL3A-400Hz untuk CW.
  4. Modul utama K3/100
  5. Modul KXV3A untuk RX Antenna, IF Out dan Xverter Interface
  6. Modul K3SSKT, Hardware kit Stainless Steel (saran dari Pres, N6SS) yang akan membuat casing transceiver tahan karat (siapa tahu QRV di pantai -Jo).
Saran terbaik datang dari Ron, GW3YDX, pemilik Vine Antennas, UK, agar saya tidak memesan modul KAT3-F, automatic antenna tuner (US$ 339.95). Selain harganya mahal, Ron menyatakan bahwa linear amplifier Acom 1000 (barang tsb sudah tiba di Cinere, dua minggu lalu) akan secara otomatis memberi nilai SWR yang rendah.


Pemesanan dilakukan secara langsung via internet. Dukungan pelayanan dari bagian penjualan di Elecraft sangat baik. Mereka minta data secara lengkap untuk pencatatan pengguna K3 di seluruh dunia. Dan, selalu menginformasikan proses di pabriknya sampai dengan pengiriman udara via USPS yang insured dan trackable via internet.


Modul-modul untuk operasi moda SSB dan/atau digital, seperti microphone, filters dll, saya coret dari daftar karena sama sekali tidak berminat main di situ. Demikian pula dengan komponen kabel USB-to-Serial dengan FTDI chipset - yang sudah saya miliki, sehingga banyak penghematan yang berarti.


Bukankah peribahasa menyatakan bahwa hemat pangkal kaya?

Lihat juga  http://topbanddxdiindonesia.blogspot.com/2013/08/saran-pembelian-modul-modul-transceiver.html

18 Maret 2011

Topband 18 Maret 2011 (WIB)

Pagi ini (WIB) ada pembukaan yang lumayan pada topband (160m). Sinyal John, OZ1LXJ, dari kejauhan (QRB 10.936 km, QTF 325°) masuk ke Cinere dengan mutu "armchair copy" (2218z). Demikian pula sinyal UX3MZ (QRB 8904 km, QTF 321°) pada 2243Z. Keduanya masuk log saya.

Juga terjaring UA4YA (2219Z), UR5IAW (2226Z). Dua stasiun yang berusaha menjalin QSO namun saya sulit  terima callsign-nya adalah R1AUx dan SP3Bxx.

John, OZ1LXJ juga mengirim spot untuk YC1COZ, sbb
2237 oz1lxj 1823.5 YC1COZ CQ

Tnx es 73 de Jo, YC0LOW

17 Maret 2011

Linear Amplifer Acom 1000 Tiba di YC0LOW

Saya merasa sudah saatnya beberapa peralatan di stasiun YC0LOW diremajakan.  Salah satunya adalah HF linear amplifier Tokyo Hy-Power HL-2K yang sejak Januari 1995 saya gunakan (lihat Gambar 1). Alat ini saya beli bekas dari seorang teman DXer lama. Kondisinya yang terawat dan saya kenal dengan pemiliknya yang resik membuat saya yakin membelinya. Ternyata, memang terbukti, hingga 2011, saya masih merasa percaya diri dalam menggunakannya (legal limit).
Gambar 1. HF linear amplifier Tokyo-Hy-Power HL-2K


Penguat ini menggunakan sepasang lampu tabung 3-500Z, dan bekerja dari 160m sampai 10m dengan baik. Namun sekitar tiga tahun yang lalu, trafo tegangan tingginya korslet dan dari pabriknya saya dapat kabar bahwa mereka sudah tidak lagi memiliki stok trafo-nya sehingga saya harus memesan trafo baru yang digulung di Glodok, Jakarta. Terakhir kali saya mengganti tabungnya (matched pair) adalah setahun yang lalu bersamaan dengan mengganti modul orisinal High Voltage-nya dari THP, Jepang.

Sayangnya, dimensi trafo menjadi lebih besar dan tidak masuk ke kompartemen alat tsb sehingga harus saya buat terpisah dengan unit aslinya. Walau kinerjanya baik, tapi kepraktisan transportasi pada saat QRV di luar rumah jadi merepotkan. Dua buah kotak harus digotong kemana-mana.


Agak lama saya memilih linear amplifier penggantinya karena disibukkan dengan pekerjaan harian sampai kemudian pilihan saya dijatuhkan ke Acom 1000 baru. Sebuah produk yang lebih mutakhir dan menggunakan 'sebatang' lampu 4CX800 (GU74B). Kalau membaca product review-nya pada e-ham.net maka keputusan saya untuk membeli produk ini menjadi terakselerasi. Salah satu kelebihannya adalah, penguat ini dapat dioperasikan untuk 6m (lihat Gambar 2).
Gambar 2. Acom 1000, buatan Bulgaria
Kemarin sore (16/04), bayi yang cantik ini tiba dengan selamat di Cinere.  Barang baru ini dibeli dari Vine Antenna di Wales, Inggris, milik Ron Stone, GW3YDX, seorang topbander utama di GW3-land
GW3YDX adalah stasiun yang memberi saya konfirmasi 160m dari Wales

Berhubung masih sibuk bekerja, saya bahkan belum sempat membuka kotak kartonnya. Mungkin saya akan punya waktu untuk menginstalasinya pada akhir pekan ini.

2011/3/17 arnold ap;yb2emk_arnold@yahoo.co.id;
imho. Om Jo, siap-siap dengan 4cx800 aka GU74B, mulai langka (cek di web) dan sesuai hukum supply and demand menjadi mahal, case-nya akan menjadi sama dengan 8875, 3cx800. Saran saya mumpung masih belum terlalu mahal mulai spare matched pair-nya GU74B. Saya juga pakai valve itu di Alpha 91b....:-)
Salam
arnold


2011/3/18 Jo, YC0LOW®
Yth OM Arnold,
Terima kasih atas sarannya.
73 de Jo, YCØLOW

11 Maret 2011

Sejarah Transceivers di YC0LOW

Sejak menjadi anggota Orari pada 1993, saya hanya menggunakan tiga merk transceivers, empat model, yaitu Icom IC-735 (1993), Kenwood TS450-AT (1995), Yaesu FT-1000MP (vintage, 1997) dan Icom IC-746Pro (2006).
Gambar 1. Icom IC-735, Transceiver hebat pertama yang saya miliki (1994).


Gambar 2. Panel belakang IC-735. 

Icom IC-735 saya pilih karena memiliki fitur RX antena tersendiri. Radio itu saya lengkapi dengan CW filter 250 Hz. Pada awalnya, banyak saya gunakan untuk DXing di HF. Hasilnya sangat memuaskan sehingga sejak itu hidup saya 'teracuni' olehnya (lihat Gambar 1 dan Gambar 2).

Kemudian, saya membeli Kenwood TS-450AT (lihat Gambar 3) di Jakarta. Transceiver ini banyak saya gunakan untuk SSB DXing pada  band-band 80, dan 40m. Kinerjanya luar biasa dengan adanya DSP-100. Namun, amat buruk pada 160m, CW. Karena DSP-100 (lihat Gambar 4) bukanlah DSP yang dirancang untuk mereduksi noise melainkan hanya untuk membatasi pass-band, membentuk CW, membersihkan audio transmit dan receive.

Gambar 3. Transeiver kedua adalah Kenwood TS-450AT

 Gambar 4. Sebuah DSP=100 yang saya gunakan dengan transceiver di atas

Ketika saya membeli Yaesu FT-1000MP di Ham Radio Outlet, Anaheim, CA, AS (1997) (lihat Gambar 4), tidak ada penambahan apa-apa sampai saya membaca adanya roofing filters dari INRAD untuk tipe tsb. Lihat: http://www.inrad.net .

Gambar 4. Transceiver ketiga: FT-1000MP juga dilengkapi dengan desk mic (kiri) dan FH-1 (kanan)


Pemesanan filter tambahan dari Inrad AS dilakukan beberapa bulan setelah transceiver tsb saya gunakan di Cinere. Ini saya lakukan karena sudah mulai bercumbu dengan topband.

Boleh dibilang, inilah transceiver yang mengantarkan saya mengenal lebih jauh apa topband (160m) itu. Secara praktis, FT-1000MP ini tidak pernah saya gunakan pada band-band lain dan/atau mode lain kecuali 160m/CW. Dengan inilah saya bisa mengumpulkan kartu QSL untuk mengklaim DXCC 160m Award.

Gambar 5. Icom IC-746 Pro yang mungil namun lengkap fiturnya
Penggunaannya berangsur-angsur surut ketika saya membeli Icom, IC-746Pro (lihat Gambar 5) dari SunEast Ltd di Singapura (2006). Selain ingin mencoba barang yang lebih baru, transceiver ini banyak direkomendasikan oleh teman-teman topbander di seluruh dunia! Menurut mereka, filter-filter digitalnya amat bervariasi dan sudah built-in sehingga bisa hemat tanpa perlu membeli add-on apapun.

Semua rekomendasi ternyata benar adanya. Saya amat menikmati kinerja teknologi DSP 32-bit yang membuat receiver-nya bekerja baik di kerajaan derau 160m.

Transceiver apa yang selanjutnya sangat diinginkan? Please stay tuned.

04 Maret 2011

Perbedaan-perbedaan antara Band-band 40m, 80m dan 160m

Low Bands didefinisikan meliputi 40m, 80m dan 160m. Propagasi di antara band-band tersebut amat berbeda.

Dalam buku LOW Band DXing, edisi 5, ARRL, 2010, Bab 1, halaman 52, John, ON4UN, menulis ringkasan perbedaan tiap band, termasuk karakter propagasinya. Berikut terjemahannya:

40m.
* Seperti band HF yang kondisinya sangat baik pada malam hari (band ini hampir mirip dengan VHF bagi seorang topbander!)
* Prakiraan propagasinya bisa diselesaikan dengan menggunakan program-program klasik yang berbasis MUF (maximun usable frequency)
* Propagasi grayline juga terjadi sepanjang garis terminator - seperti yang terjadi pada band-band HF yang lebih tinggi.
*Zona gray line bisa mencakup kawasan yang sangat luas (selama berjam-jam bahkan di medium latitudes)
* Pembelokan (skewed) sinyal tidak sebanyak yang terjadi pada band 80m dan lebih lagi pada 160m.
* Band 40m memungkinkan Anda bekerja DX mencapai jarak/arah ke mana saja, bila peralatannya memadai.

80m.
* Dengan peralatan yang memadai di kedua stasiun maka dapat menjangkau jarak dan arah ke mana pun pada saat-saat yang tepat tiap tahun.
* Selama masa sunspot yang rendah, propagasi pada band 80m sangat dipengaruhi oleh MUF
* Propagasi gray line yang amat bagus selalu terjadi pada arah yang tegak lurus terhadap garis terminator.
* Bekerja DX melalui sabuk aurora (auroral belt) adalah sesuatu yang biasa, bahkan pada tahun-tahun sunspot yang tinggi.

160m
* Propagasinya tidak dipengaruhi oleh MUF, dan hanya secara marjinal dipengaruhi oleh siklus matahari (solar).
* Selain ada fenomena aurora, belum diketahui secara persis apa yang menyebabkan baik atau buruknya DX pada malam hari. Misteri masih merupakan bagian terbesar dari top band!
* Absorbsi/penyerapan oleh aurora sangat lazim terjadi pada band 160m.
* Pembelokan (skewed) sinyal sering terjadi
* Propagasi gray line yang amat bagus selalu terjadi pada arah yang tegak lurus terhadap garis terminator.
* !60m memiliki area khusus di mana untuk bekerja DX adalah mudah - yaitu kawasan sekitar 5000km dari QTH Anda. Sebagai contoh, Eropa barat bisa mudah bekerja dengan pantai timur AS tiap hari. Zona gray line yang abu-abu adalah W5, W8 dan W9. Sedangkan W0 adalah lebih gelap dari abu-abu. Untuk kawasan di luar itu, kondisi propagasi harus lebih baik di atas rata-rata. Ini berbeda dengan 80m, di mana jarak yang lebih jauh masih mungkin bisa dicapai tiap hari - atau peralihan kondisi propagasi antara "mudah" dan "susah" sepertinya lebih tersamar.
* Long path yang istimewa ( yaitu, tanpa ada pembelokan sinyal) pada band 160m adalah pengecualian, kecuali untuk stasiun-stasiun yang berada dekat dengan antipodes, dan hanya terjadi pada masa siklus sunspot yang rendah.
* Bila propagasi band 80m terbuka, tidak ada jaminan bahwa 160m akan terbuka juga. Namun, bila band 80m buruk, maka band 160m pun buruk. Jadi, jangan pernah mengekstrapolasikan kecenderungan dari high bands ke band yang lebih rendah, karena hasilnya tidak akan pernah sesuai.
* Secara tipikal, pada band 160m ada QSB yang pelan tapi dalam, terutama pada jarak yang marjinal. Disarankan supaya bisa membaca callsign lawan pada kesempatan awal QSO. Mungkin tak akan ada kesempatan kedua atau -kalau pun itu ada- akan terjadi pada beberapa menit kemudian. Saya jarang mengalami hal ini pada band 80m. Kesabaran adalah yang utama. Anda mungkin harus menunggu lama sampai puncak propagasi terjadi pada Anda.
* Saat siklus sunspot yang rendah, band 160m biasanya meberikan puncak propagasi pada sunrise (terkadang juga sebelum tengah malam), utamanya untuk long path yang terjauh, dan ketika kedua ujung path berada di garis terminator. Sangat sering kita saksikan adanya sinyal yang memuncak pada masa sunrise. Adapun pada sunset, lebih jarang terjadi. Yang ada, biasanya pembukaan yang lebih melebar dalam waktu satu jam setelah matahari tenggelam.
* Pada band 160m, gejala skip seringkali pada area tertentu saja.
* Bekerja DX melalui lingkaran aurora adalah sangat sulit (atau bahkan tak mungkin) dilakukan pada band 160m.
* Daya pukau bekerja dengan stasiun baru (new one) pada band 160m adalah bernilai sepuluh kali lipatnya dari pada band 80m!

Ayo, band mana yang hendak Anda tekuni?

01 Maret 2011

Tambahan Negara DXCC pada 160m

Sambil iseng, saya mencoba merekapitulasi beberapa tambahan negara DXCC pada 160m.Pada, April 2008, saat klaim award DXCC 160m, saya menyertakan 104 buah kartu QSL ke biro DXCC ARRL di AS.

Lihat: http://topbanddxdiindonesia.blogspot.com/2008/04/klaim-award-dxcc-160m-19-april-2008.html

Negara-negara tambahan yang kartu QSL-nya sudah berstatus CFM adalah sebagai berikut:

1. 9M0M Spratly Islands, 06 Maret 2010
2. E77DX   Bosnia Herzegovina, 30 Desember 2010
3. FK8CP, New Caledonia, 09 Januari 2010
4. TX3A, Chesterfields Island, 14 November 2009,
5. VK9GMW, Melish Reef, 20 Maret 2009


Dari stasiun-stasiun di atas, hanya FK8CP yang paling sulit, karena  sun rise-nya tiba di saat kita di WIB sedang ngantuk berat. Remi, operatornya menyukai operasi QSX DWN hingga 10 kHz. 


Sinyal 160m dari Pasifik (arah timur Cinere) adalah yang paling sulit di-copy.

Kartu QSL 160m dan 40m CW dari 9M0M
Saya masih tunggu beberapa buah kartu QSL dari entitas DXCC yang berbeda.

25 Februari 2011

Antena TX /RX Terbaik untuk LOW Band Dx-ers

Lagi, saya ingin berbagi informasi tentang data dalam buku John, ON4UN, LOW Band DXing, edisi 5, ARRL 2010. Kalau dalam tulisan sebelumnya ada data mengenai transceiver favorit (bukan "terbaik"), maka saya sampaikan dulu data survai antena TX terbaik yang didapat dari 379 responden.


Untuk singkatnya, disajikan hanya data yang untuk 160m saja. Toh ini blog 160m  :-))


Adapun band-band lain (80m dan 40m) saya kesampingkan dulu. Namun, supaya tidak kecewa, serta-merta saya kutip utuh data tentang antena penerima (RX) 160m yang terbanyak dipakai, sebagai berikut:


Antena TX, Prosentase
Vertikal, 57%
Dipole, 21%
Half Sloper, 10%
Vertical Array, 7%
TX Loops, 4%
Sloping Dipole, 2%
Yagi, Quad, 1%
Horizontal Array, <1%
Antena TX lain, 6% (tidak dirinci jenisnya -Jo)


Antena RX, Prosentase.
Beverage, 39%
RX Loops, 29%
RX Array, 6%
Antena RX lain, 5% (tidak dirinci jenisnya -Jo)


Yang sama sekali tidak menggunakan antena RX, 31%


Dalam paragraf 20.4.4, John menyimpulkan bahwa jenis-jenis antena yang digunakan pada LOW bands tidak banyak berubah selama lima tahun terakhir ini. Bedanya, himpunan antena (antenna arrays) penerima  (RX) yang terbuat dari elemen vertikal yang pendek telah membanjiri pasaran - termasuk tersedianya 4-square array yang kinerjanya baik namun dengan harga yang terjangkau

19 Februari 2011

SDR (Software Defined Radio), Kehadirannya Menjadi Kontroversi

"Web SDR (software defined radio) adalah sebuah web penerima sinyal radio dengan software(s) yang terhubung dengan internet yang memberi keleluasaan bagi banyak pendengar radio untuk bisa sekaligus menyimak bunyi dan menala penerimaannya", demikian sekelumit definisi SDR yang ada pada preambule http://www.websdr.org/


Teknologi SDR telah memungkinkan semua penggunanya untuk tune secara independen dan bisa secara simultan menerima sinyal-sinyal yang berbeda.  Hasilnya sangat kontras dan berbeda dengan hasil banyak radio penerima klasik yang juga terhubung dengan internet.


Bulan Februari 2011 ini, pada Top Band Reflector, SDR dikupas habis oleh kalangan top banders. Ada yang pro dan kontra terhadap kehadirannya. Mengapa?


Ternyata, penggunaannya yang makin meluas di kalangan topbanders telah menimbulkan ekses negatif karena banyak dari pendatang baru di band tsb (mereka yang tidak sabar untuk menaiki tangga DXCC) secara berjamaah menggunakan fasilitas SDR tsb untuk menjalin 160m QSO 2-arah. Tentu saja hal tsb dianggap curang.


Kalau sebelumnya rangkaian elektronik SDR dibuat terhubung dengan transceiver, sekarang tidak perlu lagi. Sistem SDR paling mutakhir tidak lagi membutuhkan soundcard pada sebuah PC untuk memproses sinyal - apalagi perlu hardware DSP. 

Silakan cek transceiver FlexRadio (www.flex-radio.com) dan/atau rangkaian penerima Perseus, SDR-IQ dan SDR-14.


Gbr. 1. "Though small we are mighty". SoftRock SDR (photo courtesy of SoftRock)
Board Softrock SDR buatan Tony, KB9YIG (Gbr.1, atas) hanya berisi komponen-komponen utama seperti tiga transistor dan empat buah Integrated Circuits (IC). Board ini dihubungkan dengan antena penerima pada sisi input dan di sisi lain (output) ke input stereo, dengan port USB, dari sound card Anda. Tentu saja, ada koneksi ke catu daya 12 VDC. Kit SoftRock dijual untuk berbagai band amatir dan juga BC.


Kombinasinya dengan software pengendali dan sound card berkwalitas baik, maka akan didapat bandwith luas dan hasil penerimaan yang fantastis.

Gbr. 2. Panel depan kotak SoftRock v.160m. Jack Stereo untuk LINE-IN

Gbr. 3. Board SDR SoftRock v.160m warna hijau, atas, menuju ke konektor BNC untuk antena RX.







 
Saya masih menyimpan dengan baik sebuah SDR kit board buatan Tony yang factory assembled (lihat Gbr. 2, 3, atas), Hingga saat ini belum dicoba secara intensif. Insyaallah, dalam waktu segera. OM Nyoman, YB1NWP, membantu saya untuk mengecek alat tsb (lihat Gbr. 4).


Pada tahun 2006, saya pernah menulis di milis OrariNews tentang Softrock 160m. Anda dapat melihat tautannya pada


http://topbanddxdiindonesia.blogspot.com/2008/02/re-softrock-160-receiver-kit-jumat-juni.html  dan
http://topbanddxdiindonesia.blogspot.com/2008/02/softrock-160-receiver-kit-selasa-juni.html


Gbr. 4. Nyoman, YB1NWP, sedang mencoba produk Softrock di QTH-nya (Feb 2011)
Bagi teman-teman yang mau dengar QSO 160m, CW dan SSB, melalui web SDR, silakan coba mengunjungi web-nya. Pilih situs yang sistem SDR-nya paling dekat dengan kawasan yang hendak Anda pantau


Pada web SDR milik WB4MAK (menggunakan SoftRock), Anda bisa mendengar -dan bahkan MELIHAT-  di notebook Anda, betapa band 160m penuh dengan stasiun AS yang ngobrol dengan SSB, seharian. Lalu, pada saat SunSet, usai maghrib, WIB, Anda bisa tiap hari dengar banyak dan lihat sinyal CW dari AS yang memanggil DX. Panggilan tsb belum tentu bisa didengar oleh kita dengan sistem/set-up transceiver yang konvensional (tanpa SDR).


Majulah teknologi digital
Malulah para pecundang di Top Band...


2011/2/23 daryono daryono YC1CYD
Selamat siang Om Jo,
Saya tertarik dengan SDR anda , bagaimana performansinya dibanding RX yang konvensional?
Mohon penjelasan tentang kontroversialnya SDR , apakah yang Web SDR  ?
Saya pernah beberapa kali monitor lewat Web SDR ( Universitas U Twente dan yg lainnya)
untungnya suara Iwak Iwak yang di 3770kHz nggak terdengar sampai sana....
Memang luar biasa wb sdr tsb , satu receiver bisa digunakan rame2 di frekuensi/band yang berbeda beda.
Salam,
Daryono



2011/2/23 Jo, YC0LOW menjawab:


Yth OM Daryono, YC1CYD
Penerimaan dengan SDR tentu jauh lebih baik ketimbang RX yang konvensional. Itu yang saya dapati pada band 3,5 dan 7.0 MHz. Untuk band 1.8, saya harus tambahkan ruang lingkup frekwensinya dalam .INI file-nya dan merubah
oscilator-nya. Saya sedang belajar merubah setting-nya

Kontroversi penggunaan SDR utamanya ada di lingkungan
topbander puritan. Mereka percaya komunikasi terestrial, point-to-point. Agak masochist, memang.

Keberatan utamanya adalah banyak pemakai stasiun SDR yang
(un-registered) berhimpun dan secara curang melakukan QSO dua-arah dengan teknologi tsb. Kartu QSL tetap dipertukarkan dan digunakan untuk klaim award DXCC.

Isi peraturan DXCC #9 sendiri juga ambigu. Dinyatakan di sana bahwa
" Lokasi tiap stasiun akan juga dianggap sebagai lokasi dari pemancar." Bagi sebagian orang kalimat tsb tidak jelas karena TIDAK mencantumkan istilah "penerima" (receiver). Bukankah sebaiknya kalimat lengkapnya adalah "Lokasi tiap stasiun akan juga dianggap sebagai lokasi dari pemancar dan penerima, dan jarak antara pemancar dan penerima adalah tidak lebih dari xx meter"

Tapi, teknologi digital tidak bisa dibendung. Yang diperlukan adalah etika dalam berkomunikasi dan cara yang jujur dan adil untuk mendapatkan kartu QSL - apalagi untuk klaim
award.

Bagi DX
SWL-er teknologi SDR amat membantu mereka dalam beraktifitas dalam hobinya.

Beberapa hari yang lalu, saya lihat di layar web-SDR ada identitas YG8TUX sedang memantau band amatir 40m.

Tnx es 73 de Jo, YC0LOW





18 Februari 2011

Mengapa Anda Memilih LOW Bands untuk Bekerja DX?

Lihat kolom kanan dengan garis bawah kuning. 
Klik gambar untuk memperbesar
Salah satu isu yang menarik dalam isi buku LOW Band DXing oleh John, ON4UN, edisi kelima, adalah himpunan tanggapan terhadap pertanyaan survai "Mengapa kami memilih untuk bekerja DX pada LOW bands?"


Sebenarnya, ini pertanyaan retorika. Jawaban untuk itu sudah dimuat pada buku edisi keempat terbit, 2009. Sebab, selalu dicantumkan dalam tiap survei bersama pertanyaan-pertanyaan lain. Namun, pada buku edisi kelima, 2010, ada beberapa tambahan komentar yang unik dan 'nakal'. Hampir dua halaman penuh digunakan untuk memuat ratusan pendapat!


Saya sangat gembira ketika semalam, saya menemukan bahwa jawaban saya dan juga jawaban Jorge, YB1AQS (hanya kami berdua dari YB-land) dikutip dalam buku hebat tsb (lihat gambar atas).
Add caption

Karena keterbatasan ruang - dan kemampuan cekak saya dalam menerjemahkan kalimat/idiom dari Inggris ke Indonesia) maka hanya dipetik beberapa saja dalam bahasa Inggris, dan identitas nara sumbernya, sbb:
* Excellent bands for a night owl like me (DF3KW)
* Unpredictable propagation on 160m (N2NT)
* Takes more patience and skill (K4LTA)
* It's not so easy (PA3AAV)
* To join the gentlemen's league on Top Band (DL7ZZ)
* Top Band teaches me to become a patient person (YC0LOW) - lebay amat gak seeeh?

* Because I'm a masochist, Top Band is exciting! (SV3RV)
* More challenge, less lids (N2LQ)
* DXing on the high bands is like shooting fish in a barrel (K7FL)
* I love  a good "static salad" (K1UO)
* On 160m, CW shines (VO1NA)
* Pushing the operators and the station to the limits (N4KG)
* Top Band: no nets, no lists, no deliberate QRM, moving on the edge, alone with QRN (IV3PRK)
* Why do you climb mountains? 160m is the highest mountain with no worn path (K0HA)
* I think I was dropped on my head when I was a baby (K4SB)
* To make the impossible possible. 160 DXCC from the worst place on earth (YB1AQS) - setahu saya impian Jorge belum mewujud.

*160m is more a gentleman's band. Lids are too lazy to fight QRN (W9WI)
* It helps to be insomniac (W8RU)
* Operating skill as important as hardware (K2RD)
* Because anyone can work DX on high bands (W0GJ, W1JZ, VE7ON dll).
* It's the only challenge left (K2UO)
* Success is not automatic (K4TEA)
* On the LOW bands, success comes from the knowledge, NOT money (K1VR)*
* Easy things are for everyone (RA3AAU)


dan masih banyak lagi. Bagaimana tanggapan Anda? Mengapa Anda juga memilih DXing pada LOW bands - terutama 160m?


Silakan menulis komentar Anda.

17 Februari 2011

Merek-merek HF Transceiver Favorit untuk LOW Band DXing



Kemarin, saat libur Maulid Nabi Muhammad saw, saya menerima buku Low Band DXing, edisi kelima, ARRL 2010.  Buku tebal yang menjadi kitab suci banyak operator LOW band ini, konon akan menjadi edisi terakhir dari penulisnya John, ON4UN (lihat gambar bawah).

LOW Band DXing, Edisi 4
LOW Band DXing, Edisi

Isi buku tentu saja merupakan pemutakhiran dari isi pada edisi-edisi sebelumnya. Gambar sampulnya saja sudah menampakkan wajah penulisnya yang makin tua, tapi tetap semangat.

Yang istimewa dalam edisi ini adalah lebih banyak uraiannya mengenai isu-isu: antena penerima (RX), phased array. peta propagasi. Software Defined Radio (SDR) dan LP-500 Digital Station Monitor.

Salah satu bagian buku yang paling menarik perhatian saat awal membukanya - dan saya ingin berbagi dengan pembaca blog ini - adalah hasil survei merek-merek transceiver yang digunakan oleh LOW band DXers, wa bil khusus 160m.

Ada 397 stasiun yang aktif pada 160m (mereka sudah memperoleh setidaknya 225 negara DXCC), yang menjadi responden survei yang menggunakan 493 berbagai merek rig.  

Peringkat favorit transceiver yang digunakan oleh operator topband adalah, sbb:

- Yaesu FT1000 (D-MP): 26%
- Elecraft K3: 13%
- Icom 756: 12%
- Ten-Tec Orion: 9%
- All other Kenwood: 8%
- All other Icom: 7%
- Yaesu FT 2000: 6%
- Icom IC-7800, IC-7700: 5%

Peringkatnya nyaris serupa untuk band-band 80m dan 40m. Penjelasan kualitatif tentang peringkat ini sangat lengkap sehingga kita bisa menganalisisnya lebih dalam.

Dalam surveinya, John, ON4UN, mengirim pertanyaan: "Transceiver apa yang, menurut Anda terbaik untuk LOW Bands?" Tony T77C, menjawabnya secara tegas: "Telingaku".

Jadi, enggak perlulah buru-buru beli Elecraft K3 yang bisa RX dual diversity...

2011/2/19 hendro s.joedho
OM Jo,

Kalo edisi terbaru dari satu penerbitan banyak gak sih hal yang barunya ?
ARRL Handbook edisi tahun 80an pasti beda jauh ya dengan yang tahun 2000an misalnya, tapi kalo yang cuma beda setahun mungkin cuma sedikit saja kali ya ?

73
hen-yc0qr


2011/2/19 Jo, YC0LOW®
Yth OM Hendro,
Kalau buku Low Band Dxing edisi 5, mnrt saya lumayan banyak bedanya dengan edisi 4. Apalagi ini merupakan buku terakhir yang ditulis John.
Kebetulan saya koleksi dari edisi 3.
Contohnya, tambahan pada edisi 5 meliputi: pembahasan yang lebih dalam tentang berbagai RX antena, phased array, peta baru propagasi berbasis DX Atlas, SDR dan LP-500 Digital Station Monitor.
Juga ada kutipan pernyataan saya tentang Topband :-)

Tnx es 73 de Jo, YCØLOW


Sun, 20 Feb 2011 11:07:52 +0800 (SGT)
OM Jo,
Bukunya ON4UN yang saya punya lupa edisi ke berapa, tapi yang pasti ada keterangan bahwa QSO pertamanya dg YBland di 160M dengan YC0LOW dan di 80M dengan YB0WR.
Kalo gak salah saya beli tahun 2007-2008 dulu.

73 es GL
de yc0qr

 
2011/2/20 Jo, YC0LOW®
OM Hendro,
Buku yang Anda beli itu edisi 4.
Pada saat itu, saya juga kaget mengetahui bahwa John, ON4UN, belum CFM qso 2-arah, cw dengan Indonesia di Top Band (160m).
Segera saya kirim kartu QSL kepadanya dan memesan langsung bukunya yang edisi 4.
Kemudian, John membalas kartu saya dan menuliskan pesan pribadi untuk saya dan menandatanganinya di halaman awal buku.

Tulisan tangan John, ON4UN untuk saya pada halaman awal bukunya, Edisi 4

Sebuah buku koleksi yang juga berharga - dengan tulisan tangan - saya peroleh dari Jeff, K1ZM, penulis buku "DXing on the Edge, The Thrill of 160 Meters", ARRL. Buku tsb merupakan cinderamata untuk saya saat dia jumpa Jorge, YB1AQS, di Top Band Dinner, Dayton AS, 1998.

Tukar-menukar barang antarsahabat memang menyenangkan dan mudah. Yang sulit dan bikin risau adalah tukar laporan RST pada Top Band itu sendiri :-))

Tnx es 73 de Jo, YCØLOW
Sent from my BlackBerry®

2011/2/20 hendro s.joedho
   

OM Jo,
Senang banget punya koleksi buku  dengan asli tandatangan penulisnya apalagi memang buku itu juga isinya tentang hobi kita.
 

DXing On The Edge, saya juga punya tapi isinya belum begitu menarik buat saya, CD yang dilampirkan isinya rekaman QSO di 160M, kalo gak salah. HI.

Saya juga punya beberapa buku non radio yang ditandatangani penulisnya, juga ada yang ditandatangani oleh "lakon" dalam buku itu karena penulisnya orang lain (biografi).

73 de yc0qr



2011/2/21 Jo, YC0LOW®
Yth OM Hendro,
Sepengetahuan saya, hanya buku Jeff, K1ZM, yang isinya spesifik 160m yang diterbitkan ARRL.

Buku John, ON4UN, masih lebih umum karena meliput LOW bands.
Namun, Anda benar. Buku Jeff tidak semenarik buku John. Karenanya, banyak operator menyebut buku LOW Band DXing sebagai kitab sucinya.
Koleksi buku sudah sama nih. Impian DXing pada 160m pasti bisa diwujudkan. 
Ayo, OM Hen. Ditunggu segera di Top Band, ya! 
73 de Jo, YCØLOW

2011/2/22 hendro s.joedho
  OM Jo,
Jangankan 160M yang tantangannya masih terlalu banyak buat saya, yang fasilitas (antenna, rotator, tower dll) sudah ada belum sempat saya pasang karna belum ada space utk "operating desk", HI HI.
Maklum rumah type RSSSSS...., padahal waktu di Makassar dulu halaman depan/belakang memadai, malahan ada tower tinggi menara air utk kompleks begitu juga ruangan utk pasang radio sangat memadai, grounding system cuma dibalik jendela saja.
Masih harus sabar.
73 ycoqr

05 Februari 2011

Laporan dan Evaluasi YE1C, 2011 (dengan foto-foto dan statistik baru)

Dua menara menjulang di G. Malang. Di sanalah YE1C dioperasikan  pada CQWW 160m CW Contest, Januari 2011. Skor akhirnya merupakan rekor baru di Indonesia.

Di bawah ini disampaikan rangkuman data dan evaluasi kegiatan YE1C selama kontes CQWW 160m CW, 2011 dari Gunung Malang (+1050m ASL), Ciater, Jawa Barat, lengkap dengan beberapa foto (oleh Jo, YC0LOW) dan grafis statistiknya (oleh Joz, YD1JZ).


Bila dianggap perlu untuk memperjelasnya, atas nama tim YE1C, saya tuliskan komentar/saran dan perbandingannya dengan hasil YE1C di kontes yang sama, 2010, ditulis di dalam tanda kurung (*).


Analisis dan laporan uji-coba DX dan peralatan YE1C di masa pra-kontes sudah lebih dulu ditulis dan dimuat secara bersambung dalam milis OrariNews


1. Data


a. QSO= 289 (323).
b. Skor= 172.935 (166.314).
Ada peningkatan karena bertambahnya multipliers


c. Countries= 54 (48).
Peningkatan dalam jumlah Countries. Apabila tidak ada duplikasi dalam perolehan pada 2010, maka YE1C adalah satu-satunya stasiun kontes Orari yang bisa klaim award 100 DXCC 160m CW ke ARRL.


d. Terjaring 18 stasiun dari AS (21): dari UT, NV, WA, CA, MT, AZ. (AZ, CA, HI, TX, NV, WA, AK). Beberapa stasiun dari AS adalah stasiun kontes. Mereka pasif dalam QSLing. Sebaiknya, YE1C mengirim kartu lebih dulu untuk melengkapi koleksi 160m Orari Daerah Jabar. Contoh, stasiun dari UT, TX, AK, NV adalah langka terdengar di tanah air.


Berkurangnya jumlah QSO dengan stasiun AS adalah karena kondisi propagasi yang lebih buruk dibanding 2010. Di hari-hari kontes, justru tidak ada Sun Rise enchancement – suatu fenomena alam yang amat dirindukan Topband DXer.


2. Propagasi


Selama kontes, propagasi ke JA-land memburuk secara drastis. Amat beda dengan kondisi 2010 (122 stasiun), 2011 (24). Bila saja pada 2011 YE1C bisa menjaring 50% saja dari jumlah stasiun JA pada 2010, maka hasilnya pasti makin sulit dipecahkan oleh stasiun lain dari Indonesia. Ini memberi peluang bagi stasiun kontes lainnya di Indonesia dalam memecahkan rekor YE1C dua tahun berturut-turut.


Dari data jumlah QSO harian di bawah ini dapat disimpulkan kondisi propagasi selama kontes:
a. Hari-1: 9 (32).
b. Hari-2: 201 (180)
c. Hari-3: 79 (117)


Perolehan skor yang lebih besar, dapat dicapai di saat propagasi yang buruk tahun ini, karena YE1C telah memberi perhatian khusus untuk menginstalasi sembilan buah antena RX (3 Beverage, 1 4-square. coax loop) di lahan luas yang strategis, ideal dan senyap dari derau (noise) di Gn Malang. Juga ditunjang oleh beberapa faktor lain, seperti:


1. Fitur pada Icom IC7800 (built-in digital rx filters, 4 buah rx inputs, dll).
2. HF Linear Amplifier Emtron-DX3 (legal limit) yang bekerja tanpa rewel
3. Homemade antena TX dipole dengan tinggi feedpoint ideal
4. Sumber Daya Manusia – terutama anggota Lokal Bekasi (eks-tim YE1ZAT), yang andal dalam set-up (peralatan RF, listrik, accesorries, komputer).
5. Persiapan yang cukup untuk pemasangan, orientasi, re-orientasi dan evaluasi kinerja antena tx/rx
6. Operator CW yang pengalaman (kalem tapi "horny" akan intermod tone CW, hi-speed, 25-38 WPM)
7. Paham mekanisme dasar propagasi 160m, penggunaan softwares, analyser dan alat bantu modern berbasis Teknologi Informasi.
8. Dukungan anggota Orari yang datang ke lokasi (dari Lokal Subang, Lokal Bandung, Lokal Bekasi, dll). Ada pula yang rela membantu memperbaiki kerusakan kecil pada antena RX kami secara prodeo (TNX Buce YC1BAH, Nyoman YB1NWP dan Aris, calon anggota Lokal Bekasi)


Gambar 1. Beberapa kotak distributor/switch  antena RX di atas IC-7800.

3. Evaluasi Antena-antena RX.


a. Reversible Beverage buatan KD9SV,

Gambar 2. Feed transformer antena reversible Beverage. Latar belakang adalah kebun selada yang baru ditanami

Pertama kali dicoba di Indonesia. Pemasangannya praktis karena feedpoint transformer (lihat Gambar 2) untuk dua arah dapat didirikan pada titik yang sama. Terletak 147 meter dari feedpoint antena TX jenis dipole.


Kawat antena menggunakan twisted pair WD-1A (kawat telepon yang dipakai tentara AS di Eropa dalam Perang Dunia II) direntang ke arah 330 derajat dan sekaligus ke 150 derajat (Eropa dan VK/ZL).


Panjang kawat 238m, di ujung jauhnya dipasang sebuah reflection transformer. Tinggi sekitar 1m. Feed transformer terletak 154m dari antena TX. Jadi, panjang coax feedline RG-6U (75 Ohm) harus dilipatduakan agar dua antena terhubung ke hamshack.


Pada masa persiapan, dua minggu sebelum kontes, kami merubah layout Beverage ke arah utara dan selatan ini karena dalam evaluasinya, kami temukan kendala berupa noise yang konstan dari bentangan kabel PLN Tegangan Menengah 20 KW, sejajar dengan instalasi kawat antena ke arah barat dan timur dan hanya 15m jauhnya. Kini, kawat antena tsb menyilang tegak lurus dengan kabel PLN. Tingkat derau menurun bahkan lebih tajam lagi ketika letak  feed transformer dijauhkan dari antena TX.


Karena kawat antena WD-1A terbentang mengikuti kontur lembah maka YE1C dapat menerima sinyal datang bersudut rendah (sekitar 20-50 derajat, elevasi). Antena ini berguna untuk menjaring banyak stasiun dari Eropa.


Tery, YC1KAF, operator, menyebutkan bahwa noise pada antena ini jauh lebih rendah dari pada  antena Beverage home-made (30 derajat, azimuth). Pada semua antena rx, kami bisa mendapati tingkat noise floor S-0. Hanya static crashes yang bisa memompa indikator sinyal ke S3-5! Sebelumnya, saya pun tidak pernah mendapat level S-0 pada 160m, karena Beverage saya yang dulu terpasang, ada di kompleks perumahan yang padat penghuni.


Gambar 3. Tery, YC1KAF (kiri) dan Nyoman, YB1NWP sedang menikmati pile-up
Stok 600m kawat WD-1A, unit Feed dan Reflection Transformers dibeli dari Radioware USA, http://www.radio-ware.com/


b. Antena Single Wire Beverage buatan Danu, YD1GCL (yd1gcl.danu@gmail.com)


Inilah antenna rx yang digunakan oleh YE1C 2010 saat menjaring 122 stasiun JA pada 160m, CW! Saya berharap YE1C sudah bisa klaim award WAJA 160m, CW, bila koleksi kartu dari pelbagai prefektur JA diseleksi.


Antena ini terbuat dari kawat NYAF berinsulasi PVC, diameter 2.5mm. Diarahkan ke 30 derajat (azimuth), panjang 176m. Tinggi rata-rata 1,5m DPT. John, ON4UN, dalam bukunya Low band DXing, ARRL, 1994, menulis "pemakaian kawat tembaga berinsulasi PVC akan memberikan antena penerima Beverage yang sepi akan derau bahkan di saat kondisi buruk akibat hujan statik" (Chapter 7. Paragraf 1.9). 


Transformer-nya (9:1 Z) menggunakan binocular toroid Amidon BN73-202. Terletak 100m dari hamshack menggunakan feedline coax 50 Ohm. Di ujung jauhnya dipasang resistor carbon, 470 Ohms, 2W, untuk RTerm.

Gambar 4. Feedpoint Beverage buatan Danu, YD1GCL. Kawat kuning untuk GND

Gambar 5. Kawat antena Beverage 30 derajat

Kawat antena ini sengaja agak ditinggikan pemasangannya (lihat Gambar 4 dan Gambar 5, atas) dari pada kawat antena reversible Beverage karena, dari pengalaman di 2010, sinyal dari JA-land terdengar kuat bahkan sebelum waktu Sun Set (WIB) di Gunung Malang karena jarak ke JA hanya 5000-6000km. Menurut teorinya, di saat seperti itu, sinyal datang akan bersudut besar. Ternyata, kondisi propagasi ke JA buruk sehingga ramalan kami tak terjadi, namun kami sepakat bahwa tidak ada yang salah dengan rancangannya. Antena ini bekerja optimal.


Pada beberapa kesempatan, terutama saat pembelokan arah (skewed) sinyal dari Eropa, antena Beverage 30 derajat ini menerima sinyal lebih baik dari antena 330 derajat. Setidaknya dia mengurangi efek intermodulation nada CW yang parah dan menyesatkan. Ini saya dapati saat bangun tidur dan melihat Joz, YD1JZ, bertugas di larut malam. Kecakapannya memilih rx filter, pass band tuning dll pada Icom IC 7800, dan secara tepat dikombinasikan dengan arah antenna RX membuat readability menjadi optimal, walau kuat sinyal hanya pas-pasan.


Danu, YD1GCL, masih memiliki beberapa homebrewed feed transformer (9:1 Z) untuk single wire Beverage yang belum digunakannya.


c. 4-square RX Array buatan Lee, K7TJR. www.hizantennas.com/
Gambar 6. Dimensi Jarak Keempat Tiang (dalam meter)

Sistem lengkapnya (antenna vertikal, preamp, field control box, delay phasing lines, in-house controller dll) baru pertama kali dicoba di Indonesia (lihat Gambar 6). Kami memilih ukuran dimensi tiap sisi sepanjang 24.5m seperti disarankan pada manual-nya. Ukuran ini adalah kompromistis untuk menerima sinyal 80m dan 160m.


Dalam korespondensi kami, Lee, K7TJR, berpesan agar apapun hasil uji-coba agar disampaikan kepadanya karena menurutnya, umumnya sudut datang sinyal MF di zona katulistiwa adalah tinggi. Bila di AS dan Eropa sudut datang sinyal akan rendah. Atas sarannya, YE1C juga memasang full-sized low dipole untuk RX dengan feedpoint setinggi 10m DPT.


Gambar 7. Tata Letak Antena 4-square RX Array
Kami merancang arah keempat elemen vertikalnya ke (dalam derajat). Sistem identifikasi pada tiap elemen dinomori secara urut 1 sampai dengan 4, clockwise. Dibuat identik dengan petunjuk di kotak kendali pada hamshack sehingga operator tidak akan disorientasi dalam mengendalikannya (lihat Gambar 7, atas).


1. utara = 0
2. timur = 90
3. selatan = 90
4. barat = 270


Setting ini dirancang untuk menjadikan elemen timur dan barat menjadi “telinga” kami dalam menerima sinyal
dari Pasifik dan Afrika. Sayang, saat kontes, kami tidak mendengar sinyal dari Afrika. Padahal, seminggu sebelumnya beredar kabar di internet bahwa Rudy, K3QF, sudah QRV sebagai XT2RJA (Burkina Faso) pada 160m CW.  Menurut catatan saya sejak 1997,, inilah pertama kali ada stasiun XT2 nongol di topband. Ngiler, gak?


Di bawah ini adalah  plot elevasi tiap elemen untuk 160m (dari EZNEC) dengan jarak masing-masing sisi 24.5m




Arah penerimaan sinyal di empat elemen vertikal amat terasa saat kendali dimainkan. Ini merupakan petunjuk bahwa rasio front-to-back baik. Kinerja ini didapat dengan memantau radio siaran AM pada band MW. Jadi, sejak siang hari pun kami sudah yakin bahwa antena ini bekerja baik, Namun, tingkat noise sedikit lebih tinggi dari Beverage. Sementara kami simpulkan bahwa rasio signal-to-noise antenna ini masih tidak sebaik Beverage – bahkan dibandingkan dengan yang hombrew.




Gambar 8. Kotak Kendali Hi-Z dan rangkaian di dalamnya. Tampak beberapa relay dan toroid BN73-202

Perbedaan penilaian ini mungkin disebabkan karena faktor luasnya lahan di Gunung Malang sehingga kemana pun atau sepanjang apa pun kawat Beverage mau direntangkan, batasnya adalah nafas dan kondisi jantung manusia penariknya (Gambar 9 dan Gambar 10, bawah).

Gambar 9. Lansekap dari Gn, Malang ke Arah Utara




Gambar 10. Menara yang digunakan untuk antena TX
Beverage - ditemukan oleh Harold Beverage, 1921- memang antena penerima yang ajaib karena kesederhanaannya namun dia menuntut lahan luas. Adapun antena 4-square rx array adalah solusi yang inovatif  di masa kini untuk membantu topbander di kota supaya bisa tersenyum dalam hidup (atau pun matinya) karena bisa menerima sinyal lemah di kota besar. Keduanya tidak bisa dibandingkan karena jenis, karakter dan cara kerjanya yang beda.

Gambar 11. Petunjuk tertulis switch antena RX bagi operator.

Untuk memudahkan kerja operator - terutama `saat mengantuk - dalam memilih sembilan antena RX, dibuat petunjuk tertulis (Gambar 11) sebagai referensi cepat.


Bila berminat untuk mendapatkan referensi berupa tabel spesifikasi dan analisis perbandingan macam-macam antena RX 160m antara lain: Beverage, K9AY, 4-sq, dll, (dilansir oleh Hi-Z Antenna), silakan hubungi Gustian, YB1ALL (yb1all@yahoo.com).


d. Coaxial loop ala N6RK


Di saat senggang, penulis berkesempatan membuat antena tipe 80/160m, tinggi 1 meter DPT, terletak di halaman, 45m jauhnya dari antena TX.

Gambar 12. Antena coaxial loop 80/160m ala N6RK
Secara praktis, antena ini (Gambar 12) tak pernah digunakan oleh operator YE1C karena sudah ‘kepincut’ dengan antena RX lainnya.


Benarlah isi pesan para tetua suku topbanders bahwa “you can’t have too many receive antennas”. Makna kalimat itu sangat bijaksana. Yaitu, agar kita tidak menjadi operator serakah yang memborong semua DX di 160m dalam waktu singkat, lalu buru-buru pensiun dari Topband DXing. Sisi praktisnya juga akan sulit dilaksanakan karena kegiatan kontes menuntut prioritas berbeda dengan DX biasa. Kepada setiap operator YE1C dijadwal dan diberi target.


Di sini saya makin paham bahwa ada perbedaan kualifikasi antara DXer dengan Contester. Di mana posisi Anda?


Klik tautan di bawah ini untuk melihat video YC0LOW pada YE1C, 2011. Dibuat oleh Gus YB1ALL.
http://www.youtube.com/watch?v=9t0V6uxs4QY



4. Evaluasi Lain-lain.
A. Persiapan.
Persiapan dilakukan sekitar empat minggu sebelum kontes. Diprakarsai oleh beberapa anggota Orari Lokal Bekasi, Jawa Barat, seperti: Yoyon YB1CCF, Nyoman YB1NWP, dan Joz YD1JZ.


Minggu pertama, kami berkunjung ke Pamengpeuk, Garut, Jawa Barat untuk mempelajari kemungkinan mendirikan stasiun di sana. Kami sepenuhnya dibantu oleh anggota Orari Daerah Jawa Barat seperti Gustian YB1ALL, Sani YB1ACN dan beberapa anggota dari Lokal Garut.


Sebenarnya, kawasan di Pamengpeuk cukup ideal untuk YE1C dalam kontes ini. Namun, di sana ada stasiun LAPAN untuk pengamatan ionosfir dan propagasi. Mereka menggunakan TX yang beroperasi selama 24 jam per hari dengan interval transmisi selama 2 menit, pada 2 Mhz ke berbagai penjuru mata angin dengan antena vertikal, daya 30 KW. Mana tahaaan?


Pada radio penerima Sony ICF-7600 yang saya bawa dan disetel pada band MW, 1600kHz, sudah sangat terasa RFI-nya pada saat mereka TX-ing. Tentu saja lokasi itu tidak sesuai dengan rencana kami untuk mengeksplorasi kawasan pantai yang sunyi untuk operasi pada 160m DX (1,8 MHz). Kami berencana menggunakan antena vertikal untuk TX.


Kami putuskan Gunung Malang sebagai QTH dari YE1C. Strategi pokok YE1C berkontes pun diubah. Dari titik berat sasaran untuk bereksperimen di pantai menjadi misi menambah skor 2010.


Diskusi mulai menyentuh evaluasi jumlah dan kinerja antena RX tipe single wire Beverage yang digunakan YE1C pada 2010. Saat itu, hanya satu Beverage yang digunakan, ke utara Gunung Malang. Dapat ditebak bahwa keputusan lanjutan kami adalah menambah senjata berupa antena penerima (rx) dan mengarahkannya ke beberapa penjuru dunia sesuka hati. Kami tidak terlalu memikirkan tentang antena TX sehingga waktu yang tersisa bisa 100% hanya untuk merancang antena RX. Inilah yang kami kerjakan dalam mingu-minggu berikutnya sebelum hari kontes.


B. Publikasi
Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, publikasi tentang operasi YE1C dimuat secara nasional pada milis Orari. Orari Daerah Jawa Barat juga memublikasikannya dalam bentuk undangan tertulis ke seluruh lokal Orari dalam naungannya


Dalam rilis yang ditulis oleh Heri, YB1KAR, di milis Orari, tertulis pula undangan bagi semua anggota Orari yang berminat menyaksikan YE1C dalam kontes. Puncak kedatangan pengunjung ke YE1C adalah di hari Sabtu, 29 Januari 2011, malam. Kami gembira mengetahui bahwa ada banyak keingintahuan mereka tentang topband dan antena RX.


C. Pelaksanaan:
Menurut hemat penulis, masih perlu beberapa perbaikan kinerja organisasi di bidang non-teknis keradioaan yang sebaiknya diantisipasi oleh Orari Daerah Jawa Barat sebagai induk YE1C dalam mengelola kegiatan terutama yang berkait dengan pelayanan bagi pengunjung dan keluarganya. Karena, kawasan Ciater adalah resor liburan yang ideal karena banyak fasilitas wisata (hotel, restoran/kedai, mesjid, atraksi bagi wisatawan, dll). Mudah dicapai dengan mobil dari Jakarta dan Bandung.


D. Saran-saran:
1. Mempertahankan partisipasi YE1C dalam kontes-kontes internasional baik CW maupun PHO
2. Melalui stasiun pembinaan, Orari Daerah Jabar dapat memulai pencarian bakat dan membina para anggotanya dari beberapa Lokal untuk membuat tim kontes yang kompeten dan tangguh. Kalau sudah siap, bisa mencoba kategori lain
3. Menjaga hubungan baik dengan pengelola beberapa kawasan di Jawa Barat yang ideal untuk pengoperasian YE1C (termasuk pihak tuan rumah di Gunung Malang, Ciater, Jawa Barat. TNX Heri YC1HQQ dan Yayan YC1BTV) di masa depan.
4. Secepatnya menyusun/melengkapi koleksi kartu QSL agar YE1C dapat meng-klaim award internasional.


Terima kasih.


Atas nama tim YE1C, 73 de Jo, YC0LOW, penggiat Topband DXing, anggota Lokal Cilandak, Orari DKI Jakarta. Memperoleh award 100 DXCC 160m, CW, #1.455,  merupakan yang pertama di Indonesia (2008). Pebruari 2011 confirmed 110 DXCC, CW pada 160m.


Di bawah ini kami sajikan grafik statistik YE1C, dibuat oleh Joz, YD1JZ: