Lagi, saya ingin berbagi informasi tentang data dalam buku John, ON4UN, LOW Band DXing, edisi 5, ARRL 2010. Kalau dalam tulisan sebelumnya ada data mengenai transceiver favorit (bukan "terbaik"), maka saya sampaikan dulu data survai antena TX terbaik yang didapat dari 379 responden.
Untuk singkatnya, disajikan hanya data yang untuk 160m saja. Toh ini blog 160m :-))
Adapun band-band lain (80m dan 40m) saya kesampingkan dulu. Namun, supaya tidak kecewa, serta-merta saya kutip utuh data tentang antena penerima (RX) 160m yang terbanyak dipakai, sebagai berikut:
Antena TX, Prosentase
Vertikal, 57%
Dipole, 21%
Half Sloper, 10%
Vertical Array, 7%
TX Loops, 4%
Sloping Dipole, 2%
Yagi, Quad, 1%
Horizontal Array, <1%
Antena TX lain, 6% (tidak dirinci jenisnya -Jo)
Antena RX, Prosentase.
Beverage, 39%
RX Loops, 29%
RX Array, 6%
Antena RX lain, 5% (tidak dirinci jenisnya -Jo)
Yang sama sekali tidak menggunakan antena RX, 31%
Dalam paragraf 20.4.4, John menyimpulkan bahwa jenis-jenis antena yang digunakan pada LOW bands tidak banyak berubah selama lima tahun terakhir ini. Bedanya, himpunan antena (antenna arrays) penerima (RX) yang terbuat dari elemen vertikal yang pendek telah membanjiri pasaran - termasuk tersedianya 4-square array yang kinerjanya baik namun dengan harga yang terjangkau
Kronik adalah laporan kronologis tentang kegiatan/peristiwa tertentu. Simak ihwal Top Band (160m) yang sejak 1977 muncul di milis: YBNet-L s/d Orari-News. Karena geografi Indonesia, bekerja DX pada band ini tak semudah pada band-band lain. Namun, akan elok bila ada yang masih mau mencoba karena ada peluang - dan alokasi Medium Frequency dari pemerintah Indonesia tak sia-sia! Saya tunggu Anda pada band 160m. Jangan ragu untuk memberi komentar. Tnx es 73 de Jo, YC0LOW
25 Februari 2011
19 Februari 2011
SDR (Software Defined Radio), Kehadirannya Menjadi Kontroversi
"Web SDR (software defined radio) adalah sebuah web penerima sinyal radio dengan software(s) yang terhubung dengan internet yang memberi keleluasaan bagi banyak pendengar radio untuk bisa sekaligus menyimak bunyi dan menala penerimaannya", demikian sekelumit definisi SDR yang ada pada preambule http://www.websdr.org/
Teknologi SDR telah memungkinkan semua penggunanya untuk tune secara independen dan bisa secara simultan menerima sinyal-sinyal yang berbeda. Hasilnya sangat kontras dan berbeda dengan hasil banyak radio penerima klasik yang juga terhubung dengan internet.
Bulan Februari 2011 ini, pada Top Band Reflector, SDR dikupas habis oleh kalangan top banders. Ada yang pro dan kontra terhadap kehadirannya. Mengapa?
Ternyata, penggunaannya yang makin meluas di kalangan topbanders telah menimbulkan ekses negatif karena banyak dari pendatang baru di band tsb (mereka yang tidak sabar untuk menaiki tangga DXCC) secara berjamaah menggunakan fasilitas SDR tsb untuk menjalin 160m QSO 2-arah. Tentu saja hal tsb dianggap curang.
Kalau sebelumnya rangkaian elektronik SDR dibuat terhubung dengan transceiver, sekarang tidak perlu lagi. Sistem SDR paling mutakhir tidak lagi membutuhkan soundcard pada sebuah PC untuk memproses sinyal - apalagi perlu hardware DSP.
Silakan cek transceiver FlexRadio (www.flex-radio.com) dan/atau rangkaian penerima Perseus, SDR-IQ dan SDR-14.
Board Softrock SDR buatan Tony, KB9YIG (Gbr.1, atas) hanya berisi komponen-komponen utama seperti tiga transistor dan empat buah Integrated Circuits (IC). Board ini dihubungkan dengan antena penerima pada sisi input dan di sisi lain (output) ke input stereo, dengan port USB, dari sound card Anda. Tentu saja, ada koneksi ke catu daya 12 VDC. Kit SoftRock dijual untuk berbagai band amatir dan juga BC.
Kombinasinya dengan software pengendali dan sound card berkwalitas baik, maka akan didapat bandwith luas dan hasil penerimaan yang fantastis.
Saya masih menyimpan dengan baik sebuah SDR kit board buatan Tony yang factory assembled (lihat Gbr. 2, 3, atas), Hingga saat ini belum dicoba secara intensif. Insyaallah, dalam waktu segera. OM Nyoman, YB1NWP, membantu saya untuk mengecek alat tsb (lihat Gbr. 4).
Pada tahun 2006, saya pernah menulis di milis OrariNews tentang Softrock 160m. Anda dapat melihat tautannya pada
http://topbanddxdiindonesia.blogspot.com/2008/02/re-softrock-160-receiver-kit-jumat-juni.html dan
http://topbanddxdiindonesia.blogspot.com/2008/02/softrock-160-receiver-kit-selasa-juni.html
Bagi teman-teman yang mau dengar QSO 160m, CW dan SSB, melalui web SDR, silakan coba mengunjungi web-nya. Pilih situs yang sistem SDR-nya paling dekat dengan kawasan yang hendak Anda pantau
Pada web SDR milik WB4MAK (menggunakan SoftRock), Anda bisa mendengar -dan bahkan MELIHAT- di notebook Anda, betapa band 160m penuh dengan stasiun AS yang ngobrol dengan SSB, seharian. Lalu, pada saat SunSet, usai maghrib, WIB, Anda bisa tiap hari dengar banyak dan lihat sinyal CW dari AS yang memanggil DX. Panggilan tsb belum tentu bisa didengar oleh kita dengan sistem/set-up transceiver yang konvensional (tanpa SDR).
Majulah teknologi digital!
Malulah para pecundang di Top Band...
2011/2/23 daryono daryono YC1CYD
Selamat siang Om Jo,
Saya tertarik dengan SDR anda , bagaimana performansinya dibanding RX yang konvensional?
Mohon penjelasan tentang kontroversialnya SDR , apakah yang Web SDR ?
Saya pernah beberapa kali monitor lewat Web SDR ( Universitas U Twente dan yg lainnya)
untungnya suara Iwak Iwak yang di 3770kHz nggak terdengar sampai sana....
Memang luar biasa wb sdr tsb , satu receiver bisa digunakan rame2 di frekuensi/band yang berbeda beda.
Salam,
Daryono
2011/2/23 Jo, YC0LOW menjawab:
Yth OM Daryono, YC1CYD
Penerimaan dengan SDR tentu jauh lebih baik ketimbang RX yang konvensional. Itu yang saya dapati pada band 3,5 dan 7.0 MHz. Untuk band 1.8, saya harus tambahkan ruang lingkup frekwensinya dalam .INI file-nya dan merubah oscilator-nya. Saya sedang belajar merubah setting-nya
Kontroversi penggunaan SDR utamanya ada di lingkungan topbander puritan. Mereka percaya komunikasi terestrial, point-to-point. Agak masochist, memang.
Keberatan utamanya adalah banyak pemakai stasiun SDR yang (un-registered) berhimpun dan secara curang melakukan QSO dua-arah dengan teknologi tsb. Kartu QSL tetap dipertukarkan dan digunakan untuk klaim award DXCC.
Isi peraturan DXCC #9 sendiri juga ambigu. Dinyatakan di sana bahwa " Lokasi tiap stasiun akan juga dianggap sebagai lokasi dari pemancar." Bagi sebagian orang kalimat tsb tidak jelas karena TIDAK mencantumkan istilah "penerima" (receiver). Bukankah sebaiknya kalimat lengkapnya adalah "Lokasi tiap stasiun akan juga dianggap sebagai lokasi dari pemancar dan penerima, dan jarak antara pemancar dan penerima adalah tidak lebih dari xx meter"
Tapi, teknologi digital tidak bisa dibendung. Yang diperlukan adalah etika dalam berkomunikasi dan cara yang jujur dan adil untuk mendapatkan kartu QSL - apalagi untuk klaim award.
Bagi DX SWL-er teknologi SDR amat membantu mereka dalam beraktifitas dalam hobinya.
Beberapa hari yang lalu, saya lihat di layar web-SDR ada identitas YG8TUX sedang memantau band amatir 40m.
Tnx es 73 de Jo, YC0LOW
Teknologi SDR telah memungkinkan semua penggunanya untuk tune secara independen dan bisa secara simultan menerima sinyal-sinyal yang berbeda. Hasilnya sangat kontras dan berbeda dengan hasil banyak radio penerima klasik yang juga terhubung dengan internet.
Bulan Februari 2011 ini, pada Top Band Reflector, SDR dikupas habis oleh kalangan top banders. Ada yang pro dan kontra terhadap kehadirannya. Mengapa?
Ternyata, penggunaannya yang makin meluas di kalangan topbanders telah menimbulkan ekses negatif karena banyak dari pendatang baru di band tsb (mereka yang tidak sabar untuk menaiki tangga DXCC) secara berjamaah menggunakan fasilitas SDR tsb untuk menjalin 160m QSO 2-arah. Tentu saja hal tsb dianggap curang.
Kalau sebelumnya rangkaian elektronik SDR dibuat terhubung dengan transceiver, sekarang tidak perlu lagi. Sistem SDR paling mutakhir tidak lagi membutuhkan soundcard pada sebuah PC untuk memproses sinyal - apalagi perlu hardware DSP.
Silakan cek transceiver FlexRadio (www.flex-radio.com) dan/atau rangkaian penerima Perseus, SDR-IQ dan SDR-14.
![]() |
| Gbr. 1. "Though small we are mighty". SoftRock SDR (photo courtesy of SoftRock) |
Kombinasinya dengan software pengendali dan sound card berkwalitas baik, maka akan didapat bandwith luas dan hasil penerimaan yang fantastis.
![]() |
| Gbr. 2. Panel depan kotak SoftRock v.160m. Jack Stereo untuk LINE-IN |
![]() | |||||||
|
Pada tahun 2006, saya pernah menulis di milis OrariNews tentang Softrock 160m. Anda dapat melihat tautannya pada
http://topbanddxdiindonesia.blogspot.com/2008/02/re-softrock-160-receiver-kit-jumat-juni.html dan
http://topbanddxdiindonesia.blogspot.com/2008/02/softrock-160-receiver-kit-selasa-juni.html
![]() |
| Gbr. 4. Nyoman, YB1NWP, sedang mencoba produk Softrock di QTH-nya (Feb 2011) |
Pada web SDR milik WB4MAK (menggunakan SoftRock), Anda bisa mendengar -dan bahkan MELIHAT- di notebook Anda, betapa band 160m penuh dengan stasiun AS yang ngobrol dengan SSB, seharian. Lalu, pada saat SunSet, usai maghrib, WIB, Anda bisa tiap hari dengar banyak dan lihat sinyal CW dari AS yang memanggil DX. Panggilan tsb belum tentu bisa didengar oleh kita dengan sistem/set-up transceiver yang konvensional (tanpa SDR).
Majulah teknologi digital!
Malulah para pecundang di Top Band...
2011/2/23 daryono daryono YC1CYD
Selamat siang Om Jo,
Saya tertarik dengan SDR anda , bagaimana performansinya dibanding RX yang konvensional?
Mohon penjelasan tentang kontroversialnya SDR , apakah yang Web SDR ?
Saya pernah beberapa kali monitor lewat Web SDR ( Universitas U Twente dan yg lainnya)
untungnya suara Iwak Iwak yang di 3770kHz nggak terdengar sampai sana....
Memang luar biasa wb sdr tsb , satu receiver bisa digunakan rame2 di frekuensi/band yang berbeda beda.
Salam,
Daryono
2011/2/23 Jo, YC0LOW
Yth OM Daryono, YC1CYD
Penerimaan dengan SDR tentu jauh lebih baik ketimbang RX yang konvensional. Itu yang saya dapati pada band 3,5 dan 7.0 MHz. Untuk band 1.8, saya harus tambahkan ruang lingkup frekwensinya dalam .INI file-nya dan merubah oscilator-nya. Saya sedang belajar merubah setting-nya
Kontroversi penggunaan SDR utamanya ada di lingkungan topbander puritan. Mereka percaya komunikasi terestrial, point-to-point. Agak masochist, memang.
Keberatan utamanya adalah banyak pemakai stasiun SDR yang (un-registered) berhimpun dan secara curang melakukan QSO dua-arah dengan teknologi tsb. Kartu QSL tetap dipertukarkan dan digunakan untuk klaim award DXCC.
Isi peraturan DXCC #9 sendiri juga ambigu. Dinyatakan di sana bahwa " Lokasi tiap stasiun akan juga dianggap sebagai lokasi dari pemancar." Bagi sebagian orang kalimat tsb tidak jelas karena TIDAK mencantumkan istilah "penerima" (receiver). Bukankah sebaiknya kalimat lengkapnya adalah "Lokasi tiap stasiun akan juga dianggap sebagai lokasi dari pemancar dan penerima, dan jarak antara pemancar dan penerima adalah tidak lebih dari xx meter"
Tapi, teknologi digital tidak bisa dibendung. Yang diperlukan adalah etika dalam berkomunikasi dan cara yang jujur dan adil untuk mendapatkan kartu QSL - apalagi untuk klaim award.
Bagi DX SWL-er teknologi SDR amat membantu mereka dalam beraktifitas dalam hobinya.
Beberapa hari yang lalu, saya lihat di layar web-SDR ada identitas YG8TUX sedang memantau band amatir 40m.
Tnx es 73 de Jo, YC0LOW
18 Februari 2011
Mengapa Anda Memilih LOW Bands untuk Bekerja DX?
![]() |
| Lihat kolom kanan dengan garis bawah kuning. Klik gambar untuk memperbesar |
Sebenarnya, ini pertanyaan retorika. Jawaban untuk itu sudah dimuat pada buku edisi keempat terbit, 2009. Sebab, selalu dicantumkan dalam tiap survei bersama pertanyaan-pertanyaan lain. Namun, pada buku edisi kelima, 2010, ada beberapa tambahan komentar yang unik dan 'nakal'. Hampir dua halaman penuh digunakan untuk memuat ratusan pendapat!
Saya sangat gembira ketika semalam, saya menemukan bahwa jawaban saya dan juga jawaban Jorge, YB1AQS (hanya kami berdua dari YB-land) dikutip dalam buku hebat tsb (lihat gambar atas).
![]() |
| Add caption |
Karena keterbatasan ruang - dan kemampuan cekak saya dalam menerjemahkan kalimat/idiom dari Inggris ke Indonesia) maka hanya dipetik beberapa saja dalam bahasa Inggris, dan identitas nara sumbernya, sbb:
* Excellent bands for a night owl like me (DF3KW)
* Unpredictable propagation on 160m (N2NT)
* Takes more patience and skill (K4LTA)
* It's not so easy (PA3AAV)
* To join the gentlemen's league on Top Band (DL7ZZ)
* Top Band teaches me to become a patient person (YC0LOW) - lebay amat gak seeeh?
* Because I'm a masochist, Top Band is exciting! (SV3RV)
* More challenge, less lids (N2LQ)
* DXing on the high bands is like shooting fish in a barrel (K7FL)
* I love a good "static salad" (K1UO)
* On 160m, CW shines (VO1NA)
* Pushing the operators and the station to the limits (N4KG)
* Top Band: no nets, no lists, no deliberate QRM, moving on the edge, alone with QRN (IV3PRK)
* Why do you climb mountains? 160m is the highest mountain with no worn path (K0HA)
* I think I was dropped on my head when I was a baby (K4SB)
* To make the impossible possible. 160 DXCC from the worst place on earth (YB1AQS) - setahu saya impian Jorge belum mewujud.
*160m is more a gentleman's band. Lids are too lazy to fight QRN (W9WI)
* It helps to be insomniac (W8RU)
* Operating skill as important as hardware (K2RD)
* Because anyone can work DX on high bands (W0GJ, W1JZ, VE7ON dll).
* It's the only challenge left (K2UO)
* Success is not automatic (K4TEA)
* On the LOW bands, success comes from the knowledge, NOT money (K1VR)*
* Easy things are for everyone (RA3AAU)
dan masih banyak lagi. Bagaimana tanggapan Anda? Mengapa Anda juga memilih DXing pada LOW bands - terutama 160m?
Silakan menulis komentar Anda.
17 Februari 2011
Merek-merek HF Transceiver Favorit untuk LOW Band DXing
Kemarin, saat libur Maulid Nabi Muhammad saw, saya menerima buku Low Band DXing, edisi kelima, ARRL 2010. Buku tebal yang menjadi kitab suci banyak operator LOW band ini, konon akan menjadi edisi terakhir dari penulisnya John, ON4UN (lihat gambar bawah).
![]() |
| LOW Band DXing, Edisi 4 |
![]() |
| LOW Band DXing, Edisi |
Isi buku tentu saja merupakan pemutakhiran dari isi pada edisi-edisi sebelumnya. Gambar sampulnya saja sudah menampakkan wajah penulisnya yang makin tua, tapi tetap semangat.
Yang istimewa dalam edisi ini adalah lebih banyak uraiannya mengenai isu-isu: antena penerima (RX), phased array. peta propagasi. Software Defined Radio (SDR) dan LP-500 Digital Station Monitor.
Salah satu bagian buku yang paling menarik perhatian saat awal membukanya - dan saya ingin berbagi dengan pembaca blog ini - adalah hasil survei merek-merek transceiver yang digunakan oleh LOW band DXers, wa bil khusus 160m.
Ada 397 stasiun yang aktif pada 160m (mereka sudah memperoleh setidaknya 225 negara DXCC), yang menjadi responden survei yang menggunakan 493 berbagai merek rig.
Peringkat favorit transceiver yang digunakan oleh operator topband adalah, sbb:
- Yaesu FT1000 (D-MP): 26%
- Elecraft K3: 13%
- Icom 756: 12%
- Ten-Tec Orion: 9%
- All other Kenwood: 8%
- All other Icom: 7%
- Yaesu FT 2000: 6%
- Icom IC-7800, IC-7700: 5%
Peringkatnya nyaris serupa untuk band-band 80m dan 40m. Penjelasan kualitatif tentang peringkat ini sangat lengkap sehingga kita bisa menganalisisnya lebih dalam.
Dalam surveinya, John, ON4UN, mengirim pertanyaan: "Transceiver apa yang, menurut Anda terbaik untuk LOW Bands?" Tony T77C, menjawabnya secara tegas: "Telingaku".
Jadi, enggak perlulah buru-buru beli Elecraft K3 yang bisa RX dual diversity...
2011/2/19 hendro s.joedho
OM Jo,
Kalo edisi terbaru dari satu penerbitan banyak gak sih hal yang barunya ?
ARRL Handbook edisi tahun 80an pasti beda jauh ya dengan yang tahun 2000an misalnya, tapi kalo yang cuma beda setahun mungkin cuma sedikit saja kali ya ?
73
hen-yc0qr
2011/2/19 Jo, YC0LOW®
Yth OM Hendro,
Kalau buku Low Band Dxing edisi 5, mnrt saya lumayan banyak bedanya dengan edisi 4. Apalagi ini merupakan buku terakhir yang ditulis John.
Kebetulan saya koleksi dari edisi 3.
Contohnya, tambahan pada edisi 5 meliputi: pembahasan yang lebih dalam tentang berbagai RX antena, phased array, peta baru propagasi berbasis DX Atlas, SDR dan LP-500 Digital Station Monitor.
Juga ada kutipan pernyataan saya tentang Topband :-)
Tnx es 73 de Jo, YCØLOW
Sun, 20 Feb 2011 11:07:52 +0800 (SGT)
OM Jo,Bukunya ON4UN yang saya punya lupa edisi ke berapa, tapi yang pasti ada keterangan bahwa QSO pertamanya dg YBland di 160M dengan YC0LOW dan di 80M dengan YB0WR.
Kalo gak salah saya beli tahun 2007-2008 dulu.
73 es GL
de yc0qr
2011/2/20 Jo, YC0LOW®
OM Hendro,
Buku yang Anda beli itu edisi 4.
Pada saat itu, saya juga kaget mengetahui bahwa John, ON4UN, belum CFM qso 2-arah, cw dengan Indonesia di Top Band (160m).
Segera saya kirim kartu QSL kepadanya dan memesan langsung bukunya yang edisi 4.
Kemudian, John membalas kartu saya dan menuliskan pesan pribadi untuk saya dan menandatanganinya di halaman awal buku.
![]() |
| Tulisan tangan John, ON4UN untuk saya pada halaman awal bukunya, Edisi 4 |
Sebuah buku koleksi yang juga berharga - dengan tulisan tangan - saya peroleh dari Jeff, K1ZM, penulis buku "DXing on the Edge, The Thrill of 160 Meters", ARRL. Buku tsb merupakan cinderamata untuk saya saat dia jumpa Jorge, YB1AQS, di Top Band Dinner, Dayton AS, 1998.
Tukar-menukar barang antarsahabat memang menyenangkan dan mudah. Yang sulit dan bikin risau adalah tukar laporan RST pada Top Band itu sendiri :-))
Tnx es 73 de Jo, YCØLOW Sent from my BlackBerry®
2011/2/20 hendro s.joedho
OM Jo,
Senang banget punya koleksi buku dengan asli tandatangan penulisnya apalagi memang buku itu juga isinya tentang hobi kita.
DXing On The Edge, saya juga punya tapi isinya belum begitu menarik buat saya, CD yang dilampirkan isinya rekaman QSO di 160M, kalo gak salah. HI.
Saya juga punya beberapa buku non radio yang ditandatangani penulisnya, juga ada yang ditandatangani oleh "lakon" dalam buku itu karena penulisnya orang lain (biografi).
73 de yc0qr
2011/2/21 Jo, YC0LOW®
Yth OM Hendro,
Sepengetahuan saya, hanya buku Jeff, K1ZM, yang isinya spesifik 160m yang diterbitkan ARRL.
Buku John, ON4UN, masih lebih umum karena meliput LOW bands.
Namun, Anda benar. Buku Jeff tidak semenarik buku John. Karenanya, banyak operator menyebut buku LOW Band DXing sebagai kitab sucinya.
Koleksi buku sudah sama nih. Impian DXing pada 160m pasti bisa diwujudkan.
Ayo, OM Hen. Ditunggu segera di Top Band, ya!
73 de Jo, YCØLOW
2011/2/22 hendro s.joedho
OM Jo,
Jangankan 160M yang tantangannya masih terlalu banyak buat saya, yang fasilitas (antenna, rotator, tower dll) sudah ada belum sempat saya pasang karna belum ada space utk "operating desk", HI HI.
Maklum rumah type RSSSSS...., padahal waktu di Makassar dulu halaman depan/belakang memadai, malahan ada tower tinggi menara air utk kompleks begitu juga ruangan utk pasang radio sangat memadai, grounding system cuma dibalik jendela saja.
Masih harus sabar.
73 ycoqr
05 Februari 2011
Laporan dan Evaluasi YE1C, 2011 (dengan foto-foto dan statistik baru)
![]() |
| Dua menara menjulang di G. Malang. Di sanalah YE1C dioperasikan pada CQWW 160m CW Contest, Januari 2011. Skor akhirnya merupakan rekor baru di Indonesia. |
Bila dianggap perlu untuk memperjelasnya, atas nama tim YE1C, saya tuliskan komentar/saran dan perbandingannya dengan hasil YE1C di kontes yang sama, 2010, ditulis di dalam tanda kurung (*).
Analisis dan laporan uji-coba DX dan peralatan YE1C di masa pra-kontes sudah lebih dulu ditulis dan dimuat secara bersambung dalam milis OrariNews
1. Data
a. QSO= 289 (323).
b. Skor= 172.935 (166.314).
Ada peningkatan karena bertambahnya multipliers
c. Countries= 54 (48).
Peningkatan dalam jumlah Countries. Apabila tidak ada duplikasi dalam perolehan pada 2010, maka YE1C adalah satu-satunya stasiun kontes Orari yang bisa klaim award 100 DXCC 160m CW ke ARRL.
d. Terjaring 18 stasiun dari AS (21): dari UT, NV, WA, CA, MT, AZ. (AZ, CA, HI, TX, NV, WA, AK). Beberapa stasiun dari AS adalah stasiun kontes. Mereka pasif dalam QSLing. Sebaiknya, YE1C mengirim kartu lebih dulu untuk melengkapi koleksi 160m Orari Daerah Jabar. Contoh, stasiun dari UT, TX, AK, NV adalah langka terdengar di tanah air.
Berkurangnya jumlah QSO dengan stasiun AS adalah karena kondisi propagasi yang lebih buruk dibanding 2010. Di hari-hari kontes, justru tidak ada Sun Rise enchancement – suatu fenomena alam yang amat dirindukan Topband DXer.
2. Propagasi
Selama kontes, propagasi ke JA-land memburuk secara drastis. Amat beda dengan kondisi 2010 (122 stasiun), 2011 (24). Bila saja pada 2011 YE1C bisa menjaring 50% saja dari jumlah stasiun JA pada 2010, maka hasilnya pasti makin sulit dipecahkan oleh stasiun lain dari Indonesia. Ini memberi peluang bagi stasiun kontes lainnya di Indonesia dalam memecahkan rekor YE1C dua tahun berturut-turut.
Dari data jumlah QSO harian di bawah ini dapat disimpulkan kondisi propagasi selama kontes:
a. Hari-1: 9 (32).
b. Hari-2: 201 (180)
c. Hari-3: 79 (117)
Perolehan skor yang lebih besar, dapat dicapai di saat propagasi yang buruk tahun ini, karena YE1C telah memberi perhatian khusus untuk menginstalasi sembilan buah antena RX (3 Beverage, 1 4-square. coax loop) di lahan luas yang strategis, ideal dan senyap dari derau (noise) di Gn Malang. Juga ditunjang oleh beberapa faktor lain, seperti:
1. Fitur pada Icom IC7800 (built-in digital rx filters, 4 buah rx inputs, dll).
2. HF Linear Amplifier Emtron-DX3 (legal limit) yang bekerja tanpa rewel
3. Homemade antena TX dipole dengan tinggi feedpoint ideal
4. Sumber Daya Manusia – terutama anggota Lokal Bekasi (eks-tim YE1ZAT), yang andal dalam set-up (peralatan RF, listrik, accesorries, komputer).
5. Persiapan yang cukup untuk pemasangan, orientasi, re-orientasi dan evaluasi kinerja antena tx/rx
6. Operator CW yang pengalaman (kalem tapi "horny" akan intermod tone CW, hi-speed, 25-38 WPM)
7. Paham mekanisme dasar propagasi 160m, penggunaan softwares, analyser dan alat bantu modern berbasis Teknologi Informasi.
8. Dukungan anggota Orari yang datang ke lokasi (dari Lokal Subang, Lokal Bandung, Lokal Bekasi, dll). Ada pula yang rela membantu memperbaiki kerusakan kecil pada antena RX kami secara prodeo (TNX Buce YC1BAH, Nyoman YB1NWP dan Aris, calon anggota Lokal Bekasi)
![]() |
| Gambar 1. Beberapa kotak distributor/switch antena RX di atas IC-7800. |
3. Evaluasi Antena-antena RX.
a. Reversible Beverage buatan KD9SV,
| Gambar 2. Feed transformer antena reversible Beverage. Latar belakang adalah kebun selada yang baru ditanami |
Kawat antena menggunakan twisted pair WD-1A (kawat telepon yang dipakai tentara AS di Eropa dalam Perang Dunia II) direntang ke arah 330 derajat dan sekaligus ke 150 derajat (Eropa dan VK/ZL).
Panjang kawat 238m, di ujung jauhnya dipasang sebuah reflection transformer. Tinggi sekitar 1m. Feed transformer terletak 154m dari antena TX. Jadi, panjang coax feedline RG-6U (75 Ohm) harus dilipatduakan agar dua antena terhubung ke hamshack.
Pada masa persiapan, dua minggu sebelum kontes, kami merubah layout Beverage ke arah utara dan selatan ini karena dalam evaluasinya, kami temukan kendala berupa noise yang konstan dari bentangan kabel PLN Tegangan Menengah 20 KW, sejajar dengan instalasi kawat antena ke arah barat dan timur dan hanya 15m jauhnya. Kini, kawat antena tsb menyilang tegak lurus dengan kabel PLN. Tingkat derau menurun bahkan lebih tajam lagi ketika letak feed transformer dijauhkan dari antena TX.
Karena kawat antena WD-1A terbentang mengikuti kontur lembah maka YE1C dapat menerima sinyal datang bersudut rendah (sekitar 20-50 derajat, elevasi). Antena ini berguna untuk menjaring banyak stasiun dari Eropa.
Tery, YC1KAF, operator, menyebutkan bahwa noise pada antena ini jauh lebih rendah dari pada antena Beverage home-made (30 derajat, azimuth). Pada semua antena rx, kami bisa mendapati tingkat noise floor S-0. Hanya static crashes yang bisa memompa indikator sinyal ke S3-5! Sebelumnya, saya pun tidak pernah mendapat level S-0 pada 160m, karena Beverage saya yang dulu terpasang, ada di kompleks perumahan yang padat penghuni.
![]() |
| Gambar 3. Tery, YC1KAF (kiri) dan Nyoman, YB1NWP sedang menikmati pile-up |
b. Antena Single Wire Beverage buatan Danu, YD1GCL (yd1gcl.danu@gmail.com)
Inilah antenna rx yang digunakan oleh YE1C 2010 saat menjaring 122 stasiun JA pada 160m, CW! Saya berharap YE1C sudah bisa klaim award WAJA 160m, CW, bila koleksi kartu dari pelbagai prefektur JA diseleksi.
Antena ini terbuat dari kawat NYAF berinsulasi PVC, diameter 2.5mm. Diarahkan ke 30 derajat (azimuth), panjang 176m. Tinggi rata-rata 1,5m DPT. John, ON4UN, dalam bukunya Low band DXing, ARRL, 1994, menulis "pemakaian kawat tembaga berinsulasi PVC akan memberikan antena penerima Beverage yang sepi akan derau bahkan di saat kondisi buruk akibat hujan statik" (Chapter 7. Paragraf 1.9).
Transformer-nya (9:1 Z) menggunakan binocular toroid Amidon BN73-202. Terletak 100m dari hamshack menggunakan feedline coax 50 Ohm. Di ujung jauhnya dipasang resistor carbon, 470 Ohms, 2W, untuk RTerm.
![]() |
| Gambar 4. Feedpoint Beverage buatan Danu, YD1GCL. Kawat kuning untuk GND |
![]() |
| Gambar 5. Kawat antena Beverage 30 derajat |
Kawat antena ini sengaja agak ditinggikan pemasangannya (lihat Gambar 4 dan Gambar 5, atas) dari pada kawat antena reversible Beverage karena, dari pengalaman di 2010, sinyal dari JA-land terdengar kuat bahkan sebelum waktu Sun Set (WIB) di Gunung Malang karena jarak ke JA hanya 5000-6000km. Menurut teorinya, di saat seperti itu, sinyal datang akan bersudut besar. Ternyata, kondisi propagasi ke JA buruk sehingga ramalan kami tak terjadi, namun kami sepakat bahwa tidak ada yang salah dengan rancangannya. Antena ini bekerja optimal.
Pada beberapa kesempatan, terutama saat pembelokan arah (skewed) sinyal dari Eropa, antena Beverage 30 derajat ini menerima sinyal lebih baik dari antena 330 derajat. Setidaknya dia mengurangi efek intermodulation nada CW yang parah dan menyesatkan. Ini saya dapati saat bangun tidur dan melihat Joz, YD1JZ, bertugas di larut malam. Kecakapannya memilih rx filter, pass band tuning dll pada Icom IC 7800, dan secara tepat dikombinasikan dengan arah antenna RX membuat readability menjadi optimal, walau kuat sinyal hanya pas-pasan.
Danu, YD1GCL, masih memiliki beberapa homebrewed feed transformer (9:1 Z) untuk single wire Beverage yang belum digunakannya.
c. 4-square RX Array buatan Lee, K7TJR. www.hizantennas.com/
![]() |
| Gambar 6. Dimensi Jarak Keempat Tiang (dalam meter) |
Sistem lengkapnya (antenna vertikal, preamp, field control box, delay phasing lines, in-house controller dll) baru pertama kali dicoba di Indonesia (lihat Gambar 6). Kami memilih ukuran dimensi tiap sisi sepanjang 24.5m seperti disarankan pada manual-nya. Ukuran ini adalah kompromistis untuk menerima sinyal 80m dan 160m.
Dalam korespondensi kami, Lee, K7TJR, berpesan agar apapun hasil uji-coba agar disampaikan kepadanya karena menurutnya, umumnya sudut datang sinyal MF di zona katulistiwa adalah tinggi. Bila di AS dan Eropa sudut datang sinyal akan rendah. Atas sarannya, YE1C juga memasang full-sized low dipole untuk RX dengan feedpoint setinggi 10m DPT.
![]() |
| Gambar 7. Tata Letak Antena 4-square RX Array |
1. utara = 0
2. timur = 90
3. selatan = 90
4. barat = 270
Setting ini dirancang untuk menjadikan elemen timur dan barat menjadi “telinga” kami dalam menerima sinyal
dari Pasifik dan Afrika. Sayang, saat kontes, kami tidak mendengar sinyal dari Afrika. Padahal, seminggu sebelumnya beredar kabar di internet bahwa Rudy, K3QF, sudah QRV sebagai XT2RJA (Burkina Faso) pada 160m CW. Menurut catatan saya sejak 1997,, inilah pertama kali ada stasiun XT2 nongol di topband. Ngiler, gak?
Di bawah ini adalah plot elevasi tiap elemen untuk 160m (dari EZNEC) dengan jarak masing-masing sisi 24.5m

Arah penerimaan sinyal di empat elemen vertikal amat terasa saat kendali dimainkan. Ini merupakan petunjuk bahwa rasio front-to-back baik. Kinerja ini didapat dengan memantau radio siaran AM pada band MW. Jadi, sejak siang hari pun kami sudah yakin bahwa antena ini bekerja baik, Namun, tingkat noise sedikit lebih tinggi dari Beverage. Sementara kami simpulkan bahwa rasio signal-to-noise antenna ini masih tidak sebaik Beverage – bahkan dibandingkan dengan yang hombrew.
![]() |
| Gambar 8. Kotak Kendali Hi-Z dan rangkaian di dalamnya. Tampak beberapa relay dan toroid BN73-202 |
Perbedaan penilaian ini mungkin disebabkan karena faktor luasnya lahan di Gunung Malang sehingga kemana pun atau sepanjang apa pun kawat Beverage mau direntangkan, batasnya adalah nafas dan kondisi jantung manusia penariknya (Gambar 9 dan Gambar 10, bawah).
![]() | |||||
| Gambar 9. Lansekap dari Gn, Malang ke Arah Utara |
![]() |
| Gambar 10. Menara yang digunakan untuk antena TX |
![]() | ||
| Gambar 11. Petunjuk tertulis switch antena RX bagi operator. |
Bila berminat untuk mendapatkan referensi berupa tabel spesifikasi dan analisis perbandingan macam-macam antena RX 160m antara lain: Beverage, K9AY, 4-sq, dll, (dilansir oleh Hi-Z Antenna), silakan hubungi Gustian, YB1ALL (yb1all@yahoo.com).
d. Coaxial loop ala N6RK
Di saat senggang, penulis berkesempatan membuat antena tipe 80/160m, tinggi 1 meter DPT, terletak di halaman, 45m jauhnya dari antena TX.
![]() |
| Gambar 12. Antena coaxial loop 80/160m ala N6RK |
Benarlah isi pesan para tetua suku topbanders bahwa “you can’t have too many receive antennas”. Makna kalimat itu sangat bijaksana. Yaitu, agar kita tidak menjadi operator serakah yang memborong semua DX di 160m dalam waktu singkat, lalu buru-buru pensiun dari Topband DXing. Sisi praktisnya juga akan sulit dilaksanakan karena kegiatan kontes menuntut prioritas berbeda dengan DX biasa. Kepada setiap operator YE1C dijadwal dan diberi target.
Di sini saya makin paham bahwa ada perbedaan kualifikasi antara DXer dengan Contester. Di mana posisi Anda?
Klik tautan di bawah ini untuk melihat video YC0LOW pada YE1C, 2011. Dibuat oleh Gus YB1ALL.
http://www.youtube.com/watch?v=9t0V6uxs4QY
4. Evaluasi Lain-lain.
A. Persiapan.
Persiapan dilakukan sekitar empat minggu sebelum kontes. Diprakarsai oleh beberapa anggota Orari Lokal Bekasi, Jawa Barat, seperti: Yoyon YB1CCF, Nyoman YB1NWP, dan Joz YD1JZ.
Minggu pertama, kami berkunjung ke Pamengpeuk, Garut, Jawa Barat untuk mempelajari kemungkinan mendirikan stasiun di sana. Kami sepenuhnya dibantu oleh anggota Orari Daerah Jawa Barat seperti Gustian YB1ALL, Sani YB1ACN dan beberapa anggota dari Lokal Garut.
Sebenarnya, kawasan di Pamengpeuk cukup ideal untuk YE1C dalam kontes ini. Namun, di sana ada stasiun LAPAN untuk pengamatan ionosfir dan propagasi. Mereka menggunakan TX yang beroperasi selama 24 jam per hari dengan interval transmisi selama 2 menit, pada 2 Mhz ke berbagai penjuru mata angin dengan antena vertikal, daya 30 KW. Mana tahaaan?
Pada radio penerima Sony ICF-7600 yang saya bawa dan disetel pada band MW, 1600kHz, sudah sangat terasa RFI-nya pada saat mereka TX-ing. Tentu saja lokasi itu tidak sesuai dengan rencana kami untuk mengeksplorasi kawasan pantai yang sunyi untuk operasi pada 160m DX (1,8 MHz). Kami berencana menggunakan antena vertikal untuk TX.
Kami putuskan Gunung Malang sebagai QTH dari YE1C. Strategi pokok YE1C berkontes pun diubah. Dari titik berat sasaran untuk bereksperimen di pantai menjadi misi menambah skor 2010.
Diskusi mulai menyentuh evaluasi jumlah dan kinerja antena RX tipe single wire Beverage yang digunakan YE1C pada 2010. Saat itu, hanya satu Beverage yang digunakan, ke utara Gunung Malang. Dapat ditebak bahwa keputusan lanjutan kami adalah menambah senjata berupa antena penerima (rx) dan mengarahkannya ke beberapa penjuru dunia sesuka hati. Kami tidak terlalu memikirkan tentang antena TX sehingga waktu yang tersisa bisa 100% hanya untuk merancang antena RX. Inilah yang kami kerjakan dalam mingu-minggu berikutnya sebelum hari kontes.
B. Publikasi
Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, publikasi tentang operasi YE1C dimuat secara nasional pada milis Orari. Orari Daerah Jawa Barat juga memublikasikannya dalam bentuk undangan tertulis ke seluruh lokal Orari dalam naungannya
Dalam rilis yang ditulis oleh Heri, YB1KAR, di milis Orari, tertulis pula undangan bagi semua anggota Orari yang berminat menyaksikan YE1C dalam kontes. Puncak kedatangan pengunjung ke YE1C adalah di hari Sabtu, 29 Januari 2011, malam. Kami gembira mengetahui bahwa ada banyak keingintahuan mereka tentang topband dan antena RX.
C. Pelaksanaan:
Menurut hemat penulis, masih perlu beberapa perbaikan kinerja organisasi di bidang non-teknis keradioaan yang sebaiknya diantisipasi oleh Orari Daerah Jawa Barat sebagai induk YE1C dalam mengelola kegiatan terutama yang berkait dengan pelayanan bagi pengunjung dan keluarganya. Karena, kawasan Ciater adalah resor liburan yang ideal karena banyak fasilitas wisata (hotel, restoran/kedai, mesjid, atraksi bagi wisatawan, dll). Mudah dicapai dengan mobil dari Jakarta dan Bandung.
D. Saran-saran:
1. Mempertahankan partisipasi YE1C dalam kontes-kontes internasional baik CW maupun PHO
2. Melalui stasiun pembinaan, Orari Daerah Jabar dapat memulai pencarian bakat dan membina para anggotanya dari beberapa Lokal untuk membuat tim kontes yang kompeten dan tangguh. Kalau sudah siap, bisa mencoba kategori lain
3. Menjaga hubungan baik dengan pengelola beberapa kawasan di Jawa Barat yang ideal untuk pengoperasian YE1C (termasuk pihak tuan rumah di Gunung Malang, Ciater, Jawa Barat. TNX Heri YC1HQQ dan Yayan YC1BTV) di masa depan.
4. Secepatnya menyusun/melengkapi koleksi kartu QSL agar YE1C dapat meng-klaim award internasional.
Terima kasih.
Atas nama tim YE1C, 73 de Jo, YC0LOW, penggiat Topband DXing, anggota Lokal Cilandak, Orari DKI Jakarta. Memperoleh award 100 DXCC 160m, CW, #1.455, merupakan yang pertama di Indonesia (2008). Pebruari 2011 confirmed 110 DXCC, CW pada 160m.
Di bawah ini kami sajikan grafik statistik YE1C, dibuat oleh Joz, YD1JZ:
24 Januari 2011
Topband (160m) DXing di Gunung Malang, Ciater, Jawa Barat (Bagian 3)
Akhir pekan yang baru saja lewat adalah hari-hari yang sibuk bagi saya dan anggota tim YE1C di Gunung Malang, Ciater, Jawa Barat,1050 meter DPL. Melelahkan tetapi amat menyenangkan! Kenapa tidak?
Kami seperti kanak-kanak yang bermain di rumah bola. Lokasi yang sejuk dan luas untuk mewujudkan impian bereksperimen mendirikan antena penerima berukuran besar. Suatu hal yang lama kami idamkan sejak kena penyakit topband yang akut.
Sejak Jumat hingga Minggu sorenya, hujan tak turun sehingga kami bisa menyelesaikan semua pekerjaan membangun sembilan buah antena RX dengan sempurna. Bila pada tahun 2010 hanya membuat 1 antena RX jenis Beverage, maka tahun ini, YE1C, stasiun kontes Orari Daerah Jawa Barat, melompat lebih jauh dalam hal persiapannya. Ini detilnya:
Antena TX adalah biksen (bikin sendiri) dipole, full-sized, feedpoint 45 meter DPT di antara dua menara besi, self support setinggi 75 meter (lihat Gambar #1)
Rincian antena RX untuk kontes CQWW 160m CW 2011, adalah:
1. Sistem Reversible Beverage, buatan KD9SV, (330 derajat ke Utara, 150 derajat ke Selatan), dengan kawat twisted WD1-A (insulated), panjang masing-masing 234 meter. Tinggi rentang kawat berkisar 1 s/d 1,5m DPT. Feed point terletak 147 meter dari antena TX (lihat Gambar #2, Gambar #3 dan Gambar #4)
2. Single wire Beverage (30 derajat), biksen, panjang 176 meter, feedpoint terletak 70 meter dari antena TX. Tinggi rentang kawat jenis NYAF (insulated), diameter 2mm, berkisar 1 s/d 1,5m DPT.
3. Sistem 4-square RX array, buatan Hi-Z. Kotak kendali antena ke empat mata angin (U-S dan B-T) terletak sekitar 135 meter jauhnya dari antena TX. Untuk mengantisipasi adanya pembelokan sinyal terhadap kedua arah Beverage (0 dan 330 derajat), Kami merancang arah keempat elemen vertikalnya menjadi (dalam derajat):
a. utara = 0
b. selatan = 180
c. timur = 90
d. barat = 270
Dengan demikian, elemen timur dan barat akan menjadi senjata utama kami dalam menerima sinyal dari Pasifik dan Afrika.
4. Coaxial loop ala N6RK, tipe 80/160m, biksen, tinggi 1 meter DPT, terletak di halaman QTH, 45 meter jauhnya dari antena TX.
Kami beruntung karena lahan pertanian di sekitar kami sudah bebas dari pohon tomat dewasa. Usai panen, pohon dicabuti oleh petaninya (lihat Gambar #5). Sebagian dari lahan sudah ditanami bibit pohon cabe.
"Rumah bola" kami kian terbuka luas sehingga memungkinkan kami lebih bersimaharajalela. Melalui beberapa perhitungan di atas kertas serta ujicoba di lapangan pada Sabtu dan Minggu siangnya, akhirnya rancangan tata letak di atas diputuskan pada Minggu sore, menjelang waktu Sun Set (WIB).
Setelah SS, kami memanggil CQDX, terutama bagi stasiun-stasiun di NA. Ini sengaja dilakukan karena kami ingin mencoba kinerja semua antena RX -bukan antena TX- kami. Hasilnya sangat memuaskan. Joz, YD1JZ dan Danu, YD1GCL adalah dukun-dukun penguji yang andal. Directivity, rasio front-to-back (F/B) dan signal-to-ratio (S/N) diperoleh sesuai harapan.
Sebuah rapat kecil diadakan oleh Yoyon, YB1CCF, yang pada siang harinya bertugas menjadi penguji ujian kode Morse kenaikan tingkat Penggalang ke Penebak di Orari Daerah Jawa Barat di Bandung. Rapat apa? Udah mau pulang ke Jakarta, nih...
Rapat itu sama pentingnya dengan rapat perencanaan tata-letak semua antena (TX dan RX). Menyadari bahwa tak satu pun anggota tim -termasuk saya- yang pernah mengoperasikan sistem antena RX sebanyak jumlah yang dimiliki sekarang, maka dirancanglah sistem pengoperasian dan petunjuk penggunaan alat distribusi antena RX bagi operator YE1C.
Koneksinya rumit karena sistem input RX pada transceiver utama Icom IC7800 ada 4 buah. Melalui tombol dual watch, seorang operator bisa mendengar sinyal dari dua arah mata angin yang beda di masing-masing speaker headphone. Kalau swicth on antena Beverage ke utara, maka penerimaan pada speaker headphone sisi kanan. Speaker kiri bisa digunakan untuk mendengar arah lain. Demikianlah ide untuk YE1C. Keputusan tsb lalu dieksekusi dengan baik oleh Joz, YD1JZ dan Danu, YD1GCL
Inilah manfaat feature yang ada pada Icom IC-7800. Ada juga kotak distributor antena RX buatan KD9SV yang dilengkapi dengan fitur adjustable gain (lihat Gambar #9). Kotak pengendali 4sq di hamshack juga bisa digunakan ke empat arah mata angin (Gambar #10).
Minggu (23/01)malam, YC0LOW/1 sempat mencoba memanggil stasiun-stasiun dari AS. Mungkin aneh, bila Anda memantau, maka sering kali terdengar bahwa kami berhenti lama untuk menjawab, atau bahkan mengirim ketukan QRZ AGN? Sebetulnya, pada saat itu kami sedang mencoba berbagai antena RX ke beberapa arah untuk memperoleh petunjuk kinerjanya.
Saya TX pada 1822.5 kHz secara free split. Hanya menyatakan "QSX UP" tanpa menyebut frekwensi RX. Tujuannya adalah supaya pile up dari NA bisa menyebar. Beberapa stasiunAS masuk log. Salah satunya adalah KA7T dari Idaho, stasiun dari negara bagian yang langka terdengar pada Topband di sini. Untuk beberapa lama, kami mengabaikan stasiun dari EU.
Yang mengejutkan adalah laporan dan kiriman audiofile dari John, OZ1LXJ berisi rekaman CW QSO dengan Robert, W7LR di Montana, AS. John mendengar dengan Q5 panggilan DX saya pada 1,5 jam sebelum waktu SS di sana.
Pukul 2300 WIB kami meninggalkan lokasi menuju arah Jakarta. Kalau kami umbar nafsu bisa terlalu horny, konon bisa masuk golongan yang merugi karena tidak seimbang.
Kami seperti kanak-kanak yang bermain di rumah bola. Lokasi yang sejuk dan luas untuk mewujudkan impian bereksperimen mendirikan antena penerima berukuran besar. Suatu hal yang lama kami idamkan sejak kena penyakit topband yang akut.
Sejak Jumat hingga Minggu sorenya, hujan tak turun sehingga kami bisa menyelesaikan semua pekerjaan membangun sembilan buah antena RX dengan sempurna. Bila pada tahun 2010 hanya membuat 1 antena RX jenis Beverage, maka tahun ini, YE1C, stasiun kontes Orari Daerah Jawa Barat, melompat lebih jauh dalam hal persiapannya. Ini detilnya:
Antena TX adalah biksen (bikin sendiri) dipole, full-sized, feedpoint 45 meter DPT di antara dua menara besi, self support setinggi 75 meter (lihat Gambar #1)
![]() |
| Gambar #1. Dari kiri ke kanan: Agus (asisten), Yayan (YC1BTV), Jo (YC0LOW), Enjang (asisten), Danu (YD1GCL) di hadapan kotak pengendali 4-sq RX array Hi-Z. Tampak dua menara di latar belakang. |
Rincian antena RX untuk kontes CQWW 160m CW 2011, adalah:
1. Sistem Reversible Beverage, buatan KD9SV, (330 derajat ke Utara, 150 derajat ke Selatan), dengan kawat twisted WD1-A (insulated), panjang masing-masing 234 meter. Tinggi rentang kawat berkisar 1 s/d 1,5m DPT. Feed point terletak 147 meter dari antena TX (lihat Gambar #2, Gambar #3 dan Gambar #4)
![]() |
| Gambar #2. Kotak X-former. Dua utas coax RG6-U menuju hamshack |
![]() |
| Gambar #3. Kotak X-former terpasang di batang kayu, dilihat lebih dekat. Ujung jauh kawat WD1-A ada di lereng bukit seberang. |
![]() |
| Gambar #4. Kami habiskan 750 meter coax RG6-U sebagai feedline ke semua antena RX. Idealnya, dikubur. |
2. Single wire Beverage (30 derajat), biksen, panjang 176 meter, feedpoint terletak 70 meter dari antena TX. Tinggi rentang kawat jenis NYAF (insulated), diameter 2mm, berkisar 1 s/d 1,5m DPT.
3. Sistem 4-square RX array, buatan Hi-Z. Kotak kendali antena ke empat mata angin (U-S dan B-T) terletak sekitar 135 meter jauhnya dari antena TX. Untuk mengantisipasi adanya pembelokan sinyal terhadap kedua arah Beverage (0 dan 330 derajat), Kami merancang arah keempat elemen vertikalnya menjadi (dalam derajat):
a. utara = 0
b. selatan = 180
c. timur = 90
d. barat = 270
Dengan demikian, elemen timur dan barat akan menjadi senjata utama kami dalam menerima sinyal dari Pasifik dan Afrika.
![]() |
| Gambar #5. Elemen arah Barat dan dua petani Gunung Malang, Jawa Barat |
![]() |
| Gambar #6. Kotak pengendali elemen dan preamp utama (kotak kecil). Diletakkan di tengah bidang keempat elemen antena vertikal. Dua gulungan coax adalah short and long phasing delay lines semacam coax stub. Diukur dan dipotongkan secara presisi untuk saya oleh Lee, K7TJR. |
4. Coaxial loop ala N6RK, tipe 80/160m, biksen, tinggi 1 meter DPT, terletak di halaman QTH, 45 meter jauhnya dari antena TX.
Kami beruntung karena lahan pertanian di sekitar kami sudah bebas dari pohon tomat dewasa. Usai panen, pohon dicabuti oleh petaninya (lihat Gambar #5). Sebagian dari lahan sudah ditanami bibit pohon cabe.
"Rumah bola" kami kian terbuka luas sehingga memungkinkan kami lebih bersimaharajalela. Melalui beberapa perhitungan di atas kertas serta ujicoba di lapangan pada Sabtu dan Minggu siangnya, akhirnya rancangan tata letak di atas diputuskan pada Minggu sore, menjelang waktu Sun Set (WIB).
![]() |
| Gambar #7. Sebuah long shot lahan "surga" topbander. Tampak elemen-elemen antena vertikal ke arah (kiri ke kanan): Utara, Selatan dan Timur. |
![]() |
| Gambar #8. Kotak pengendali sementara dibungkus plastik dan elemen Utara |
Setelah SS, kami memanggil CQDX, terutama bagi stasiun-stasiun di NA. Ini sengaja dilakukan karena kami ingin mencoba kinerja semua antena RX -bukan antena TX- kami. Hasilnya sangat memuaskan. Joz, YD1JZ dan Danu, YD1GCL adalah dukun-dukun penguji yang andal. Directivity, rasio front-to-back (F/B) dan signal-to-ratio (S/N) diperoleh sesuai harapan.
Sebuah rapat kecil diadakan oleh Yoyon, YB1CCF, yang pada siang harinya bertugas menjadi penguji ujian kode Morse kenaikan tingkat Penggalang ke Penebak di Orari Daerah Jawa Barat di Bandung. Rapat apa? Udah mau pulang ke Jakarta, nih...
Rapat itu sama pentingnya dengan rapat perencanaan tata-letak semua antena (TX dan RX). Menyadari bahwa tak satu pun anggota tim -termasuk saya- yang pernah mengoperasikan sistem antena RX sebanyak jumlah yang dimiliki sekarang, maka dirancanglah sistem pengoperasian dan petunjuk penggunaan alat distribusi antena RX bagi operator YE1C.
Koneksinya rumit karena sistem input RX pada transceiver utama Icom IC7800 ada 4 buah. Melalui tombol dual watch, seorang operator bisa mendengar sinyal dari dua arah mata angin yang beda di masing-masing speaker headphone. Kalau swicth on antena Beverage ke utara, maka penerimaan pada speaker headphone sisi kanan. Speaker kiri bisa digunakan untuk mendengar arah lain. Demikianlah ide untuk YE1C. Keputusan tsb lalu dieksekusi dengan baik oleh Joz, YD1JZ dan Danu, YD1GCL
Inilah manfaat feature yang ada pada Icom IC-7800. Ada juga kotak distributor antena RX buatan KD9SV yang dilengkapi dengan fitur adjustable gain (lihat Gambar #9). Kotak pengendali 4sq di hamshack juga bisa digunakan ke empat arah mata angin (Gambar #10).
![]() |
| Gambar #9. KD9SV, Switch Box dengan Adjustable Gain (photo courtesy of Radioware) Gambar #10. Kotak Kendali Utama 4-sq RX Array (photo courtesy of Hi-Z Antenna. Indikator menggunakan lampu LED |
Minggu (23/01)malam, YC0LOW/1 sempat mencoba memanggil stasiun-stasiun dari AS. Mungkin aneh, bila Anda memantau, maka sering kali terdengar bahwa kami berhenti lama untuk menjawab, atau bahkan mengirim ketukan QRZ AGN? Sebetulnya, pada saat itu kami sedang mencoba berbagai antena RX ke beberapa arah untuk memperoleh petunjuk kinerjanya.
Saya TX pada 1822.5 kHz secara free split. Hanya menyatakan "QSX UP" tanpa menyebut frekwensi RX. Tujuannya adalah supaya pile up dari NA bisa menyebar. Beberapa stasiunAS masuk log. Salah satunya adalah KA7T dari Idaho, stasiun dari negara bagian yang langka terdengar pada Topband di sini. Untuk beberapa lama, kami mengabaikan stasiun dari EU.
Yang mengejutkan adalah laporan dan kiriman audiofile dari John, OZ1LXJ berisi rekaman CW QSO dengan Robert, W7LR di Montana, AS. John mendengar dengan Q5 panggilan DX saya pada 1,5 jam sebelum waktu SS di sana.
Pukul 2300 WIB kami meninggalkan lokasi menuju arah Jakarta. Kalau kami umbar nafsu bisa terlalu horny, konon bisa masuk golongan yang merugi karena tidak seimbang.
19 Januari 2011
Topband (160m) DXing di Gunung Malang, Ciater, Jawa Barat (Bagian 2)
Dari mana saya harus mulai sambung tulisan pada Bagian Kesatu? Dari sini saja:
Sebelum diputuskan untuk "balik-bakul" ke Gunung Malang, Ciater, Jawa Barat, saya ditraktir oleh beberapa anggota tim YE1C, stasiun kontes Orari Daerah Jawa Barat, untuk berkunjung ke Pamengpeuk, Garut, Jawa Barat.
Rencananya, di sana akan didirikan stasiun kontes dengan lokasi dekat pantai. Ini merupakan satu pilihan untuk bereksperimen di tepi pantai agar mendapat pengalaman baru.Tetapi, setelah berada di sana, karena berbagai pertimbangan, lokasi tersebut tidak dianggap sesuai dengan rencana.
Terus terang, perjalanan dengan mobil yang cukup jauh dari Bekasi dan Jakarta tidak mengecewakan --bahkan istimewa-- karena tak satu pun dari kami yang pernah menjejakkan kaki di Pamengpeuk.
Kami sempat berfoto ala turis dengan latar belakang Pulau Sentolo, yang konon merupakan pulau terdepan di selatan Jawa.
Kami berkendara dikawal satu mobil dan teman-teman Orari Bandung dan Garut. Saya mengagumi semangat tim dalam mencari lokasi yang jauh, hanya untuk dua malam berkontes
Konsep dan strategi pokok berkontes dengan YE1C pun diubah ketika kami memilih Gunung Malang di Ciater, Subang, Jawa Barat. Dari sasaran bereksperimen di pantai menjadi menambah skor.
Diskusi mulai menyentuh evaluasi jumlah dan kinerja antena penerima tipe single wire Beverage yang digunakan YE1C pada 2010. Saat itu, hanya satu antena Beverage yang digunakan, ke utara Gunung Malang. Pada log sheet 2010, tampak antena tsb berguna dalam menjaring stasiun JA dan EU. Kalau Anda ingat-ingat, saat itu YE1C masih bisa bertukar laporan walaupun Sun Rise sudah lewat lebih dari 10-15 menit lamanya. .
Sudah dapat ditebak bahwa salah satu keputusan penting yang kami ambil adalah menambah senjata berupa antena penerima (rx) dan mengarahkannya ke beberapa penjuru dunia. Juga, dirancang modifikasinya.
Kebetulan, harta karun saya berupa sistem antena reversible Beverage (KD9SV) dengan kawat ganda tipe WD1-A sepanjang 800 meter dan 4-square rx array (Hi-Z) sudah lama tersimpan di rumah.
Untuk menambah dua buah Beverage sangat mungkin karena saya punya dua buah transformer Beverage (9:1 Z ratio) buatan DX Engineering (lihat Gambar #1) dan buatan KD9SV yang juga nganggur (Gambar #2, bawah).
Bila diperlukan transformer tambahan, maka saya masih punya stok toroid BN-202-73. Harta lainnya yang dimiliki Joz, YD1JZ, adalah antena penerima, vertikal, ARAV-1P buatan DX Engineering (Gambar #3).
Yang diperlukan adalah coax untuk feederline dan kabel telepon isi 4 kawat untuk kabel daya DCV yang panjangnya ratusan meter! Kira-kira, itulah beberapa komponen penting yang akan difungsikan.
15 Januari 2011 di Gunung Malang. Pekerjaan instalasi dan pengecekan antena tx dan rx selesai dengan cepat sebelum Maghrib. Usai makan malam, kami istirahat. Kami yakin bahwa "the show is about to go on" pada 1822.5 kHz. Laporan dari beberapa stasiun seperti 9M2, VK9, DU1, HL5 dan BU2 tentang sinyal kami amat membesarkan hati.
Sejak 2000z kondisi propagasi 160m terbuka. Laporan melalui ON4KST Chat-line penuh dengan komentar tentang penerimaan sinyal YC0LOW/1 di EU dan di pantai timur NA.
Saya dan Joz sempat kewalahan melayani pile-up dari JA (rx dengan Beverage utara). Kalau dilayani terus, kapan habisnya? pikir kami. Terpaksa kami menjadi sombong sedikit dengan cara beralih "CQ DX NA SA".
Beberapa stasiun EU mencoba curi perhatian, namun teringat nasihat guru ngaji, kami harus tetap istiqomah.
Laporan dari stasiun NA makin banyak termasuk dari beberapa pesohor topband op. antara lain: K8PO, N1BUG* dan K1UO di Maine, AA1K di Delaware, W4ZV di North Carolina, N8RR di West Virginia, K3SX di Maryland, K1ZM dan N1DG di Massachusettes, stasiun di Pennsylvania (call tidak terbaca) dll. Kali ini Amerika Serikat "geger" bukan karena Sarah Pallin.
*) Klik untuk mendengar rekaman sinyal saya di Maine, QTH Paul N1BUG
http://www.4shared.com/music/WWY_6-dE/N1BUG_hrd_YC0LOW-1_15Jan2011.html
Di bawah ini, beberapa kutipan (UTC, Call, Name, Msgs). Perhatikan selang waktu pengiriman pesan dan periksa negara bagian pengirim di AS. Itu membuktikan bahwa sinyal dari Gunung Malang terdengar relatif serentak di kawasan yang beda.
Pesan moral dari kisah ini adalah: Anda adalah operator 160m yang kurang bertanggung jawab bila lontaran sinyal 160m Anda diterima kuat di DX, namun Anda tak dapat mendengar panggilan mereka.
Sebelum diputuskan untuk "balik-bakul" ke Gunung Malang, Ciater, Jawa Barat, saya ditraktir oleh beberapa anggota tim YE1C, stasiun kontes Orari Daerah Jawa Barat, untuk berkunjung ke Pamengpeuk, Garut, Jawa Barat.
Rencananya, di sana akan didirikan stasiun kontes dengan lokasi dekat pantai. Ini merupakan satu pilihan untuk bereksperimen di tepi pantai agar mendapat pengalaman baru.Tetapi, setelah berada di sana, karena berbagai pertimbangan, lokasi tersebut tidak dianggap sesuai dengan rencana.
Terus terang, perjalanan dengan mobil yang cukup jauh dari Bekasi dan Jakarta tidak mengecewakan --bahkan istimewa-- karena tak satu pun dari kami yang pernah menjejakkan kaki di Pamengpeuk.
Kami sempat berfoto ala turis dengan latar belakang Pulau Sentolo, yang konon merupakan pulau terdepan di selatan Jawa.
Kami berkendara dikawal satu mobil dan teman-teman Orari Bandung dan Garut. Saya mengagumi semangat tim dalam mencari lokasi yang jauh, hanya untuk dua malam berkontes
Konsep dan strategi pokok berkontes dengan YE1C pun diubah ketika kami memilih Gunung Malang di Ciater, Subang, Jawa Barat. Dari sasaran bereksperimen di pantai menjadi menambah skor.
Diskusi mulai menyentuh evaluasi jumlah dan kinerja antena penerima tipe single wire Beverage yang digunakan YE1C pada 2010. Saat itu, hanya satu antena Beverage yang digunakan, ke utara Gunung Malang. Pada log sheet 2010, tampak antena tsb berguna dalam menjaring stasiun JA dan EU. Kalau Anda ingat-ingat, saat itu YE1C masih bisa bertukar laporan walaupun Sun Rise sudah lewat lebih dari 10-15 menit lamanya. .
Sudah dapat ditebak bahwa salah satu keputusan penting yang kami ambil adalah menambah senjata berupa antena penerima (rx) dan mengarahkannya ke beberapa penjuru dunia. Juga, dirancang modifikasinya.
Kebetulan, harta karun saya berupa sistem antena reversible Beverage (KD9SV) dengan kawat ganda tipe WD1-A sepanjang 800 meter dan 4-square rx array (Hi-Z) sudah lama tersimpan di rumah.
Untuk menambah dua buah Beverage sangat mungkin karena saya punya dua buah transformer Beverage (9:1 Z ratio) buatan DX Engineering (lihat Gambar #1) dan buatan KD9SV yang juga nganggur (Gambar #2, bawah).
![]() |
| Gambar #1. 9-1 DXE, 9:1 Single Wire Beverage Transformer (photo courtesy of DX Engineering) |
![]() | ||||
| Gambar #2. KD9SV, 9:1 Single Wire Beverage Transformer (photo courtesy of Radioware) |
Bila diperlukan transformer tambahan, maka saya masih punya stok toroid BN-202-73. Harta lainnya yang dimiliki Joz, YD1JZ, adalah antena penerima, vertikal, ARAV-1P buatan DX Engineering (Gambar #3).
Yang diperlukan adalah coax untuk feederline dan kabel telepon isi 4 kawat untuk kabel daya DCV yang panjangnya ratusan meter! Kira-kira, itulah beberapa komponen penting yang akan difungsikan.
![]() |
| Gambar #3. DXE RX Antena ARAV-1P (photo courtesy of DX Engineering) |
15 Januari 2011 di Gunung Malang. Pekerjaan instalasi dan pengecekan antena tx dan rx selesai dengan cepat sebelum Maghrib. Usai makan malam, kami istirahat. Kami yakin bahwa "the show is about to go on" pada 1822.5 kHz. Laporan dari beberapa stasiun seperti 9M2, VK9, DU1, HL5 dan BU2 tentang sinyal kami amat membesarkan hati.
Sejak 2000z kondisi propagasi 160m terbuka. Laporan melalui ON4KST Chat-line penuh dengan komentar tentang penerimaan sinyal YC0LOW/1 di EU dan di pantai timur NA.
Saya dan Joz sempat kewalahan melayani pile-up dari JA (rx dengan Beverage utara). Kalau dilayani terus, kapan habisnya? pikir kami. Terpaksa kami menjadi sombong sedikit dengan cara beralih "CQ DX NA SA".
Beberapa stasiun EU mencoba curi perhatian, namun teringat nasihat guru ngaji, kami harus tetap istiqomah.
Laporan dari stasiun NA makin banyak termasuk dari beberapa pesohor topband op. antara lain: K8PO, N1BUG* dan K1UO di Maine, AA1K di Delaware, W4ZV di North Carolina, N8RR di West Virginia, K3SX di Maryland, K1ZM dan N1DG di Massachusettes, stasiun di Pennsylvania (call tidak terbaca) dll. Kali ini Amerika Serikat "geger" bukan karena Sarah Pallin.
*) Klik untuk mendengar rekaman sinyal saya di Maine, QTH Paul N1BUG
http://www.4shared.com/music/WWY_6-dE/N1BUG_hrd_YC0LOW-1_15Jan2011.html
Di bawah ini, beberapa kutipan (UTC, Call, Name, Msgs). Perhatikan selang waktu pengiriman pesan dan periksa negara bagian pengirim di AS. Itu membuktikan bahwa sinyal dari Gunung Malang terdengar relatif serentak di kawasan yang beda.
21:43:53 SM2LIY Per YC0LOW/1 CQ NA/SA peaking s8 here
21:47:10 K1UO Larry rr Per...Jo now hrg us :-(( conditions are improving though
2236 wp3c 1822.5 YC0LOW/1 gd hr in PA 22:54:29 K3SX Sid Pile Up Jo
22:55:10 W4ZV Bill (YC0LOW) Even hearing you here Jo...many years I heard you once.
22:56:52 N1BUG Paul²: Jo has an incredible signal up here. I have never heard any station from that part of the world so Q5 for this long !
2236 wp3c 1822.5 YC0LOW/1 gd hr in PA
Langganan:
Postingan (Atom)




































