10 Oktober 2009

Menjelang Musim Topband (160m) Dimulai

Bila merujuk kepada informasi dari John, ON4UN, dalam bukunya LOW Band Dxing, maka periode equinox nyaris usai. Sejak 15 Oktober setiap tahun, akan berlanjut ke periode musim dingin di belahan utara bumi. Saat itu stasiun-stasiun di sana akan mengalami kurun waktu yang ideal karena MUF yang rendah, siang hari yang pendek, lebih lama dalam gelap, matahari terbit lebih perlahan, lapisan D yang berkurang pada subuh dan senjakala dan tidak banyak QRN akibat badai petir.

Berdasarkan pengalaman saya, maka manfaat itu juga bisa diperoleh bagi kita yang mukim di belahan selatan bumi. Semua QSO 160m, long path yang sejati dari Cinere, yang saya alami (dengan VE1ZZ dan PY1BVY) terjadi pada Oktober. Tentu saja saya mulai bersiap menghadapi musim ini setelah hampir empat bulan lamanya tidak mengudara. Pengecekan singkat terhadap txcvr dan sistem antena transmisi vertikal T-load menunjukkan semua dalam keadaan baik. Target saya, kalau mungkin, bisa menjangkau kawasan pantai timur AS dan/atau bagian timur Amerika Selatan pada topband sebelum matahari terbit di Cinere.

Tiga hari yang lalu, saya mendengar YC1COZ di saat subuh WIB. Juga mendengar 3D20CR di 1824.5 KHz, sekitar 14:00Z, di hari yang sama, namun stasiun DX ini tidak menjawab panggilan saya.

Tadi pagi (WIB), 22:00Z, saya mendengar sinyal JA6LCJ yang kuat. Pada ON4KST Chat Room juga terjadi diskusi yang menarik ketika beberapa stasiun baru di Eropa berhasil kontak -yang pertama kali- dengan VK6GX. Dari Indonesia, sekitar 130:0Z saya dengar YB2EUZ op Dadang (selamat atas prefiks barunya!). Kemudian pada 22:40Z terdengar YC1YU op. Urip di Tangerang memanggil DX. Saya masuk ke frekwensi kerja dia dan kami bertukar laporan. Selamat datang di topband, OM Urip!

02 Mei 2009

JD1BLY dan JD1BMH

From: dadang darwis
To: orari-news@yahoogroups.com
Sent: Wednesday, April 29, 2009 7:41 AM
Subject: [orari-news] JD1BLY dan JD1BMH

Dear OM Jo,

29 April s/d 5 May 2009 JD1BLY, JD1BMH , JD1BLK dan JD1BMT akan beroperasi lagi di Ogasawara

28 Des 2008 12:29 YC2EUZ qso dengan JD1BMH di 160M dan 02 Jan 2009 21:14 qso dengan JD1BLY di 80M....tercantum pada on line log..

apakah JD1BMH termasuk dxcc Japan? atau Ogasawara merupakan dxcc tersendiri?
karena saya menghitungnya termasuk Japan

setelah adanya sedikit perubahan antenna (saya), apakah nanti dapat ketemu lagi dengan JD1BMH di top band?

Dadang D / YC2EUZ



Yth OM Dadang, YC2EUZ,
Ogasawara (JD1/0) adalah entitas DXCC tersendiri. Demikian juga Minami Torishima (JD1/M) yang kemunculannya lebih langka pada topband (160m). Keduanya tidak dihitung sebagai Jepang (JA).

Lokasinya yang lebih ke utara, dari arah Jawa, dan menyeberangi garis katulistiwa, membuat sinyal kita -pada musim ini- dari sini lebih sulit menembusnya karena ada faktor ekuator. Menurut John, ON4UN, dan pengalaman saya selama ini, komunikasi trans-equatorial pada topband akan membaik pada musim equinox.

Kalau Anda sudah confirm JD1 pada topband, jadi berapa jumlah DXCC di sana? 23, 25 atau berapa negara?

Gud DX es tnx. 73 de Jo, YC0LOW

Peru pada Topband (160m)

From: "Jo, YC0LOW"
To: orari-news@yahoogroups.com
Sent: Monday, April 27, 2009 6:23 AM


Pagi ini (0549 WIB), melalui Chat-line, saya diminta oleh Jack, OA4TT, untuk mencoba QSO pada topband (160m). Saya sampaikan bahwa saya sedang memanggil CQ pada frekuensi 1818.3 KHz. Dia tidak bisa mendengar sinyal saya, namun, dia minta diberi kesempatan untuk memanggil pada frekuensi saya tsb untuk lima menit lamanya sebelum saat Sun Rise tiba di Cinere.

Yang terjadi sekitar dua menit kemudian adalah saya mendengar panggilannya, di tengah QSB. Dua huruf terjelas yang saya copy adalah "TT". Sayangnya, Jack tidak bisa menangkap laporan RST yang saya kirim berulang-ulang kepadanya. Begitu puncak Sun Rise tiba di Cinere, sinyalnya pun sirna.

Para DXer Indonesia, terutama yang bekerja pada LOW bands, tentu mahfum bahwa sinyal dari Peru merupakan sebuah kelangkaan dalam pendengaran kita. Percobaan long path QSO ke OA-land saya tidak berhasil. Tetapi, fenomena ini membuktikan bahwa segala sesuatu bisa terjadi pada topband. Yang penting, beradalah di sana dan memanggillah!

Locator OA4TT adalah FH16TW (QRB 17829 km, QTF 171°).

31 Maret 2009

VK9GMW (Mellish Reef): Tabah Sampai Akhir

Ini cerita klasik dalam ikhtiar mengejar stasiun dari negara DXCC untuk menambah koleksi pada top band (160m). Saya tidur lebih cepat, sekitar 1300Z, dan bangun empat jam kemudian. Sebelum tidur, minum air putih yang banyak untuk mengaktifkan 'alarm' tubuh. Weker digital tidak perlu dinyalakan karena akan mengganggu tidur XYL. Toh seorang amatir radio tidak boleh mengganggu orang lain ketika berkesenangan :-))


Band hanya dihuni oleh derau yang tinggi. Tapi, biar saya sudah tambah tua, konon untuk menghadapinya musti tabah sampai akhir (pinjam judul film Indonesia jadul ).


Salah satu kesulitan saya untuk mencegat sinyal DX dari arah kawasan timur (Pasifik/Oceania) adalah terhalang oleh Gardu Induk PLN Gandul. Untungnya, hari cerah karena bila hujan turun, derau dari power line-noise akan meningkat.


Kartu QSL 160m, CW. dari VK9GMW
VK9GMW akhirnya terdengar lamat-lamat pada 1823.5 KHz, QSX-UP. Ini salah satu taktik dari operator top band berpengalaman. Dia tidak menyebutkan berapa Kc naiknya. Hanya 'up' alias free-split. Dengan begitu, dia bisa melayani lebih banyak stasiun dari beberapa belahan dunia dalam waktu yang singkat. Jadi, puluhan stasiun Jepang (yang hanya boleh beroperasi sampai dengan 1825 KHz) akan bisa terlayani. Sementara, stasiun non-Jepang bisa memilih memanggil di atas 1825 KHz. Pesta pun dimulai. 


Saya memilih memanggil pada 1825.5 KHz. Sekali dua kali tidak masuk karena bersaing dengan stasiun-stasiun QRO di Eropa. Sedangkan daya saya hanya 100 W.


VK9GMW beroperasi di kawasan yang senyap dari derau. Selain Icom IC-746 Pro, transceiver lainnya adalah Elecraft K3. Keduanya adalah produk istimewa untuk top band. Filter RX digitalnya lengkap. Saya yakin, dengan alat-alat itu mereka akan mendengar sinyal saya dengan jelas betapapun lemahnya. Saya geser frekuensi TX ke 1825.2 supaya tone terdengar sedikit beda dengan yang lain. Ternyata berhasil! George AA7JV punya pendengaran yang baik.


Pada 1806Z kami bertukar laporan singkat untuk dicatat ke dalam log masing-masing. Ini adalah negara DXCC yang ke-106 pada 160m bagi saya. 

Momen beberapa detik ini dipantau oleh John, OZ1LXJ. Dia menulis pada Chat-line ON4KST: "18:07:09 OZ1LXJ John: Congrats Jo YC0LOW". Pemantauan oleh pihak lain ini bisa merupakan sebuah pengukuhan terhadap sahihnya sebuah QSO dua-arah.


Setelah saya, terdengar YC0NWO memanggil dan juga berhasil kontak. Rupanya OM Chandra juga masih senang ngalong untuk berburu top band DX.


VK9LA? Entah ada di mana...

25 Januari 2009

YB-land sebuah Lubang Hitam (CQWW 160 CW, 2009)

Dalam definisi yang standar, sebuah Lubang Hitam (Black Hole) adalah suatu kawasan ruang di mana bidang tarikan gravitasinya sangat kuat sehingga tidak satupun -termasuk radiasi elektromagnetis (contoh: cahaya yang tampak) bisa lolos dari tarikannya tsb. Para DXer terutama Topbanders (DXer pada band 160m) sering menggunakan istilah black hole untuk menandai tempat-tempat di dunia yang buruk untuk dijadikan lokasi DXing karena sulit menerima sinyal lemah.

Sudah jelas, salah satu tempat tsb adalah Indonesia, setidaknya Cinere (OI33jp). Sejak maghrib tiba (24/1, WIB), tidak banyak stasiun DX yang terdengar kecuali VK6 dan 9M2. Padahal, ratusan --atau bahkan ribuan-- stasiun sedang berlomba dengan antena dan daya pancar mereka yang terbaik sejak hari kemarinnya. Antena RX saya, yaitu jenis loop dan Beverage On Ground (BoG) sama sekali tidak berfungsi menangkap sinyal-sinyal tsb.

Selebihnya, penerimaan terbatas hanya terhadap stasiun-stasiun dari negeri sendiri. Sehingga, saya akhirnya memutuskan untuk memanggil/menjawab CQ TEST dari beberapa stasiun, terutama dari Jawa Timur yang baru pertama kali saya dengar muncul di band 160m, seperti: YB3BOA, YB3XM dan YB2JBJ. Adapun stasiun lain yang terdengar dioperasikan oleh golongan 'santri terdaftar' seperti YE1ZAT (stasiun kontes Bekasi, multi-op), YC1COZ, YC1RAT, YC2EUZ, YC2YTH. Bagi saya, pengalaman kontes tahun ini seperti menjalani sebuah QSO party dengan teman-teman setanah air.

Kondisi buruk terus berlangsung sampai dinihari setelah waktu subuh. Tidak terjadi Sun Rise enhancement yang diharapkan. Sepertinya, teman-teman dari Indonesia sudah tahu kondisi ini karena yang tabah sampai akhir mengirim CQ TEST hanyalah YE1ZAT dan YC1COZ.

Sebuah pesan SMS masuk sejak semalam dari OM Dadang, YC2EUZ yang menyampaikan bahwa di Temanggung dia tidak bisa dengar DX karena noise level S9+

Apakah Temanggung --yang country side-- juga punya Lubang Hitam seperti Cinere?

Tnx es 73 de Jo, YC0LOW

22 Januari 2009

Antena L untuk TX

Ketika memeriksa folder-folder email lama, saya temukan tulisan tentang antena L yang dilontarkan oleh OM Tedja, YB1KEN, sbb:

----- Original Message -----
From: Jo, YC0LOW
To: arot@yahoogroups.com
Sent: Thursday, April 13, 2006 7:46 AM
Subject: [arot] Antena Inverted-L


Antena L yang ditulis oleh OM Tedja di bawah ini mungkin dimaksudkan sebagai inverted-L, sebuah tipe antena yang sejak Januari 2006 saya gunakan untuk bekerja di topband (160m) dengan hasil yang baik (5 negara DXCC baru, worked with 100W, sejak Januari 2006). Sebelum ini saya gunakan antena dipole setengah lambda dengan feed-line berupa ladder-line 450 Ohms.

Antena inverted-L adalah antena yang banyak digunakan oleh top bander DX di seluruh dunia karena praktis dan dapat digunakan di band-band yang lain (tergantung pada matching system-nya). Sering dijuluki sebagai "poor man's vertical" (vertikalnya orang miskin) karena biaya pembuatannya sangat murah --tanpa mengorbankan efektifitas dan efisiensinya untuk transmit/TX di band yang diinginkan. Saya membangun antena TX ini hanya dengan biaya sekitar Rp 200.000.

Seperti OM Tedja, saya pun merasa puas dengan tipe antena ini. Bila ingin tahu lebih banyak, silakan browse ke website dukunnya http://www.cebik.com/fdim/fdim10.pdf . Saya berharap semoga antena ini lebih banyak diminati oleh teman-teman di YB-land.

Yang perlu diingat, semua tipe antena vertikal untuk TX belum tentu merupakan solusi jitu untuk memperkecil lahan. Bisa-bisa, ekspansi lahan justru diperlukan untuk membentang ground-radials sebanyak-banyaknya karena di situlah kuncinya.

Adapun ihwal mengenai antena GAP Vertical, saya dapat kabarkan bahwa para top bander DX jarang menggunakannya (kecuali di band 80, 40 dan yang lebih tinggi lagi). Yang sering digunakan adalah Titanex www.titanex.de. Banyak kegiatan top band DXpedition yang berhasil mengirim sinyal yang baik ke pojok-pojok dunia karena menggunakan antena ini.

73 de Jo, YC0LOW

From: Soetedja Wihardja
To: arot@yahoogroups.com
Sent: Wednesday, April 12, 2006 11:56 PM

Saya melihat di internet ada alternatif antena yaitu Vertikal antena dari "GAP antena" seri Voyager yg dapat bekerja pada 160 meter, 80 meter, 40 meter, 20 meter. Menurut info harganya berkisar US $ 390. Harga sebesar itu cukup berat untuk ukuran saya, dan mungkin juga untuk ukuran banyak rekan amatir lainnya..

Alangkah baiknya, jika antena tersebut yg telah mempunyai reputasi bagus dapat dibuat replikanya di Indonesia, hingga dapat diperbanyak dan dibuat dengan harga murah. Dengan demikian diharapkan lebih banyak rekan amatir yg bekerja pada HF.

13 Januari 2009

Antena RX Jenis Loop ala N6RK pada Band 80m




 Pengamatan awal kinerja antena RX jenis loop ala N6RK saya lakukan pada 80m SSB, tepatnya pada saat YB Net 80m berlangsung pada Senin 12 Januari 2009, mulai 1300 UTC.  

Net Control Station adalah OM Dewa dari Bali. Lokasi NCS di Pulau Dewata tsb sangat menguntungkan bagi pengamatan saya ini karena banyak stasiun dari kawasan Indonesia timur yang check-in. Artinya, makin banyak peluang saya untuk bisa mendengar sinyal dari dari arah timur yang berjarak >1500 kilometer. Gambar di atas adalah dimensi antena RX dari N6RK.

Bisa dilaporkan di sini, saya dapat meng-copy semua sinyal dari daerah panggilan (call-area) 9 dengan baik. Kuat sinyal memang berbeda-beda, namun, rasio S/N yang tinggi membuat penerimaaan menjadi lebih baik. Readibility semuanya Q5! Bahkan, pada saat semua stasiun dipanggil untuk check-in saya dapat mendengar jelas beberapa stasiun yang berebut masuk.

Saya tidak sempat memantau net tsb sampai usai karena malam itu ada pekerjaan penting lainnya sehingga pengamatan saya sudahi sampai dengan panggilan ke call area 2. Namun, subuh dini harinya (WIB) saya coba memantau sinyal dari Eropa pada 80m, CW. Walau pun kondisi propagasi tidak baik, saya sempat menangkap ketukan kode Morse dari stasiun-stasiun di Jepang dan Eropa (timur dan barat). Jadi, saya simpulkan, antena RX loop ini telah bekerja baik bagi saya pada 80m.

Oh ya, saya lupa menuliskan bahwa transceiver yang digunakan dalam pengamatan penerimaan ini adalah unit kesayangan saya Yaesu FT-1000MP (orsinil).

12 Januari 2009

Noise

Di bawah ini adalah diskusi tentang noise pada LOW bands yang dimuat pada maillist Orari-News. 

Diskusi diawali oleh pesan yang dikirim oleh OM Dadang Darwis, YC2EUZ. Saat pesan ini ditulis, beliau aktif berDX pada top band (160m). Pengamatannya tentang propagasi dan noise di kawasan sekitar QTH-nya di Temanggung, Jawa Tengah tidak hanya mengundang banyak pendapat pada maillist, melainkan juga sangat berharga bagi saya karena belum pernah ada laporan yang mendalam dari sana. Itu sebabnya saya kumpulkan dan muat pada blog ini. 

Terima kasih untuk semua yang telah menyumbangkan pikiran tentang ini. Semoga berguna. Selamat menikmati!

From: dadang darwis
To: orari-news@yahoogroups.com
Sent: Sunday, January 11, 2009 7:18 AM
Subject: [orari-news] noise


sabtu pagi ternyata noise masih s9 plus di temanggung...dan terdengar menjalar pada semua band..berjumpa lagi dengan VQ9LA untuk yang ke 3 di 1.814/1.816 dan XU7ACY di 1.822.3...just say gm 599...juga termasuk selamat pagi untuk OM Jo..di 1.818.3
minggu pagi condx masih kurang bersahabat...
qso ke 2 stasiun dari Hongkong setelah sebelumnya VR2DS pada Nov 2008,
bertambah lagi dengan VR2PX pada 22.05 1.810.5 579/589
YC0LOW dan XU7ACY terdengar kuat seperti biasanya, beberapa staiun terdengar tapi imut2 banget dan qsb
message dari OM Jo, jangan terkena penyakit top band....mendengar dan mencari signal yang lemah...hehehe..terima kasih

dadang d / yc2euz


From: Jo, YC0LOW
To: orari-news@yahoogroups.com
Sent: Sunday, January 11, 2009 7:48 AM
Subject: Re: [orari-news] noise


Yth OM Dadang, YC2EUZ,
Anda tergolong beruntung karena, dalam waktu yang relatif singkat, bisa berjumpa dengan dua stasiun dari VR2 pada top band. Beda pengalamannya dengan saya yang perlu menunggu sampai setahun lamanya untuk berjumpa dengan VR2BG, satu-satunya stasiun yang beroperasi pada top band (160m) dari Hongkong.

Pagi ini saya dengar sinyal kuat dari Anda pada 1828 KHz. Rupanya, penyempurnaan demi penyempurnaan pada antena TX terus Anda lakukan. Semoga segera bisa dapat QSO dengan Bjorn dan John di Svalbaard (JW-land). Letak mereka yang ke utara EU akan lebih memungkinkan dijangkau dari Indonesia melalui polar path.

Kalau tentang derau (noise) pada top band, ya memang di band inilah pusat kerajaannya.
73 de Jo, YC0LOW

----- Original Message -----
From: dhismas wibowo
To: orari-news@yahoogroups.com
Sent: Sunday, January 11, 2009 1:01 PM
Subject: Re: [orari-news] noise

OM Jo dan temen2 lain penggemar derau,

Beberapa saat lalu saya mendapatkan akses di rooftop kantor, letaknya di dak lantai 5.Tempatnya lumayan luas, sekitar 20x20 meter. Tempatnya memungkinkan untuk memasang antenna.

Saya bawa TS-690S ke kantor dan power supply switching. Ruangan saya di Lt 3. Di sisi timur gedung, dan punya sendiri jendela yg bisa dibuka.

Test RX 1.
Kabel sepanjang 5 meter, saya "klewerkan" dr jendela, nggantung ke bawah lewat jendela, dan ujung satunya saya hubungkan ke konektor antenna. Kabel ini difungsikan sbg antenna. Jam 12.30 WIB radio dinyalakan, scanning di semua band.
Noise sangat tinggi antara S7-S9 di semua band. Biasanya, pada jam-jam makan siang, di 40m band saya biasa dengerin banyak temen-temen qso.

Sore hari jam 19.00 WIB, radio dinyalakan lagi, terdengar beberapa temen qso di 80m dan 40m. Tetapi susah untuk meng-copy karena tertimbun noise.

Test RX 2.
Dari radio, kabel sepanjang 20m, keluar lewat jendela. Dari jendela Lt 3 naik ke rooftop di lantai 6, terus flat. Jadi bentuknya seperti inverted-L, dengan sisi vertikal 10m dan sisi horisontal juga 10m.

Jam 12.30 WIB radio dinyalakan, scanning di semua band. Noise tinggi antara S5-S7 di semua band. Tidak terdengar adanya QSO di band 40m.

Sore hari jam 19.00 WIB, radio dinyalakan lagi, terdengar beberapa temen qso di 80m. Kondisi noise masih tinggi sehingga susah untuk meng-copy percakapan.

Lokasi kantor saya ada di daerah industri, di daerah sunter Podomoro.Test RX ini berlangsung selama 1 bulan.

Ketika radio saya bawa ke rumah, hanya dengan paperclip yang dipasang di konektor antenna, radio tersebut bisa denger temen2 qso dengan jelas di 80 dan 40m.

bagaimana cara mengurangi noise tersebut ya?

73, yc0nho

----- Original Message -----
From: Jo, YC0LOW
To: orari-news@yahoogroups.com
Sent: Sunday, January 11, 2009 6:32 PM
Subject: Re: [orari-news] noise


Yth OM Dhismas, YC0NHO,
Rooftop sebuah bangunan tinggi juga pernah menjadi idaman saya untuk dijadikan tempat bagi sebuah antena TX. Sehingga, saya pernah berhasil memasang antena untuk TX jenis dipole untuk topband di lantai 33 di gedung tempat kantor saya berada. Namun, semua sia-sia. Noise yang didapat di sana jauh lebih 'beringas' karena QRM (man-made noise). Satu lantai di bawah rooftop adalah tempat untuk mesin-mesin AC/chiller. Lalu, dipinggir bangunannya ada banyak neon-sign berlistrik.

Untuk menjawab pertanyaan Anda, maka prinsip jawabannya adalah lakukan 'noise audit', misal menjauhi gedung bertingkat yang masih dioperasikan. Juga kita bisa mengurangi interferensi broadcast, bila ada, dengan menggunakan bandpass filter, dll. Saya yakin, walaupun hotel bertingkat tinggi selalu dipilih oleh pelaku DXpedition, namun pada akhirnya mereka akan lebih memilih bangunan hotel yang rendah namun sudah lulus proses 'noise-auditing' olehnya.

Kita tidak bisa menambah kuat sinyal stasiun lawan. Yang bisa kita lakukan adalah 'nulling-out' derau lokal (local noise) dengan menggunakan antena penerima yang terpisah. Rasio S/N yang baik untuk penerimaan harus diperoleh dengan memainkan faktor gain dan directivity pada sistem antena penerima. Saya sebut sebagai sistem karena di dalamnya termasuk juga fungsi pre-amp eksternal/internal, dll. Pada antena TX, faktor-faktor dan fungsi tsb digunakan hanya untuk keperluan pancaran.

Cara terakhir yang paling jitu dalam mengurangi derau adalah menjauhi 'kerajaannya' :-))

PS: Saat ini saya sedang gunakan dan mengamati antena RX loop ala N6RK untuk 160m/80m yang menurut saya lumayan kinerjanya (lihat http://topbanddxdiindonesia.blogspot.com/ ) bila dibandingkan dengan beberapa model RX loop yang pernah saya coba sebelumnya.

Tnx es 73 de Jo, YC0LOW

----- Original Message -----
From: dhismas wibowo
To: orari-news@yahoogroups.com
Sent: Sunday, January 11, 2009 11:17 PM
Subject: Re: [orari-news] noise


Ternyata anda sdh lebih dulu mencoba om Jo,

rasa-rasanya kerajaan derau buka cabang di perkantoran dan gedung-gedung bertingkat.. :-)

Saya masih ngincer sebagai alternatif lahan untuk occasional tx. Jarak 20m dari qth, ada PD pasar jaya.Baru selesai dibangun. rooftop sama dengan lantai 4.Tempatnya lumayan luas, sepertinya cukup untuk 4 x 4 square phased array antenna di 40m.

Minggu-minggu depan semoga ada waktu luang buat audit noise. Sepertinya low noise,tdk beda jauh dgn qth.

Bentuk antenna rx yg baru anda coba spt cerita di blog anda, sepertinya menarik. Sekedar pengin tahu, anda mencobanya formasi array atau single? Mengingat tidak memakan tempat dan simple, sepertinya memungkinkan untuk dibuat/dipasang dalam formasi array. Ya... kali aja bisa nyoba seperti temen2 di belanda yg pasang array 4xK9AY loop.

Btw, bagaimana cara audit noise menurut anda?

73, de yc0nho

----- Original Message -----
From: unclebam@gmail.com
To: orari-news@yahoogroups.com
Sent: Monday, January 12, 2009 12:50 AM
Subject: Re: [orari-news] noise


DR WO2K,

tambahan dikit:
- - - - - - - - - - -
man-made noise yg disebut mas jo di bwh ini kebanyakan berpolarisasi vertikal, makanya ada yg mengusulkan (lebih pas-nya: meneorikan) bhw utk mengurangi-nya (tp TIDAK utk menghilangkannya) gunakanlah antena (RX) yg berpolarisasi horizontal.
bbrp orang pinter (di bidang per-antena-an) menyebutkan bhw kebanyakan kepanjangan antena yg berupa kelipatan ganjil dr 1/4 lambda akan membentuk sebuah antena vertikal (pd band-band tertentu) yg tentunya berpolarisasi vertikal juga.
konsekuensi logisnya (ato sebenarnya lbh merujuk kpd "common sense" belaka), bertambah panjang ukurannya (mis.: 3x, 5x, 7 x dst dr 1/4 lambda di band x), bertambah besar juga noise yg di-pick up-nya.

walopun nggak persis-persis banget ... antena RX-1 dan RX-2 anda kok jatuhnya nyrempet-nyrempet di kategori "kelipatan ganjil" dr 1/4 lambda di 80 dan 40m, brngkl -- kalo' blm smpt anda turunin -- bs dicoba dipanjangin dikit shg mendekati ukuran 1/2 lambda di masing-masing band, trus silah umpan dia ditengah-tengah (center fed), JNGN dg end fed spt selama ini.

kalo' aja bang jo YB0JWA ada "monitor" di milis ini, brngkl bisa ato mau sharing pengalaman bliao dg naikin antena di puncak/roof top gedung bertingkat banyak yg dilakoninya selama ini.

- - - - - - - - - - - -

btw, sy sndr prnh "mengamati" fenomena yg sama wkt br pindah ke QTH sy yg di bogor ini (akhir 1999). dg radio biasa (home rx, tp ada BFO-nya) berantena telescopic whip sy nggak bisa denger apa-apa ... noise mengalahkan segalanya.
kebetulan suatu hari listrik/palino mati -- dan begitu sy ON-kan rdo tsb ternyata 40m seolah terbuka lebar-lebar. bgt listrik nyala lagi, noise-hunting pun dimulai ... ternyata hanya sela satu pekarangan/kebun di blkang rumah ada tiang listrik swadaya tetangga dr RT sebelah, dan di atasnya tergantung lampu neon 70an watt yg mngkn sdh 2-3 thn nggak pernah dimatiin (krn memang langsung di"wyndom" dr kabel yg melintang di atas, jd nggak pake skakelar on/off spt seharusnya ).
alkisah, listrik di RT sebelah tsb (yg dicatu dr gardu yg berbeda dg gardu pencatu tempat sy) memang voltage-nya "amit-amit" banget, paling tinggi juga 170 - 180 V, shg disamping lampu neon tsb (dan jg di rmh-rmh para tetangga) suka' byar-pet jg "generating" noise yg cukup mengganggu.

solusi wkt itu, melalui jejaring RT/RW sampe Kelurahan sy provokasi anak-anak muda disitu utk mengajukan "petisi" ke PLN, utk mengganti koneksi perkabelan ke gardu lain, ato meng-check tarikan kabel dr gardu yg skrng, jangan-jangan masih bisa di"mainin" koneksi antar fasanya (akhirnya ternyata opsi yg terakhir ini yg bener). ternyata trick tsb berhasil, dan noise dr neon yg byar-pet krn voltage yg "marginal" tsb bisa dibilang g'prnh muncul lg ..., sampe sy bisa naikin antena (dan berganti bbrp kali) dan mulai on-air lg sejak januari 2000 sampe skrng ...

[note: "musuh" sy cuma petir "yg ganas", angin (daerah sekitar kan msh "kosong"), layangan sehabis musim panen, dan kerbo pembajak sawah di blakang rmh (yg pernah nyruduk bambu tiang antena yg "salahnya" sy tancepin di sisi luar dr pagar keliling pekarangan]

[bam]

----- Original Message -----
From: Jo, YC0LOW
To: orari-news@yahoogroups.com
Sent: Monday, January 12, 2009 5:37 AM
Subject: Re: [orari-news] noise


Yth OM Dhismas, YC0NHO
Terima kasih atas responnya. Saya memasang antena RX loop-nya dalam formasi single. Kalau pun sudah merasa mantap dengan kinerjanya, saya tidak akan pasang secara array melainkan akan membuat versi yang dimensi lebar loop-nya dua kali lebih panjang dari yang sekarang, misal menjadi 12 meter coax-nya.

Tentang noise auditing pada low bands. Sebenarnya caranya mudah, tidak seseram istilahnya. Yang harus diingat adalah auditing hanya untuk QRM (man-made noise). Periksa alat-alat rumah tangga, kabel listrik, lampu-lampu TL di sekitar dll. Bila ditemukan sumbernya maka hilangkanlah. Untuk itu, gunakan radio penerima yang portable seperti SONY tipe ICF dan tune pada band MW (misal di sekitar 1710 KHz) dengan antena teleskopisnya yang dipanjangkan. Kalau mau lebih 'canggih' dapat menggunakan alat-alat seperti MFJ-852 (untuk kabel PLN) atau MFJ-1025/1026 (untuk derau lokal yang berasal dari satu titik). Antena RX loop dapat juga digunakan untuk kegiatan ini.

Selamat berkesperimen. 73 de Jo, YC0LOW

----- Original Message -----
From: wo2k
To: orari-news@yahoogroups.com
Sent: Monday, January 12, 2009 8:51 AM
Subject: Re: [orari-news] noise

OM Jo,
Pada band MW tersebut, mode apa yang saya gunakan? SSB-kah, AM-kah, atau any mode?

de ycØnho

----- Original Message -----
From: Jo, YC0LOW
To: orari-news@yahoogroups.com
Sent: Monday, January 12, 2009 9:01 AM
Subject: Re: [orari-news] noise

Yth OM Dhismas, YC0NHO,
Kalau saya, cenderung gunakan mode (prioritasnya berdasar urut-urutan): AM, SSB dan yang terakhir CW (bila pada perangkat receivernya ada mode ini). Kita mulai saja mendeteksi noise dengan mode yang bandwith-nya lebar. Sesungguhnya, dengan mode AM pun kita sudah bisa mendeteksi sumber-sumber QRM di sekitar kita. Tks es 73 de Jo, YC0LOW

08 Januari 2009

Antena RX Jenis Loop ala N6RK di Cinere






Awal Januari 2009, saya membuat antena penerima (RX) jenis loop berdasarkan skema dari Rick, N6RK (lihat www.n6rk.com/loopantennas/pacificon.pdf). Dua komponennya yaitu varactor NTE618 dan ferrite toroid agak sulit ditemukan di Jakarta sehingga harus dipesan dari sumber-sumbernya di Amerika Serikat (Mouser dan Amidon).

Singkat cerita, akhirnya semua bahan siap dirakit dan cukup waktu sekitar tiga jam saja untuk mendirikan sitem antena RX tsb. Konon, antena tsb bisa dipakai untuk RX pada band-band 80m dan 160m. Salah satu keuntungan dari sistem ini adalah kita bisa menala antena tsb secara remote dengan mengubah voltage yang ditempatkan di hamshack. Jadi, kita tidak perlu keluar-masuk rumah untuk menalanya (lihat gambar rangkaian transformer, paling atas)


Bagaimana hasilnya? saya akan perlu waktu untuk mengamati kinerjanya, dan menuliskannya bagi Anda.

03 Januari 2009

Malam yang Ramai pada 160m

Malam yang lumayan ramai terjadi hari ini (UTC). Maksud saya, ramai oleh stasiun-stasiun dari Indonesia. 

Pertama terdengar adalah Ray, YC1RAT, lalu Feri, YC1COZ, dan Dadang, YC2EUZ. Dua yang terakhir disebutkan, dengan sengaja 'mampir' di frekwensi saya 1818.3 KHz untuk menyampaikan RST dan ucapan "HNY" (sekitar 2205Z). Entah bila mereka berhasil mendapatkan stasiun DX atau tidak. Yang jelas, bagi saya, pembukaan propagasi telah terjadi dalam kategori lumayan - walau tidak ada negara DXCC baru. 

Salah satu 'delight' dari bekerja DX pada topband (160m) adalah bahwa kita tidak pernah tahu kapan bisa mendengar dan didengar di negeri jauh yang mana. 

UA9KAA masuk log pada 2144Z. Lalu, SP6HEQ op. Wies, pada 2159Z. QSO saya yang pertama dengan Wies adalah pada 1998! 

Stasiun yang terdengar adalah RL3FT, 4S7NE, VQ9LA, HS0ZEE, 9M2AX, XW1B, DL5ANT dan XU7ACY. RL3FT op Yuri, melaporkan pada DX Cluster bahwa dia mendengar panggilan saya RST 579.


Satu hal yang sangat mengganggu saya adalah sejak sebulan ini, level derau (noise) di Cinere meningkat tajam usai pukul 0500 WIB. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Entah apa penyebabnya. 

Saya duga, para tetangga sudah pada bangun, lalu mulai menyalakan alat-alat listrik untuk menyambut datangnya mentari pagi. 

Pengecualian terjadi terhadap sinyal DL5ANT yang masih terdengar baik (569) pada lima belas menit setelah waktu sun rise (2243Z).


Post Scriptum:
Sekelumit statistik dari stasiun YC0LOW pada topband (160m) selama 2008 dan perbandingan datanya dengan 2007 (dalam tanda kurung). 

Semua dalam moda CW, sbb: Jumlah QSO: 142 (272), Negara DXCC: 44 (61), Negara DXCC Baru dalam Koleksi: 01 (03), Jumlah Stasiun YB/YC Worked 8 (5).


Tnx es 73 de Jo, YC0LOW

25 Desember 2008

Memperpendek Ground Radial oleh Ridwan, YC0PE


Tak banyak orang di sini yang percaya dengan keampuhan sebuah antena tx jenis vertikal pada band HF untuk long haul DX. Setidaknya, di saat awal karir saya di amatir radio, lebih banyak saya dengar rekomendasi/penggunaan jenis-jenis Yagi, three-wire, double bazooka, (rotary) dipole dll.
Bagaimana sebenarnya kinerja antena vertikal pada HF, dan bagaimana membuatnya supaya makin ampuh?

Simak penjelasan dari OM Ridwan, YC0PE tentang antena vertikal dan
ground radial-nya kepada saya di bawah ini yang, hingga kini, jadi referensi utama bagi saya bekerja DX pada top band (160m)

From: Jo,YC0LOW
Subject: Coil untuk Memperpendek GND Radials
To: ridwan_lesmana@yahoo.com
Date: Sunday, November 16, 2008, 5:23 AM

Yth OM Ridwan, YC0PE

Semoga ada dalam keadaan sehat wal afiat sekeluarga dan ada dalam keridhaanNya.

Saya sedang eksperimen dan perlu nasihat/petunjuk dari Anda. Saya sudah baca beberapa artikel Anda dalam Lemlokta (buletin berkala Orari Lokal Tanah Abang, Jakarta -Jo) dan memberanikan diri menulis langsung kepada Anda. Namun,harus saya jelaskan dulu bahwa saya tidak punya latar belakang formil di bidang rekayasa teknik elektro. Hanya seorang amatir radio :-)) 



Musti saya akui dan apresiasikan bahwa penjelasan-penjelasan teknis dalam artikel Anda tsb mudah dimengerti. Biasanya, artikel teknis 'how-to' sering bikin pusing, tapi yang Anda buat sama sekali tidak. Itu sebabnya saya memilih cara untuk menghubungi Anda secara langsung, via email.

Saya perlu informasi/rumus untuk membuat coil yang BUKAN untuk TX melainkan untuk memperpendek kawat ground radials bagi antena vertikal 160m saya.

Teorinya, panjang ground radial yang ideal/resonan adalah sekitar 1/4 lambda juga (pada band 160m bisa sepanjang 39 meter!). Padahal, lahan saya terbatas, hanya ada jarak antara 15-20 meter. 

Nah, bagaimana kita membuat ground radials sepanjang --katakanlah rata-rata 17 meter-- yang resonan dengan 1/4 lambda dengan bantuan coils. Dengan sistem ini, rencananya, saya akan membuat banyak kawat GND radials sehingga ground loss bisa dikurangi.

Apakah OM Ridwan bisa menjelaskannya? Atau, merujuk saya ke alamat tertentu di internet untuk memahaminya dan saya akan dapat membuatnya sendiri?

Mni TIA es 73 de Jo, YC0LOW.

PS: Salam hangat utk Hotang, YC0IEM, kawan lama saya dalam ber-DX



-------------------------Jawaban ada di bawah garis pemisah ini----------------

-->
24 Nopember 2008

Om Jo, YC0LOW
Sesuai dengan janji saya sebelumnya, maka saya sudah mencari dan membaca lagi beberapa artikel tentang vertical antenna dan ground radial-nya.

Saya menemukan sebuah study dari W5ALT tentang shortening ground radial dan summary-nya bisa dilihat pada point 13 dan 14 di bawah ini.

Dari beberapa artikel yang saya baca, dapat disimpulkan beberapa hal sbb tentang vertical antenna yaitu:
  1. Vertical antenna digunakan pada Low Band agar didapatkan take off angle yang rendah (sekitar 20 s/d 30 derajat).
  2. Gain dari sebuah vertical antenna sangat rendah, yaitu 0 dBi atau – 1,8 dBd.
  3. Vertical antena sebaiknya dipasang setinggi mungkin agar ground loss bisa berkurang.
  4. Ideal grounding system untuk sebuah Vertical antena sebaiknya terdiri dari 120 radial yang masing-masing panjangnya paling sedikit ½ λ (setangah lambda), dipasang secara radial dari base antena dan berjarak sama. Referensi: ARRL Antenna Book terbitan 1974 halaman 61 – 63.
  5. Ground radial bisa diletakkan langsung diatas tanah atau ditanam beberapa inch ke dalam tanah. Panjang ground radial biasanya ¼ λ.
  6. Jika jumlah ground radial berkurang, maka efficiency antenna juga akan berkurang. Sebagai contoh, jika jumlah ground radial hanya 15 buah, maka efficiency akan berkurang menjadi sekitar 50 %. Dan jika jumlah radial hanya tingal 2 buah, maka panjang ground radial menjadi kurang penting dan eficiency hanya tinggal 25 %.
  7. Untuk ground radial bisa digunakan kawat ukuran AWG #12 sampai #28.
  8. Jika jumlah ground radial tidak bisa dipenuhi, maka untuk memperbaiki system grounding bisa dilakukan dengan beberapa cara :
    1. Mempergunakan ground rod  (batang -Jo) beberapa buah yang ditanam ke dalam tanah sedalam 8 feet.
    2. Mempergunakan bantuan pipa ledeng sebagai grounding.
    3. Mempergunakan screen seperti kawat kandang burung/ayam, dsb sebagai grounding.
  9. Mengingat panjang lahan yang terbatas untuk memasang ground radial, maka ground radial boleh ditekuk melingkar (seperti pohon kelapa) sepanjang pasangan ground radial di depannya dipasang secara symmetris.
  10. Mengingat terbatasnya lahan untuk memasang ground radial, maka sering digunakan ”simulated ground” atau ”elevated ground” atau disebut juga ”counterpoise”. Dalam hal ini ground radial tidak terhubung dengan tanah, melainkan terletak pada suatu ketinggian sekitar 3 meter dari tanah. Jumlah radial bisa dikurangi hanya menjadi 4 buah dan masing-masing berukuran ¼ λ.
  11. Dalam hal point 6 yang dipakai, maka sudut antara radial dengan bidang horizontal bisa dibuat sekitar 45 derajat sehingga impedansi antenna akan sekitar 50 Ohm.
  12. Dari artikel yang saya baca tentang point 10 diatas, maka jika kita lihat Vertical Radiator ¼ λ dan sebuah ground radial dengan panjang ¼ λ saja, maka bentuknya seperti sebuah DIPOLE dimana salah satu kaki ditekuk. Dengan demikian, menurut saya sangat dimungkinkan ground radial diberi LOADING COIL (huruf tebal dari saya - Jo) seperti halnya memperpendek dipole. Cuma dalam hal ini kita harus melakukan percobaan yang akan sangat melelahkan dan memakan banyak biaya dan tenaga sedangkan hasilnya mungkin tidak memadai, apalagi jika Om Jo baca artikel dari W5ALT seperti saya summary-kan pada point 13 dan 14 berikut ini.
  13. Panjang ground radial tidak harus ¼ λ. Jika lahan tidak mencukupi, maka panjang ground radial masih boleh dikurangi (huruf tebal dari saya - Jo).
  14. Vertical radiator juga bisa dikurangi panjangnya, hanya efek pengurangan vertical radiator jauh lebih buruk dibandingkan efek pengurangan panjang ground radial.


Untuk point 13 dan 14 ini, saya summary-kan dari satu artikel yang menarik, yaitu dari W5ALT yang saya cuplik dan sertakan sebagai Lampiran. Untuk lengkapnya Om Jo bisa mendatangi web site-nya.

Saran saya untuk ground radial bagi Vertical Antena Om Jo sebaiknya dilakukan:
  1. Untuk grounding system yang dipasang di atas tanah, maka pasang ground radial seadanya (sesuai luas lahan) dan sebanyak mungkin agar ground loss bisa dikurangi. Jangan terlalu dipikirkan bahwa panjang ground radial harus ¼ λ dan jumlahnya harus 120 buah.
  1. Ground radial bisa digantikan dengan ground rod yang ditanam sedalam 8 feet atau digantikan screen kawat kandang burung atau yang lain.
  1. Jika jumlah ground radial ingin dikurangi, sebaiknya grounding system dipasang sekitar 3 meter di atas tanah dan jumlahnya cukup 4 buah dengan sudut 45 derajat terhadap bidang horizontal. Jika dipasang di atas teras rumah, maka bisa dicoba hanya dipasang 4 buah ground radial saja dengan sudut sekitar 45 derajat terhadap bidang horizontal. Dalam hal ini Anda bisa mencoba menambahkan LOADING COIL seperti pada shortened dipole.
  2.  
Selamat bereksperimen. Semoga sukses!!.

Salam,
Ridwan Lesmana, YC0PE.

21 Desember 2008

Ground Radial oleh Ridwan Lesmana, YC0PE.

Pada 24 Nopember 2008, saya mendapat pesan email dari OM Ridwan Lesmana, YC0PE, berisi artikel untuk ground radials bagi antena vertikal. Beliau adalah anggota Orari Lokal Tanah Abang, Jakarta, yang sering menulis rubrik Teknik dalam Lemlokta, sebuah terbitan berkala Lokal Tanah Abang. Saya banyak mendapat pencerahan dari beliau. Terima kasih, OM Ridwan.

Untuk sekedar berbagi dengan yang lain, saya kutip utuh tulisannya di bawah ini. Selamat membaca!

Om Jo, YC0LOW

Sesuai dengan janji saya sebelumnya, maka saya sudah mencari dan membaca lagi beberapa artikel tentang vertical antenna dan ground radial-nya.


Saya menemukan sebuah study dari W5ALT tentang “ shortening ground radial “ dan summarynya bisa dilihat pada point 13 dan 14 di bawah ini.

Dari beberapa artikel yang saya baca, dapat disimpulkan bbrp hal sbb tentang Vertical antena yaitu :

  1. Vertical antenna digunakan pada Low Band agar didapatkan take off angle yang rendah ( sekitar 20 s/d 30 derajat ).
  2. Gain dari Vertical antenna sangat rendah, yaitu 0 dBi atau – 1,8 dBd.
  3. Vertical antena sebaiknya dipasang setinggi mungkin agar ground loss bisa berkurang.
  4. Ideal grounding system untuk sebuah Vertical antena sebaiknya terdiri dari 120 radial yang masing-masing panjangnya paling sedikit ½ λ ( setangah lambda ), dipasang secara radial dari base antena dan berjarak sama. Referensi : ARRL Antenna Book terbitan 1974 halaman 61 – 63.
  5. Ground radial bisa diletakkan langsung diatas tanah atau ditanam beberapa inch kedalam tanah. Panjang ground radial biasanya ¼ λ.
  6. Jika jumlah ground radial berkurang, maka efficiency antenna juga akan berkurang. Sebagai contoh, jika jumlah ground radial hanya 15 buah, maka efficiency akan berkurang menjadi sekitar 50 %. Dan jika jumlah radial hanya tingal 2 buah, maka panjang ground radial menjadi kurang penting dan eficiency hanya tinggal 25 %.
  7. Untuk ground radial bisa digunakan kawat ukuran # 12 sampai # 28.
  8. Jika jumlah ground radial tidak bisa dipenuhi, maka untuk memperbaiki system grounding bisa dilakukan dengan beberapa cara :
    1. Mempergunakan ground rod beberapa buah yang ditanam kedalam tanah sedalam 8 feet.
    2. Mempergunakan bantuan pipa ledeng sebagai grounding.
    3. Mempergunakan screen seperti kawat kandang burung , dsb sebagai grounding.
  9. Mengingat panjang lahan yang terbatas untuk memasang ground radial, maka ground radial boleh ditekuk melingkar ( seperti pohon kelapa ) sepanjang pasangan ground radial didepannya dipasang secara symmetris.
  10. Mengingat terbatasnya lahan untuk memasang ground radial, maka sering digunakan ” simulated ground ” atau ” elevated ground ” atau disebut juga ” counterpoise ”. Dalam hal ini ground radial tidak terhubung dengan tanah, melainkan terletak pada suatu ketinggian sekitar 3 meter dari tanah. Jumlah radial bisa dikurangi hanya menjadi 4 buah dan masing-masing berukuran ¼ λ.
  11. Dalam hal point 6 yang dipakai, maka sudut antara radial dengan bidang horizontal bisa dibuat sekitar 45 derajat sehingga impedansi antenna akan sekitar 50 Ohm.
  12. Dari artikel yang saya baca tentang point 10 diatas, maka jika kita lihat Vertical Radiator ¼ λ dan sebuah Ground Radial dengan panjang ¼ λ saja, maka bentuknya seperti sebuah DIPOLE dimana salah satu kaki ditekuk. Dengan demikian, menurut saya sangat dimungkinkan ground radial diberi LOADING COIL seperti halnya memperpendek DIPOLE. Cuma dalam hal ini kita harus melakukan percobaan yang sangat melelahkan dan memakan banyak biaya dan tenaga sedangkan hasilnya mungkin tidak memadai, apalagi jika Om Jo baca artikel dari W5ALT seperti saya summarykan pada point 13 dan 14 berikut ini.
  13. Panjang ground radial tidak harus ¼ λ. Jika lahan tidak mencukupi, maka panjang Ground Radial masih boleh dikurangi.
  14. Vertical radiator juga bisa dikurangi panjangnya, hanya effek pengurangan Vertical Radiator jauh lebih buruk dibandingkan effek pengurangan panjang Ground Radial.

Untuk point 13 dan 14 ini, saya summarykan dari satu artikel yang menarik, yaitu dari W5ALT yang saya cuplik dan sertakan sebagai Lampiran.

Untuk lengkapnya Om Jo bisa mendatangi web sitenya.

Saran saya untuk Ground Radial bagi Vertical Antena Om Jo sebaiknya dilakukan :

  1. Untuk grounding system yang dipasang diatas tanah, maka pasang Ground Radial seadanya ( sesuai luas lahan ) dan sebanyak mungkin agar ground loss bisa dikurangi. Jangan terlalu dipikirkan bahwa panjang Ground Radial harus ¼ λ dan jumlahnya harus 120 buah.

  1. Ground Radial bisa digantikan dengan Ground Rod yang ditanam sedalam 8 feet atau digantikan screen kandang burung atau yang lain.

  1. Jika jumlah Ground Radial ingin dikurangi, sebaiknya grounding system dipasang sekitar 3 meter diatas tanah dan jumlahnya cukup 4 buah dengan sudut 45 derajat terhadap bidang horizontal. Jika dipasang diatas teras rumah, maka bisa dicoba hanya dipasang 4 buah Ground radial saja dengan sudut sekitar 45 derajat terhadap bidang horizontal. Dalam hal ini Anda bisa mencoba menambahkan LOADING COIL seperti pada Shortened Dipole.

Selamat bereksperimen. Semoga sukses !

Salam,

Ridwan Lesmana, YC0PE.

24 Nopember 2008