15 Januari 2010

FK8CP Masuk Log sebagai NEW one

Sejak berkarir di topband (160m) pada 1997, stasiun dari Kaledonia Baru) terus-terusan membuat saya penasaran karena sering melihat FK8CP masuk DX spot tapi sulit mendengarnya (titik lemah set-up sistem topband saya adalah ke arah timur Indonesia: Pasifik).

Malam ini, rasa penasaran itu punah karena setelah cukup lama memanggilnya pada 1831.5 QSX down 1815 kHz, akhirnya kami bertukar laporan. FK8 menjadi koleksi negara ke-112 (WKD) pada log saya. Sekali lagi, saya terbantu oleh antena RX loop ala N6RK. Kalau menggunakan antena TX, sinyalnya mejret ditindih oleh QRN.

Kerusakan pada RX antena yang saya tulis dalam maillist Antennamania, ternyata tidak separah yang diduga. Saya periksa pada Jumat pagi (WIB) dan menemukan hanya karena sebuah konektor yang kendur diterpa angin besar.

Jumat usai subuh (WIB)saya mendengar sinyal kuat KH2L pada 1816 kHz (20:41Z) seperti sinyal yang berasal dari Bogor! Tapi karena saya sudah CFM Guam maka saya menahan gejolak syahwat untuk memberi kesempatan stasiun dari Eropa yang pastinya lebih bergairah mendapatkannya.

Pada malam harinya, 13:45Z, pada 1814 kHz, melalui sebuah sked via email, saya juga berhasil kontak dengan JR7VHZ dari prefektur Iwate, Jepang, sehingga hanya tiga lagi prefektur di JA-land yang musti diburu pada topband.

[AntennaMania] VP6DX RX Antennas

Link yang luar biasa bagus untuk mendapatkan pelajaran --lengkap dengan download 'diktat'nya--tentang bagaimana sebuah DXpedition secara serius menyiapkan RX antenanya (terutama pada LOW bands/HF):

http://www.ncjweb.com/200807NCJVP6DXreceiveantenna1.pdf


From: Partono Partokardi
To: antennamania@googlegroups.com, Friday, January 15, 2010 8:33 A

Thank you OM Jo,

Tambah referensi, dengan kondisi lahan seminim mungkin bila digabungkan dengan usaha optimasi yang tepat guna niscaya akan memberikan keberhasilan dan kepuasan.

masih sebagai pendengar "angot-angotan" (sekenanya) dan kumpulin resource sebagai persiapan..

73 de Tono, yb2cpo



Yth OM Tono,

Memang, kita belum tentu bisa meniru pendekatan dan praktik pendistribusian RX antena seperti VP6DX -- yang memfokuskan kegiatan DXpedition-nya pada LOW bands. Tapi, setidaknya kita bisa menambah referensi tentang hobi 'gila' ini. Juga bisa tahu, bagaimana caranya bahan/alat/merek digunakan.

Coba bayangkan, dengan persiapan yang hebat ini, pada 160m band, log VP6DX (memancar dari Pasifik, OC) mencatat 6.615 QSO CW dan 1.562 QSO SSB!

Saya baru memahami bahwa pada transceiver modern yang memiliki RX antena input-port yang terpisah dari TX port-nya ternyata masih umum menerima kebocoran sinyal pada saat TX 100W sebesar 10mW (+10dBm atau S9+77dB). Itu sebabnya pre-amp RX HARUS diproteksi apalagi bila penggunanya berada di sebuah lokasi di mana banyak txcvr dioperasikan.

Juga, dengan penguasaan teknologi/ilmu, setiap operator VP6DX dapat sekaligus mendengar sinyal DX dari dua arah yang berlawanan melalui speaker headphone stereo(kiri dan kanan).

Luar biasa...

14 Januari 2010

Topband, 13 Januari 2010

Malam (WIB) setibanya di rumah dari pulang kerja. saya mendapati antena RX loop saya tidak bekerja normal pada topband (160m). Posisi petunjuk pada potensio untuk DC Voltage di Remote Tuning Unit berubah dari skala pukul 9 ke posisi pukul 13.

Menurut keterangan dari orang rumah, pada senja harinya turun hujan dan banyak petir. Kemungkinan besar ada 'spike' sehingga menyebabkan rangkaian DC voltage feeder (outdoor) untuk menala kapasitansi antena overload dan menjadi rusak (apakah ini memang mungkin terjadi?).

Saya tidak sempat memeriksa dan memperbaikinya karena gerimis dan ngantuk. Jadi, pada dini harinya saya TX dan RX hanya dengan satu antena (vertikal) saja.

Sekitar 2125Z terdengar DX1J -yang dioperasikan oleh operator dari Jepang- pada 1823.5 kHz bekerja simpleks. Stasiun dari Filipina ini sinyalnya sangat kuat RST 559. Saya ikut memanggilnya karena yakin akan bisa masuk ke lognya tapi dia hanya mau melayani stasiun dari JA. Memang, stasiun DU tergolong langka ditemukan di topband. Tidak heran bila dia mendahulukan kaumnya.

Setelah 'ditolak', saya segera buka warung sendiri pada 1814 kHz. Sempat menjaring lima stasiun dari JA dari call-area 7 dan 8. Namun, bersamaan dengan itu, sinyal YC0LOW rupanya booming di Eropa walaupun sinyal dari sana terdengar lemah. Di Cinere, saya dengar ada M0, PA, OM, DL, RU memanggil tapi pile-up terlalu besar sehingga makin sulit meng-copy callsign satu per satu walaupun saya sudah free split-operation/QSX. Pada ON4KST Chat-Line, bahkan ada yang menulis bahwa 1814 kHz sudah menjadi 'EU zoo' (kebun binatang) akibat memanggil saya. Ron, GW3YDX menyapa saya via internet dengan menyebutkan bahwa di kalangan topbander Eropa telah berkembang teknik baru, yaitu: "call longer than anyone else", hi hi...

Saya putuskan untuk QRX sesaat agar menghentikan 'dampak sistemik' (pinjam istilah dari kasus Bank Century) yang buruk. Kemudian pada 2150Z muncul ON4UN dengan sinyalnya yang kuat. Kami bertukar laporan RST 579. Ini adalah topband QSO kami yang keempat sejak 1997. John, memberitahukan bahwa keputusan saya untuk QSX-up adalah oke.

Hingga saat SR tiba, saya kehilangan sinyal apa pun pada topband. Namun, saya sempat memantau adanya YC1COZ dan juga YB4IR yang masih rajin memanggil DX (karena saat SR di Palembang memang tiba agak belakangan dari pada di Cinere).

Tnx es 73 de Jo, YC0LOW

12 Januari 2010

Topband, 11 Januari 2010

Tidak ada 'kejutan' yang berarti pada topband pagi ini (WIB). Namun, kondisi propagasi boleh dibilang lumayan OK.

Seperti biasa saya mulai CQDX pada 21:00Z di 1814 kHz. Beberapa stasiun Eropa, diantaranya OZ1, SM2 langsung mengirim DX spot karena mendengar panggilan tsb. Via internet mereka melaporkan RST untuk saya 559.

Agak belakangan, mulai sekitar 21:21Z, YC0LOW diserbu oleh stasiun-stasiun dari JA. Namun hanya sebelas dari call-area 1, 3, 6 dan 4 yang masuk log saya. Sebetulnya bisa lebih banyak, tapi, tampaknya disiplin para topbander baru di JA berbeda dengan kebiasaan yang sebelumnya. Mereka terus-menerus dan berdesak-desakan memanggil di saat saya hanya berniat melayani hanya satu stasiun yang callsign-nya belum utuh di-copy.

Di tengah tirai sinyal yang kuat dari JA, saya mendengar ada ketukan lemah, QRS, tapi konsisten. Ternyata itu adalah GM0UDL. Setelah empat tahun berselang, inilah pertama kalinya lagi saya menjalin topband QSO dengan stasiun dari Skotlandia (lebih dari 11.700km dari Cinere). Callsign ini pun tergolong baru muncul. Kalau tidak ada antena khusus RX loop, mungkin sinyalnya akan terkubur oleh static noise dan sinyal JA.

Sebelum SR tiba, saya menjalin QSO dengan YC1HBP op Gum dari Cilebut, Jawa Barat

Mari berharap semoga kondisi propagasi 160m DX di hari-hari mendatang akan makin membaik.

Tnx es 73 de Jo, YC0LOW

Eksperimen Coax Loop RX Antena 160M [dari maillist AntennaMania]

Dear all,

Akhirnya selesai sudah rakitan antena RX Loop di 160M. Sekitar pukul 13.00 wib tadi sudah terpasang di ketinggian 20M diantara spasi antena TH6DXX dengan antena tx Yagi 3 element 40M.

Bahan dari coaxial Andrew 50 ohm (sisa potongan dari antenna TX double bazoka 160M) ukurannya lebih besar sedikit dari RG5/8. Dengan masing-masing sisi sekitar 1,5M, di mana pada sudut teratasnya untuk outer coaxial-nya diputus dgn jarak 0,5 inci (yang terhubung hanya inner-nya saja) dan sudut terbawah (pertemuan antara kedua ujung coaxial) masing-masing inner-nya dihubungkan dengan 1 bh capacitor 400pf (bentuk piringan terbang yang kebetulan saya punyanya itu, sisa dari jaman radio home brew, high voltage 3KV HF). Untuk di setiap ujung outer-nya digabungkan dan akan menjadi outer dari feederline. Begitu juga di salah satu sisi kapasitor dihubungkan pula dengan inner feeder line.

Untuk kerangka antennanya, saya pakai PVC diameter 0,5 inci, dan disilangkan berbentuk tanda Plus (+) dengan panjang jari-jarinya (dari titik tengah) 1 meter.

Feederline saya pergunakan coaxial 50 Ohm Federal RG-58 sepanjang 40M menuju ke pesawat yang nantinya menjadi antena RX sedangkan untuk TX saya tetap pakai Double Bazooka.

Untuk RX, pada Antenna Analyser (TTE) menunjukan angka resonan pada frekuensi 2,0 MHz (SWR 1,2 dengan impedance 50 ohm). Karena Capacitor yang saya pakai nilainya sudah Fixed 400 pF makanya jadi gak bisa di trim untuk ngejar ke frekuensi 1,8 MHz (kecuali jika pakai Capacitor trimmer).

Setelah antena dicolok ke pesawat (2 antena saya colok di Radio Yaesu FT-950, kebetulan radio ini memiliki fasilitas dua buah input antenna, dimana untuk Antenna 1 dengan Double Bazooka dan pada antenna 2 saya pakai RX Loop.

Pada siang hari pukul 13.00 wib, Perbedaan kedua antenna tsb adalah: 

Untuk Antena 1 (double Bazooka) S meter menunjukkan angka 20db, pada antenna 2 (Loop) S meter pada S8. Artinya tingkat Noise di siang hari pada antenna loop bisa ditekan hingga menunjukkan angka S8. Mudah-mudahan receive-nya tidak berkurang. Karena belum dicoba.

Terus terang, saat ini saya udah gak sabaran nunggu sampai nanti malam dan nanti subuh untuk menjajal antena RX ini.

Mudah-mudahan sukses, akan saya laporkan ke rekan-rekan untuk report Hasilnya.

Antena ini sangat simple. Saya buat tadi pagi pukul 10.00 wib dan sudah terpasang di atas tower pukul 13.00 wib.

Best regards
73 de Imam YB4IR


----


Yth OM Imam, YB4IR,
Selamat untuk atena RX-nya. Saya membayangkan tipe tsb nyaris mirip dengan antena RX yang saya buat -dan di waktu mendatang juga akan dibuat oleh Anda dkk bila pesanan varactor dan toroid sudah tiba (ala N6RK). Dimensinya sama. Bedanya, mungkin cuma satu: saya bisa ubah kapasitansi antena RX tsb (untuk 80m atau 160m) dari hamshack karena ada Remote Tuning Unit-nya.


Yang belum jelas apakah antena buatan Anda tsb menggunakan sebuah transformer untuk impedance matching (antena vs coax/feederline)?


Reduksi derau dari 20dB ke S8 sudah lumayan -walau masih tergolong tinggi. Mungkin karena ditempatkan di ketinggian 20m dan dekat dengan bahan-bahan konduktif (seperti menara dan/antena TX). Yang penting, receiver Anda haruslah didominasi oleh noise dari antena bukan karena common-mode noise yang biasanya efek ikutan dari feederline. Jauhkanlah dari sumber-sumber QRM lain, misal: lampu TL, switching power supply dll yang berdekatan dengan antena RX tsb.


Saran saya, dicoba saja dulu untuk memantau Nusantara Net 80m dan/atau kondisi di topband (160m). Siang/sore ini, kalau Anda sudah tiba di rumah, cobalah memantau radio siaran AM pada band MW. Bandingkan penerimaan dan directivity-nya dengan antena TX. Seharusnya, dengan perubahan-perubahan orientasi dan posisinya, antena tsb akan memberi Anda efek untuk 'nulling' noise.


Tidak usah kawatir bila SWRnya tinggi karena antena ini hanya untuk RX.


Happy topband DXing. Tnx es 73 de Jo, YC0LOW
From: Dadang Darwis, YB2EUZ
To: orari-news@yahoogroups.com Monday, January 11, 2010 11:15 AM

Dear OM Jo,

longpath dx qso..untuk qso 160M paling jauh sampai dimana sih? kalo sudah bisa qso dengan LA, OH, SM, KL, VE...apakah itu sudah dapat dikatakan tx antenna berfungsi cukup baik? artinya kan termasuk penerimaan juga?

ini kemarin sempat ditanyakan oleh rekan amatir di Tmg dan aku jawab... sekedar bilang...ya namanya juga lagi nyoba2, kalo langsung di oprek jadi lebih paham, karena langsung tau hasilnya mereka gak mudeng melihat aku selalu merubah sistem antena penerima yang sudah terpasang. Received di 40M dan 80M bagus..di 160M bisa dipakai, karena faktanya bisa mendengar dan qso dengan stasiun yang cukup jauh jaraknya...kok ya masih dibongkar dan diganti lagi? hehehe capek deh...


----

Yth OM Dadang,
Sebuah QSO dua-arah Long Path yang maksimum akan terjadi di antara dua titik lokasi pada lingkaran badan planet bumi yang terletak pada diameter 180 derajat. Jarak maksimum antar-titik lokasi antipodal dari Cinere terletak di Venezuela. Jaraknya lebih dari 20.000 km, atau setengah dari jarak 360 derajatnya. Kalau saya tidak salah, panjang lingkar bumi adalah sekitar 42.000 km (garis lurus/spherical).

Nah, rambatan sinyal dalam jarak yang mendekati 20.000 km itulah yang disebut jarak LP. Diperlukan banyak pantulan (multi-hop) agar sinyal merambat dan faktor propagasi membantu karena tak ada absorbsi yang berarti. LP pada topband (160m) umumnya bisa terjadi bila sebuah stasiun memancar pada saat sunrise-nya dan berada di timur terhadap stasiun targetnya.

Kalau propagasi baik pada highbands, misal 28 MHz, tidak perduli waktu siang atau malam, sinyal kita yang merambat 360 derajat dimungkinkan terdengar sendiri oleh kita dengan cara memutar antena TX kita ke arah kebalikannya. Suaranya sering menjadi bergema (ada echo-nya). Memang sih, tak sampai 'ngajuit' (Sunda) alias feedback. Pada topband (160m) hal itu adalah sebuah keajaiban.

Bagi saya, definisi DX tidak dibatasi oleh satuan ukuran jarak tertentu kecuali entitas (rule dari ARRL). Jadi, ke 9M2, 9V atau VK6 pun sudah DX. Tapi, setelah lama main di topband, kalau band sedang sepi - dan belum dapat negara DXCC baru (yang makin lama makin susah ditemui), saya suka bermain-main dengan jarak pancaran dan daya (power output). Sekaligus untuk mengevaluasi kondisi propagasi dan menilai kinerja antena TX buatan sendiri. Jadinya, saya sering terpesona sendiri. Mungkin inilah RACUN-nya topband. Untuk berkonsentrasi penuh, saya bahkan tidak pasang antena untuk band-band lainnya! YC0LOW tidak buka cabang di mana pun...

Secara teoritis, sebuah antena yang resonan untuk TX juga akan baik untuk RX. Jadi, kalau ngoprek antena TX jangan 'kesusu' (Jawa). Biarkan dia 'menghibur' kita - sebagai majikannya - untuk beberapa saat, misal 3 atau 4 minggu. Jangan lupa membuat catatan-catatan yang rinci terhadap stasiun apa yang didengar dan yang berhasil dikontak. Jadi, OM Dadang dkk, lanjutkanlah/wariskanlah nilai-nilai kejuangan untuk menaklukkan obsesi bekerja DX pada topband :-))

Kebanyakan amatir suka cepat-cepat mengubah antenanya karena hal itu adalah yang paling mudah -dan murah- dikerjakan. Kalau menyambung PCB txcvr atau linear amp. yang retak jalurnya 'kan memang lebih sulit :-)) Perlu suryakanta...

11 Januari 2010

Terdengar di Prince Edward Island, Kanada pada Top Band (10 Jan 2010)

Kalau pagi ini (11-Jan-2010, WIB) terdengar sinyal saya tiada henti memanggil CQ pada 1814 kHz, pasti ada alasannya! 

Itu karena Jeff, VY2ZM, (eks K1ZM), QTH di pulau Prince Edward, timur Kanada, melaporkan pada ON4KST Chat-Line bahwa dia pertama kalinya mendengar sinyal YC0LOW dari Cinere sejak 21:37Z. Locatornya adalah: FN86VI sehingga jaraknya dari Cinere adalah 15445 km


Jeff adalah penulis buku DXing on the Edge, The Thrill of 160 Meters, terbitan ARRL, 1997. Sebuah buku yang sangat bagus untuk dimiliki oleh mereka yang ingin berkiprah di topband (160m).

Gbr.1. Buku DX-ing on The Edge oleh Jeff K1ZM
Pada 26 Juli 1998, saya mendapat buku tsb dari Jeff (Gbr. 1) dengan tulisan tangannya yang berisi pesan pribadi dan persahabatan.


Kami mencoba berQSO pada topband (160m) tapi belum berhasil. Walau panggilan tiada henti saya berlangsung sampai dengan saat SR (22:47Z). Selama hampir 50 menit lamanya, Jeff melaporkan bahwa sinyal YC0LOW tetap terdengar di hamshack-nya - walau timbul dan tenggelam. 

Pengalaman pagi ini (WIB) mengingatkan saya dengan yang terjadi pada 20 Nopember 2007, ketika Bill, W4ZV (locator EM95UK, 16.700km dari Cinere) juga mendengar sinyal saya (lihat: http://topbanddxdiindonesia.blogspot.com/2008/02/terdengar-di-w4zv-north-carolina-as.html


Menurut Jeff, sinyal saya datang dari arah timurnya. Jadi, tidak melewati kawasan Eropa atau Kutub Utara. 

Coba saja Anda bayangkan, Jeff berada di pantai timur Kanada, tapi mendengar sinyal saya dari arah timurnya, bukan pula dari arah tenggara (short path). Aneh, bukan? Masih menjadi misteri: lewat mana sinyal saya merambat?

Lihat:  http://topbanddxdiindonesia.blogspot.com/2012/01/terdengar-oleh-vy2zm-k1uo-k1qx-1012012.html


Sambil memanggil DX umum (jadi tidak hanya memanggil VY2ZM) saya bekerja dengan beberapa stasiun, terutama dari JA, juga Svein, LA3XI. Saya masih senang melayani stasiun JA pada topband karena berniat memperoleh WAJA 160m. Masih ada kekurangan konfirmasi di dua prefektur: Kagoshima dan Aomori.


Seperti biasa, di saat uji-coba efektivitas dan efisiensi antena TX home-brewed, daya pancar saya 'hanya' 100 Watt.


Jadi terobsesi lagi, musti bikin antena RX apa agar saya dapat mendengar sinyal dari pantai timur AS dan Kanada pada top band?

30 Desember 2009

SDR di Eropa pada Topband (160m)

To: orari-news@yahoogroups.com, Wednesday, December 30, 2009, 5:44 AM


WebSDR adalah sebuah penerima Software-Defined Radio yang terhubung dengan internet, yang memungkinkan banyak orang bisa sekaligus mendengar dan tune-in. Teknologinya memungkinkan kita untuk secara independen mendengar sinyal-sinyal yang berbeda dan melakukan QSO dua-arah TANPA radio penerima (receiver). Silakan lihat http://www.websdr.org/


Melalui WebSDR yang berbasis di Eropa, dua operator stasiun radio yang berkoordinasi melalui internet bisa saling 'mendengar' lebih baik ketimbang melalui udara. Sudah banyak yang mencoba untuk saling berkomunikasi melalui WebSDR, terutama pada topband
(160m). Pro dan kontra pun merebak!


Tidak lagi diperlukan lahan luas untuk antena khusus RX. Tidak lagi perlu kerja keras dan kehilangan waktu tidur. Hanya diperlukan sebuah transmitter dan koneksi internet. Apakah ini awal dari berakhirnya kegiatan DXing bagi amatir radio?


Tnx es 73 de Jo, YC0LOW


From: Taufan Prioutomo, Wednesday, December 30, 2009 3:11 PM

Om Johan,.....pada beberapa tahun lalu semenjak booming internet dengan adanya DX Cluster, sebenarnya di sanalah awal mulanya yang sebenarnya kurang rela saya dengan bantuan teknologi yang terus berkembang.

Yang mana dengan bantuan DX Cluster kita sudah bisa melihat/membaca bukan mendengarkan langsung callsign yang akan panggil/kita ajak ber QSO karena stasiun lain telah memposting callsign tsb, sehingga kita hanya memberikan
signal report saja.

Bahkan ada station yg memberikan angka 5 diawal (sorry dgn mode ssb )sehingga hanya butuh
the second number of the report,....semakin mudah tentu jadinya.

Bila dulu kita harus konsentrasi mendengarkan call signnya kadang ber ulang2 beberapa kali sehingga benar, baru memberikan reportnya yang kadang berulang ulang juga. Belum lagi kalau ada station yang seolah menjadi pengawas, bila menyebut call sign tidak benar atau pun mengulang report tidak benar.....dia akan comentar...not Valid....no QSO....dsb.

Namun itulah teknologi.....suka atau tidak terus bergulir......, saya termasuk bagian yang kurang menyenangi hal tsb.....itulah pribadi masing masing.

de yb0ai / taufan


From: "hendro s.joedho" , Wednesday, December 30, 2009 3:46 PM

Kalo boleh saya ikutan pendapat, menurut saya agak beda antara yg menggunakan SDR sbg receiver dlm QSO dg penggunaan dx cluster dll sbg informasi adanya stasiun yg sedang bekerja di satu band pada jam sekian.

Kita lihat info di cluster, blm tentu kita bisa mendengar stasiun dimaksud.
Kalopun bisa mendengarnya blm tentu kita berhasil QSO dengan stasiun tsb.
Jadi dx-ing masih bisa dianggap valid bila dua stasiun itu sudah bertukar RS(T).

Penggunaan info cluster yg keliru adalah bila setelah membaca info, kita masuk ke frekwensi dimaksud dan memanggil stasiun dx yg ditulis di cluster padahal kita tidak mendengarnya - blind call ? Atau kita atau rekan lain di YBland ini posting di cluster adanya YBxXX - self spotting. Manfaatkan teknologi secara bijaksana dan fair.

Tentunya kita khan juga gak harus menggunakan trx/antenna buatan sendiri, karena banyak buatan pabrik tapi agak beda utk mode cw bila dibantu dg digital reader atau modem/interface komputer-karna utk itu ada mode digital (bpsk,psk dsb) jangan sebut mode cw.

Itu sedikit pendapat saya, maaf kalo ada pendapat saya yang salah, cmiiw.

73
Hen-yc0qr


From: Imam YB4IR, Wednesday, December 30, 2009 4:53 PM

Dear All,
Sebaliknya, saya sangat menyukai adanya tekhnologi baru, khususnya di HF.

Apakah itu DX Cluster, logger yang terkoneksi dengan telnet, Digital mode, SDR software, Skimmer, fasilitas master data dll termasuk juga cara confirmed 2 way QSO melalui eQSL maupun LoTW

Bagi DXer yang jam terbang DX Qsonya lebih dari 10.000 QSOs maka Tekhnologi tsb tidak akan mempengaruhi rutinitas DXingnya yang biasa dia lakukan, yaitu DIRECT 2 WAY QSO dari Radio via Antena TRX langsung QSO dengan lawan QSOnya

Tetapi bagi DXer pemula, maka tekhnologi ini akan memungkinkan untuk dia pergunakan dengan alasan untuk memperkecil kegagalan QSOnya, namun suatu saat nanti setelah DXer pemula tsb merasa yakin & merasa siap maka pasti akan kembali ke komunikasi secara konvensional sebagaimana yang telah dilakukan oleh senior-seniornya yaitu Direct QSO dari Radio TRX langsung ke RadioTRX lawan.

Tekhnologi tidak dapat dibendung. Namun pilihan tetap ada di pribadi operatornya masing-masing. Mau dipakai boleh dan tidak mau memanfaatkannya juga tidak apa-apa.

Kegiatan Amatir Radio adalah suatu Hobby yang menyenangkan. Jika kita merasa senang maka nikmatin
aja..

73 de Imam YB4IR

Keterkaitan Tinggi Antena TX Vertikal dengan Sistem Radials ala N6LF

To: antennamania@googlegroups.com, Tuesday, December 29, 2009 11:59 AM


Dalam liburan mendatang, saya ingin memperbaiki sistem antena TX 160m vertikal saya terutama kawat-kawat radial-nya.


Saya mau tanya apakah ada yang pernah eksperimen tentang keterkaitan tinggi antena TX jenis vertikal dengan sistem radialnya?


Saya membaca artikel bagus dari Rudy, N6LF, http://www.antennasbyn6lf.com/2008/10/are-the-lengths-of-radials-related-to-the-height-of-a-vertical.html


Kalau sudah ada yang mencobanya di Indonesia, saya ingin mendapat petunjuk dan pencerahannya.


Tampaknya, uraian Rudy menjanjikan solusi untuk mengurangi ground losses. Betul begitu, OM Bam?


Tnx es 73 de Jo, YC0LOW


OM Jo,

kebetulan sekali anda "angkat" topik ttg keterkaitan antara tinggi (baca: feedpoint) sebuah Vert. Ant. dg GRND losses, krn justru hal inilah yg jg sy lagi coba "angkat" dg "ngobrolin" ttg rancangan G7FEK, yg di mata sy tidak lain dr "nested" -- ambil istilah dr Mike Dennis sndr -- 2 bh (80 dan 40m) L-antennas.

Sy melihat L-antenna (ada juga yg menyebutnya dg bent- center fed -dipole) sbg sebuah quarter wave Vert. Antenna yg diinstall OFF GRND dan di"kerja"kan dg SATU radial (= ground plane) saja. pengalaman empirik selama ini, bertambah tinggi posisi feedpoint dr tanah, bertambah sedikit jmlh radials(ato counterpoises = floating radials) yg diperlukan untuk mendapatkan efisiensi yg sama dg Vert. Antenna yg GRND mounted.

[walopun cukup kontroversial dg berbagai PRO & CONs-nya, antena W3EDP dg pnjng elemen yg 85' = 25.9 mtr dan counterpoise 17' = 5.18 mtr selalu sy "contoh"kan sbg "pembuktian" hipotesa bertambah tinggi posisi feedpoint dr tanah, bertambah sedikit jmlh counterpoise yg diperlukan tsb, dg merujuk kisah-kisah keberhasilan para pemakai yg kebanyakan menyebutkan hamshack-nya berada di lantai 2, atau operate dr balcony di lantai n dg counterpoise yg diklewerin aja sepanjang lantai kamar ato balkon (salah satu pengguna W3EDP yg ada di milist ini adalah OM dhismas yc0nho, yg hamshack-nya ada di lantai 2)]

btw, sy lagi nyiapin bbrp baris t orek-orekan ttg radials, counterpoise dan L-antenna ini -- yg semoga saja bs segera "naik tayang" di milist ini (dan cukup banyak yg sy bisa "tangkap" dr blog OM Rudy Severns N6LF yg anda rujuk pd
posting anda berikut ini) TNX fr the "lead":

[bam] YB0KO/1

16 Desember 2009

Antena Loop untuk RX ala N6RK, Desember 2009 (panjang)

Presentasi lengkap dari Rick, N6RK ada pada  http://www.n6rk.com/loopantennas/pacificon.pdf

Kalau selama ini milis antennamania diramaikan dengan diskusi tentang antena untuk TX, maka kali ini saya munculkan isu antena untuk RX terutama untuk band 'susah' 80m dan 160m. Dimensinya tidak terlalu besar sehingga hampir bisa dipastikan dapat didirikan di lahan yang sempit. Panjang kabel coax RG-58 sebagai bahan baku antena loop tunggal = 20 feet atau 6.4 meter


Sejak Desember 2008, saya selesaikan pembuatan antena jenis ini dengan sedikit kesulitan, terutama dalam hal pengadaan toroid FT-82A-61 Amidon untuk transformer dan varactor NTE618 Mouser yang keduanya saya pesan langsung dari AS. Komponen/bahan lainnya tersedia berlimpah di Indonesia.

Dibandingkan dengan eksperimen-eksperimen saya terdahulu dalam membuat loop antena untuk RX, maka tipe ini adalah yang paling berhasil saya buat. Pada top band (160m), saya bisa mereduksi noise level di musim monsoon menjadi hanya 3 s/d 5 S-unit, maksimum. Saya juga sudah memanfaatkan antena ini untuk mendengarkan radio siaran internasional dan nasional pada moda AM, di band Medium Wave (MW) tanpa perlu alat pre-amp. Kedengarannya jadi lebih enak karena kita bisa menyetel level rasio S/N yang diinginkan dengan mengubah variabel voltage DC dari hamschack.

Pada band 80m, SSB, saya bisa mendengar hampir semua peserta Net Nusantara atau net Indonesia di pagi hari (WIB) dengan readability yang tinggi. Sedangkan pada 3.5 MHz, CW, band amatir, kinerja antena ini bahkan lebih baik lagi (misal: bandwith lebih lebar dari pada di 1.8 MHz).

Karena dimensinya yang kecil dan ringan, antena ini bisa diarahkan ke arah yang diinginkan dengan menggunakan rotator antena TV untuk 'nulling' derau (noise) yang konstan dan berlebihan di QTH saya akibat dari jarak yang dekat dengan Gardu Induk PLN Gandul. Tapi, berhubung belum punya rotator, saya mencobanya secara manual.

Hari libur mendatang rencananya saya akan membuat loop yang khusus untuk 160m (panjang total coax 40 feet). Dari Rick, N6RK, saya sudah dapat panduan untuk sedikit mengubah nilai kapasitor dan tuning diode (varactor) dalam rangkaian Remote Tuning Unit (RTU).

Saya pernah menulis di blog TOPBANDDXDI INDONESIA http://topbanddxdiindonesia.blogspot.com/ namun karena sudah ada milis baru ini maka saya kirimkan lagi presentasi lengkap dari Rick, N6RK (terlampir).

Selamat menikmati! Tnx es 73 de Jo, YC0LOW


From: Bam, YB0KO/1, unclebam@gmail.com

mas jo, tnx a lot ...

+ it's really a BIG "pencerahan", apalagi dg 'ngikuti paparan Rick N6RK yg di mata sy selain VRY descriptive juga "eye opening" -- terutama baris-baris yg pin pointing misleading-nya informasi yg selama ini di"telen" oleh "average ham like us", even dr text booknya Terman dan publikasi ARRL/Connecticut ( see page 3); ARRL Antenna Book (point 3 page 6) ....

terus juga ttg "no definitive published explanation on max. circumstances" (point 1 page 12); "incorrect" description of "electrostatic shield" and the "overlooked skin effect" (page 17); emphasis on use of ordinary xfrmr instead of balun (as we wud normally think of), page 33 [sy jadi inget Sevick -- yg baru SK 29/11 kmrn --, yg "mengangkat" issue perlunya balun sbg xmission line xfrmr, yg KHUSUS pd shielded loop-nya sndr mmng nggak diperlukan krn tdk ada transmission line (!)] .......,

BUT then ..... SRI FR my silly (or telmi) question: what the hell is SO2R?

++ btw, sebenarnya sy juga msh "gelap" kmn hrs pergi utk 'nyari PVC Sked 40 eceran di sini (tempoari banyak iklan dr WAVIN type Tigris Green yg kalo' sy nggak salah tafsir adalah juga msk jenis Sked 40 ini -- krn dipake utk plumbing jaringan air panas -- , tp dr semua agen ato retailer pipa PVC di Bogor sini tdk ada yg bisa 'ngasih keterangan, apalagi wkt ditanya n sy jwb cuma perlu paling 2 btng utk masing-masing dia. 1.5", 3/4" dan .5" dg sinis dia bilang: wah oom, kalo' perlunya 1 truk ato buat proyek apa gitu sih kami mau aja nyariin ..... (!).

sampe saat ini kalo' perlu pipa PVC yg agak "berkelas" sy pake merk WAVIN yg type AW (setrip biru), inipun di radius 5-6 KM dr QTH sy juga mesti pesen, krn yg banyak diecer di toko material adalah type D (setrip merah) yg masuk jenis "thin walled" PVC tubing.

Kalo' mau pake yg relatip lbh berat sy pake merk RUCIKA (inipun mesti pesen ke "kota", ato kalo 1 -2 batang mesti ambil sendiri) ato kalo' yg dia 0.5" sy lantas ambil conduit merk Clipsal - yg kebetulan kok ya pas banget (snugly fit) utk dibikin telescoping dg RUCIKA yg 3/4".

salam:
[bam]
6*38’03.28” S, 106*48’20.98” E
(alias bogor pinggiran)

PS:
brngkali [kalo' memang ada yg mau bikin juga] mas Wyn ab2qv ato bli Ketut Wiadnyana KC8PPD bisa (hopefully) bantu sourcing ke Mouser ato Amidon


Yth OM Bam.
Terima kasih atas komentarnya. Saya juga baru sadar bahwa upaya eksperimen saya sebelumnya rupanya banyak salah karena mengikuti persepsi yang salah - setidaknya demikian menurut Rick, N6RK.

Tapi, hasilnya memang beda. Walau sedikit diubah dan disesuaikan dengan kondisi di Cinere, termasuk pipa PVC-nya, antena RX loop tipe ini adalah yang kinerjanya paling baik dan kontan memberi dampak positifnya.

SO2R adalah Single Operator Two (2) Radios. Dalam presentasinya halaman 43, Rick menyebutkan bahwa dia menggunakan dua transceiver terpisah (bukan dengan satu transceiver) yang masing-masing TX pada 1801 kHz, dan RX (sambil transmit) di 1805 kHz.

73 de Jo, YC0LOW

From: Partono Partokardi, YB2CPO

OM Jo,
Kalau datangin komponen langka mestinya jangan satu sehingga ongkos kirim jadi murah... (maunya nitip maksudnya)

Menyangkut bahan: Dalam artikel Pacificon disebutkan coax - 75 ohm sedangkan dari OM Jo menggunakan RG-58 apakah tidak merubah performance?

Toroid FT-82A-61 bila tidak di dapat apakah bisa disubstitusi dengan type lain?

Mungkinkah antena Loop RX ini di kombinasi dengan W7IUV Low Band Preamp yang membutuhkan komponennya lebih tersedia di pasar Indonesia

thanks 73



Yth OM Tono,
Terima kasih atas tanggapannya. Saya pesan barang langka seperti toroid Amidon dan varactor Mouser secukupnya saja sesuai keperluan pribadi. Masing-masing dirancang untuk pemakaian di rumah dan yang lain untuk unit cadangan/dipakai pada saat berkesempatan beroperasi di luar rumah. Nanti kalau saya pesan lagi, akan saya himpun dulu nama-nama peminatnya supaya bisa pesan sekaligus.

Pergantian bahan konduktor coax (dari 75 Ohm ke 50 Ohm) untuk antena tidak terlalu kritis. Saya coba menyesuaikan impedansi gulungan transformer-nya dengan MFJ-259B. Ternyata pedoman 5:50 lilitan yang diberikan Rick, N6RK cukup adil.

Jenis toroid dapat diganti dengan tipe material 43 (high permeability) namun, loss lebih besar sedikit (hlm. 34). Saya belum coba menggunakan toroid tipe ini.

Pemakaian RX loop ini mungkin saja dikombinasi dengan pre-amp. Saya kebetulan gunakan RX Antena Swicth sekaligus pre-amp DX Model II, buatan KD9SV. Namun, kenyataannya untuk 160m/80m, pre-amp tak lagi diperlukan. Jadi antena ini hanya terhubung ke antenna switch-nya. Beda dengan pengalaman saya ketika mencoba antena RX tipe EWE dan Flag yang harus dibantu dengan pre-amp.

73 de Jo, YC0LOW


From Dhismas, YC0NHO

Kalo ada temen2 tertarik utk membuatnya, dan berencana mu beli bahan2nya, mari kita gabung utk bareng2 beli komponen itu.

Saya juga tertarik utk mencobanya.

Om Jo, low band pre amp macem mana yang anda pakai?

Salam
Wo2k



Yth OM Dhismas,

Kalau mau pesan sendiri, ini referensi, harga-harganya:
- varactor NTE618 Mouser: US$ 2.70 per buah
- toroid Amidon FT-82A-61: US$ 1.70 per buah
- ongkos handling sekitar US$ 25 (orang Amrik, musti dibayar mahal untuk membungkus barang pesanan)
- ongkos kirim, sekitar US$ 15 bila pakai servis 1st Class US Mail. Saya pilih servis yang paling ekonomis, pos udara, un-insured, sekitar US$ 10.

Saya tidak tahu apakah varactor tipe tsb dan/atau yang sejenis seperti MVAM109, MVAM115 dan MV1401 (lihat hlm 48) dapat ditemukan di Jakarta. Kalau ada, menurut saya, akan lebih baik bila stasiun-stasiun pengendali Net Nusantara 80m, SSB, memiliki antena RX loop ini agar dapat lebih baik menerima pancaran.

Pre-amp yang saya gunakan, silakan lihat di http://www.radiobooks.com/, klik: KD9SV Products, lalu klik: Solid State Relay DX-pedition II (catalog number SV-DXIISS).

Tnx es 73 de Jo, YC0LOW

Dari: Wyn, AB2QV

Dear OM Jo. Anda mengajak kita masuk ke lahan SWL. Apakah ini tidak redundant? Maksudnya, sebagai AR apakah tidak sebaiknya memilih proyek yang murah, aman, dan berkualitas untuk kedua TX dan RX sekaligus. Pertanyaannya, apakah Anda pernah bereksperimen membuat top band antennas yg bisa andal untuk kedua TX dan RX sekaligus? Misalnya, pernah memasang toroid dan parts lainnya di satu antena untuk TX/RX sekaligus dan berhasil baik? Ini yang saya tunggu. Tnx n 73.

Wyn W. Purwinto
ab2qv@arrl.net
Dewitt, New York, U.S.A.


Yth OM Wyn, AB2QV.
Wacana antena khusus untuk RX memang jarang didiskusikan pada penggila DX pada high bands (skywave propagation). Tapi, bagi DXer pada LOW bands (groundwave propagation), isu RX bahkan lebih penting daripada ihwal TX agar tidak menjadi alligator.

Jadi, menurut hemat saya, isu RX ini juga cocok untuk DXer, bukan hanya bagi SWLer. Juga, ini bukan mengenai biaya yang murah dan mahal, saya kira itu sangat relatif.

Dari sekitar 3500 QSO CW saya pada top band (160m), sejak 1997, maka hampir setengahnya dilakukan tanpa antena RX. Karena, pada tiga tahun pertama, kondisi propagasi sangat baik. Tapi, tahun-tahun setelahnya sangat berbeda alias penerimaan makin sulit.

Saya pernah mencoba TX/RX pada top band dengan berbagai jenis antena (dipole, inverted-V, inverted-L).

Sayangnya, tidak ada jalan keluar yang makin mudah, dan murah, bagi saya untuk bisa meningkatkan daya penerimaan pada band misterius ini kecuali melengkapi stasiun YC0LOW dengan sistem antena RX dan perangkat lainnya. Itu pun masih terbatas karena saya tidak bisa mendirikan Beverage secara permanen.

Rupanya, konsekwensi memilih top band adalah berhadapan langsung dengan tantangan-tantangan RX yang banyak, seperti: berada di equatorial zone yang kaya akan QRN, lokasi rumah yang di perkotaan, target untuk memperoleh DXCC 160m, dll.

Tentu itu semua bersifat pribadi.

'You can't work them if you don't hear them'.

Tnx es 73 de Jo, YC0LOW


----- Original Message -----
From: w.w.purwinto, Thursday, December 17, 2009 2:59 PM

Oh BTW, bro Jo, CMIIW. Seinget saya kita pernah jumpa di Anyer tahun 2006. Waktu itu kita diundang oleh pengurus Orda Banten untuk turut memeriahkan HUT ORARI dng mendirikan field day di kompleks mercu suar Anyer. Betulkah? Anda kan yang setup a vertically polarized (array) top-band antenna yang di-erected dari mercu suar? Sayangnya propagasi pd hari itu kurang mantap. Saya datang bersama YB0DPO, YB0MCR dan YB0KLI bersama YLnya. Maksud saya ke situ untuk menikmati hidangan sambil eye ball qso, malah diminta menyambut setelah kepala DisHub oleh Mandor YB1TC.

Anyway, maksud pertanyaan saya pada email terdahulu dng reason bhw kebanyakan hams, baik di Amrik maupun di Ina, hanya punya satu hf rig. Thus, kalo ada hasil eksperimen one single top-band antenna yang bisa mumpuni untuk TX n RX sekaligus, dan murah-meriah, why not gitu loh.

As for RX only, yang saya ingat itu ada Ungrounded Beverage antennas yang membutuhkan lahan luas (gak cocok untuk urban areas), antenna yang rejects local noise (insensitivity to vertically polarized radiation), dan the K9AY terminated loop (directional receiving antenna). Yang lainnya, saya kurang paham. Yang kedua dan terakhir saya sebut adalah loop antennas. Yang terakhir cocok untuk lahan cekak yang terbuka (harus bebas dari bangunan dlsb yang cenderung mengurangi performance). Tapi harus menggunakan 9:1 impedance-matching tarnsformer pada satu ujung loop ke ground, dan terminating resistor pada ujung loop yang lain ke ground. Sedangkan yang kedua di atas, adalah square loop yang masing2 segitiganya sama2 punya sisi yg berdekatan (di tengah2 loop) yg menggunakan 450 Ohm ladder line yg center fed. Dari center fed ke ujung loop, ladder line tsb di-cross. Saya gak bisa menggambar di email ini, tapi semoga bisa dibayangkan macam apa loop ini. Loop ini memiliki panjang sisi 25 feet (8.3 mtr), 10 feet (3.3 mtr) tinggi, dan dari kawat #14. Di samping itu, loop ini memerlukan ferrite transformer kecil yg dipasang disambungan antara ladder line dan 50 Ohm coax (yg juga berfungsi sebagai balun). Juga perlu dipasang trimmer capacitor untuk menjaga resonance ke arah narrowband. Loop ini agak broadband dibanding typical small loops lainnya. Downside dari loop ini adalah me-reduce signals dari stations di kawasan NVIS krn sifatnya yang meng-cancel semua noise dari ground wave. Thus, loop ini gak cocok untuk kegiatan emcomm jarak dekat dan sedang (NVIS).

Inilah yang saya ingat. Juga saya jarang beroperasi di 160M krn memang tidak memasang antena itu (kecuali di field day setahun sekali atau operate di station milik teman yg available utk 160M). Karena juga sering emcomm, maka untuk HF hanya beroperasi di 40M dan 80M NVIS. Anyways, orang sini bilang "verticals are noisy" dan "you can reduce ground-wave noise much more effectively if you don't rely on a simple horizontal wire." Happy experimenting!

Wyn W. Purwinto
ab2qv@arrl.net
Dewitt, New York, U.S.A.



Yth OM Wyn,
Kita belum pernah jumpa karena saya tidak ikut dalam kegiatan di Anyer, 2006, melainkan OM John Andries, YB0JAX. Beliau adalah elmer saya di awal minat main top band (160m) pada 1997.

Tentang penggunaan antena tunggal untuk TX dan RX pada top band memang mungkin -- dan lazim saja -- dipilih oleh para pemula. Saya pun melakukannya. Namun, kalau tangga DXCC sudah dinaiki semakin tinggi, maka diperlukan progresivitas antara lain: sistem antena RX. Apalagi setelah saya menggunakan antena vertikal untuk TX, yang karakternya memang lebih noisy

Mungkin OM Wyn sudah mahfum bahwa di Amrik atau di Eropa utara, seorang DXer top band bisa meraih 100 negara DXCC dalam tempo singkat karena didukung oleh adanya kurun waktu musim gugur dan musim dingin. Tapi, tidak demikian halnya di Indonesia. Derau tak kunjung berkurang sepanjang tahun apapun musimnya. Jadi, memang perlu investasi untuk sistem antena RX yang khusus. Besaran investasi pun tidak semahal membeli aksesoris untuk stasiun dung-dung karena bisa dibuat sendiri :-))

Karena stasiun YB/YC jarang ada di top band, investasi tsb tidak hanya bernilai bagi saya, tetapi juga bermanfaat untuk stasiun lawan.

Tentang antena RX yang Anda tulis, saya dapat membayangkannya. Yang belum sempat saya coba adalah loop K9AY.

Tnx es 73 de Jo, YC0LOW


From: w.w.purwinto
To: antennamania@googlegroups.com
Sent: Thursday, December 17, 2009 5:03 PM
Subject: Top band RX antennas/Re: Antena Loop untuk RX ala N6RK


Dear OM Jo, saya QSL dan paham banget kiat Anda. No doubt, supplementary RX antenna memang sangat perlu untuk DX hunters di top-band (ground wave operation). Silakan bereksperimen terus. Dan lanjutkan kiprah generasi old timers seperti bro John Andries, YB0JAX. Saya jika berkesperimentasi dng antenna selalu berangkat dari conceptual paradigm (purpose, ground condition, environment, parts/materials, sky wave, ground wave dan objectives). Baru memilih mana antena yang cocok atau mendekati cocok atau homebrew sendiri. Contohnya, untuk top band, saya harus paham dulu apa itu yang dimaksudkan dengan ground wave. Maklumlah, memang saya adalah produksi dari perguruan jalur sepeda (istilah lalu lintas) antara jalur pedestrian (alon2 asal kelakon) dan jalur mobil (cepat kilat), dalam dunia hamradio. He 3x. Jadi kalau saya harus membuat homebrew top band antenna (baik untuk TX, RX dan TX/RX) maka saya harus memperhitungkan kombinasi dari direct wave, ground-reflected wave, dan surface wave yang berguna untuk reject local noise. Di meja PC saya ini ada tulisan dari Brian Beezley, K6STI, yang kebetulan mendiskusikan konsep2 dan data2 ground wave tsb di atas. Belum sempat habis membacanya, saya harus membaca email Anda dulu. Kebetulan Anda tinggal di Cinere yang berbukit dan berlembah. Ini topografi yang rada sulit untuk kompromi dng RX antennas made in Amrik yang khusus untuk flat ground, lahan luas (spt Beverage) dan 4 musim (di lokasi saya malahan lebih banyak waktu dinginnya). Itulah makanya saya ingin membaca dan memahami konsep ground wave. BTW, gud luck wid ur xperiment. "No pain, no gain"

Wyn W. Purwinto
ab2qv@arrl.net
Dewitt, New York, U.S.A.


Klik juga

http://topbanddxdiindonesia.blogspot.com/2010/02/n6rk-rx-loop-siapkah.html

dan

http://topbanddxdiindonesia.blogspot.com/2010/02/swr-pada-antena-rx-loop-ala-n6rk.html

05 Desember 2009

Masalah pada Antenna TX dan RX 160m

Setelah hampir tujuh bulan lamanya saya tidak aktif pada Top Band (160m) maka awal Nopember 2009 saya mulai siap-siap untuk aktif lagi.

Yang pertama diperiksa adalah sistem antena transmisi vertikal setinggi 18 meter (dengan tiang fiberglass dari Spiderbeam, Jerman). Salah satu kawat tembaga untuk top-hat di ketinggian 17 meter yang sloping telah putus karena hembusan angin kencang di Cinere. Berkurangnya seutas kawat ini (dari tiga utas) menyebabkan melonjaknya nilai VSWR. Terpaksa semua elemen tiang teleskopis diturunkan, disambung dan sekaligus dilakukan servis besar - termasuk weatherproofing ulang di setiap sambungan teleskopisnya.

Yang istimewa adalah mutu fiberglass dari Spiderbeam. Setelah berumur lebih dari setahun, kondisi tiang tetap baik, mengkilat dan tidak ada keretakan apa pun!

Koneksi hairpin coil, ground radials dll ke feedpoint antena juga dibersihkan dari kotoran dan tanda-tanda korosi. Lalu, dibebat dengan 3M rubber splicing tape.

Ketika antena RX ala N6RK dicoba, tidak terdapat adanya tanda-tanda kehidupan alias kaput. Pemeriksaan dimulai dari rangkaian komponen pada unit DX`Remote Voltage Feed, di hamshack hingga Remote Tuning Unit (RTU) di tiang antena loop semua. Tapi, belum ketahuan mengapa kinerja antena RX tidak merespon ketika tegangan listrik DC ditambahkurangkan.

Belakangan baru saya sadari bahwa koneksi inner coax cable tidak sempurna pada salah satu konektor yang menuju perimeter loop. Rupanya, ini disebabkan karena tension (ketegangan) akibat tiupan angin.

Sabtu, 5 Desember 2009, semua sudah beres. Tapi, propagasi masih malu-malu membuka diri. Malam harinya (WIB) saya hanya bisa mendengar HS0ZBW memanggil di 1828.5 KHz. Padahal, saat itu tengah berlangsung The ARRL 160m CW Contest.

15 November 2009

TX3A pada Topband (160m)

Rabu 11 Nopember 2009, sekitar 1300Z, saya menangkap sinyal kuat dari TX3A pada topband (160m), pada 1830.7, QSX down 5. Kondisi band sedang bagus karena sinyalnya terdengar dalam waktu yang lama, sekitar tiga jam setelah itu. Pada puncaknya, RST bisa mencapai 589. Tapi, betapa kecewanya karena panggilan saya tidak satupun terdengar oleh mereka.

TX3A akan menjadi negeri DXCC yang ke-107 bila saya berhasil. Tapi, nasib saya hari itu memang apes. Saya memanggil sampai jontor hingga sinyalnya hilang. Dia lebih banyak melayani stasiun dari pantai barat AS sehingga dugaan saya adalah, antena RX mereka mengarah ke sana. Bukan ke timur.

Sabtu petang (WIB) saya berada di depan radio sejak usai tunaikan Maghrib. Headphone terpasang terus di kuping dan mendengar noise di 1830.7 KHz (bukan mendengar lagu-lagu - karena lagu favorit bisa di-replay kapan saja), lalu bekerja dengan komputer. Pukul 1320Z terdengar TX3A QRV. "DN 5", katanya. Ketika saya ketuk callsign saya satu kali, TX3A langsung readback dan memberikan RST 599 kepada saya. Setelah saya juga readback, saya kirim "RST 559, DE YC0LOW TU".

QSO dua arah pada topband dengannya berhasil dengan sempurna dalam sepuluh detik- walau daya pancar 'hanya' 100 Watt menuju sebuah antena vertikal.

From: "hendro s.joedho"
To:
Sent: Saturday, November 14, 2009 9:11 PM


Good luck OM Jo. 599 pada satu kali panggilan dan semoga bisa segera confirmed. 107 entities di low band, bukan main.

73 es GL, Hen-yc0qr

From: Jo, YC0LOW
To: orari-news@yahoogroups.com
Sent: Saturday, November 14, 2009 9:48 PM


yth OM Hendro,
Terima kasih. 599 buat saya mungkin bukan laporan yang sesungguhnya (real report) melainkan laporan gaya DXpedition yang mana nilai RST-nya sudah diprogram dalam logging software dari TX3A.

Yang lebih penting untuk menandai masuknya YC0LOW ke log adalah ketukan "TU" darinya :-)

I love CW full...

From: "hendro s.joedho"
To:
Sent: Saturday, November 14, 2009 10:17 PM


Ya OM Jo, memang gaya report DX atau contest utamanya via software, tapi kalo dg one round qso pastinya betul 599, HI. Nampaknya malam minggu ini masih 'ngalong', scanning di top band.

73, De ycoqr

From: Jo, YC0LOW
To: orari-news@yahoogroups.com
Sent: Saturday, November 14, 2009 10:30 PM


Yth OM Hendro,
Belum tentu juga 599. Kemungkinan terbesar adalah

1) Operatornya bertelinga, bukan "alligator" (buaya) yang tanpa kuping. Antena RXnya: Beverage

2) TX3A ada di pulau yang jauh dari QRM (man-made noise) sehingga daya penerimaannya baik bahkan untuk sinyal lemah. Konon mereka pakai Elecraft K3 dan Icom 746-Pro yang
filter DSPnya semua digital.

3) Saya masuk karena belum ada pile-up (a lucky blow).

4) Doa dari teman-teman Orari yang ijabah :-)

Ya, saya sedang cek sistem ground radials antena TX 160m saya karena tadi pagi baru diservis setelah sekian lama kusut terbengkalai.


From: unclebam@gmail.com
To: orari-news@yahoogroups.com
Sent: Saturday, November 14, 2009 10:24 PM

CONGRATULATIONS, mas Jo. Rupanya anda memang ter-obsesi utk doin' thing THE HARD WAY, HI !)

[bam]YB0KO/1

From: Jo, YC0LOW
To: orari-news@yahoogroups.com
Sent: Saturday, November 14, 2009 10:34 PM



Terima kasih, mas Bam. Semoga sehat wal afiat sekeluarga di Bogor.

Konon, topband (160m) is not a band but an obsession... :-)

10 Oktober 2009

Menjelang Musim Topband (160m) Dimulai

Bila merujuk kepada informasi dari John, ON4UN, dalam bukunya LOW Band Dxing, maka periode equinox nyaris usai. Sejak 15 Oktober setiap tahun, akan berlanjut ke periode musim dingin di belahan utara bumi. Saat itu stasiun-stasiun di sana akan mengalami kurun waktu yang ideal karena MUF yang rendah, siang hari yang pendek, lebih lama dalam gelap, matahari terbit lebih perlahan, lapisan D yang berkurang pada subuh dan senjakala dan tidak banyak QRN akibat badai petir.

Berdasarkan pengalaman saya, maka manfaat itu juga bisa diperoleh bagi kita yang mukim di belahan selatan bumi. Semua QSO 160m, long path yang sejati dari Cinere, yang saya alami (dengan VE1ZZ dan PY1BVY) terjadi pada Oktober. Tentu saja saya mulai bersiap menghadapi musim ini setelah hampir empat bulan lamanya tidak mengudara. Pengecekan singkat terhadap txcvr dan sistem antena transmisi vertikal T-load menunjukkan semua dalam keadaan baik. Target saya, kalau mungkin, bisa menjangkau kawasan pantai timur AS dan/atau bagian timur Amerika Selatan pada topband sebelum matahari terbit di Cinere.

Tiga hari yang lalu, saya mendengar YC1COZ di saat subuh WIB. Juga mendengar 3D20CR di 1824.5 KHz, sekitar 14:00Z, di hari yang sama, namun stasiun DX ini tidak menjawab panggilan saya.

Tadi pagi (WIB), 22:00Z, saya mendengar sinyal JA6LCJ yang kuat. Pada ON4KST Chat Room juga terjadi diskusi yang menarik ketika beberapa stasiun baru di Eropa berhasil kontak -yang pertama kali- dengan VK6GX. Dari Indonesia, sekitar 130:0Z saya dengar YB2EUZ op Dadang (selamat atas prefiks barunya!). Kemudian pada 22:40Z terdengar YC1YU op. Urip di Tangerang memanggil DX. Saya masuk ke frekwensi kerja dia dan kami bertukar laporan. Selamat datang di topband, OM Urip!

02 Mei 2009

JD1BLY dan JD1BMH

From: dadang darwis
To: orari-news@yahoogroups.com
Sent: Wednesday, April 29, 2009 7:41 AM
Subject: [orari-news] JD1BLY dan JD1BMH

Dear OM Jo,

29 April s/d 5 May 2009 JD1BLY, JD1BMH , JD1BLK dan JD1BMT akan beroperasi lagi di Ogasawara

28 Des 2008 12:29 YC2EUZ qso dengan JD1BMH di 160M dan 02 Jan 2009 21:14 qso dengan JD1BLY di 80M....tercantum pada on line log..

apakah JD1BMH termasuk dxcc Japan? atau Ogasawara merupakan dxcc tersendiri?
karena saya menghitungnya termasuk Japan

setelah adanya sedikit perubahan antenna (saya), apakah nanti dapat ketemu lagi dengan JD1BMH di top band?

Dadang D / YC2EUZ



Yth OM Dadang, YC2EUZ,
Ogasawara (JD1/0) adalah entitas DXCC tersendiri. Demikian juga Minami Torishima (JD1/M) yang kemunculannya lebih langka pada topband (160m). Keduanya tidak dihitung sebagai Jepang (JA).

Lokasinya yang lebih ke utara, dari arah Jawa, dan menyeberangi garis katulistiwa, membuat sinyal kita -pada musim ini- dari sini lebih sulit menembusnya karena ada faktor ekuator. Menurut John, ON4UN, dan pengalaman saya selama ini, komunikasi trans-equatorial pada topband akan membaik pada musim equinox.

Kalau Anda sudah confirm JD1 pada topband, jadi berapa jumlah DXCC di sana? 23, 25 atau berapa negara?

Gud DX es tnx. 73 de Jo, YC0LOW

Peru pada Topband (160m)

From: "Jo, YC0LOW"
To: orari-news@yahoogroups.com
Sent: Monday, April 27, 2009 6:23 AM


Pagi ini (0549 WIB), melalui Chat-line, saya diminta oleh Jack, OA4TT, untuk mencoba QSO pada topband (160m). Saya sampaikan bahwa saya sedang memanggil CQ pada frekuensi 1818.3 KHz. Dia tidak bisa mendengar sinyal saya, namun, dia minta diberi kesempatan untuk memanggil pada frekuensi saya tsb untuk lima menit lamanya sebelum saat Sun Rise tiba di Cinere.

Yang terjadi sekitar dua menit kemudian adalah saya mendengar panggilannya, di tengah QSB. Dua huruf terjelas yang saya copy adalah "TT". Sayangnya, Jack tidak bisa menangkap laporan RST yang saya kirim berulang-ulang kepadanya. Begitu puncak Sun Rise tiba di Cinere, sinyalnya pun sirna.

Para DXer Indonesia, terutama yang bekerja pada LOW bands, tentu mahfum bahwa sinyal dari Peru merupakan sebuah kelangkaan dalam pendengaran kita. Percobaan long path QSO ke OA-land saya tidak berhasil. Tetapi, fenomena ini membuktikan bahwa segala sesuatu bisa terjadi pada topband. Yang penting, beradalah di sana dan memanggillah!

Locator OA4TT adalah FH16TW (QRB 17829 km, QTF 171°).

31 Maret 2009

VK9GMW (Mellish Reef): Tabah Sampai Akhir

Ini cerita klasik dalam ikhtiar mengejar stasiun dari negara DXCC untuk menambah koleksi pada top band (160m). Saya tidur lebih cepat, sekitar 1300Z, dan bangun empat jam kemudian. Sebelum tidur, minum air putih yang banyak untuk mengaktifkan 'alarm' tubuh. Weker digital tidak perlu dinyalakan karena akan mengganggu tidur XYL. Toh seorang amatir radio tidak boleh mengganggu orang lain ketika berkesenangan :-))


Band hanya dihuni oleh derau yang tinggi. Tapi, biar saya sudah tambah tua, konon untuk menghadapinya musti tabah sampai akhir (pinjam judul film Indonesia jadul ).


Salah satu kesulitan saya untuk mencegat sinyal DX dari arah kawasan timur (Pasifik/Oceania) adalah terhalang oleh Gardu Induk PLN Gandul. Untungnya, hari cerah karena bila hujan turun, derau dari power line-noise akan meningkat.


Kartu QSL 160m, CW. dari VK9GMW
VK9GMW akhirnya terdengar lamat-lamat pada 1823.5 KHz, QSX-UP. Ini salah satu taktik dari operator top band berpengalaman. Dia tidak menyebutkan berapa Kc naiknya. Hanya 'up' alias free-split. Dengan begitu, dia bisa melayani lebih banyak stasiun dari beberapa belahan dunia dalam waktu yang singkat. Jadi, puluhan stasiun Jepang (yang hanya boleh beroperasi sampai dengan 1825 KHz) akan bisa terlayani. Sementara, stasiun non-Jepang bisa memilih memanggil di atas 1825 KHz. Pesta pun dimulai. 


Saya memilih memanggil pada 1825.5 KHz. Sekali dua kali tidak masuk karena bersaing dengan stasiun-stasiun QRO di Eropa. Sedangkan daya saya hanya 100 W.


VK9GMW beroperasi di kawasan yang senyap dari derau. Selain Icom IC-746 Pro, transceiver lainnya adalah Elecraft K3. Keduanya adalah produk istimewa untuk top band. Filter RX digitalnya lengkap. Saya yakin, dengan alat-alat itu mereka akan mendengar sinyal saya dengan jelas betapapun lemahnya. Saya geser frekuensi TX ke 1825.2 supaya tone terdengar sedikit beda dengan yang lain. Ternyata berhasil! George AA7JV punya pendengaran yang baik.


Pada 1806Z kami bertukar laporan singkat untuk dicatat ke dalam log masing-masing. Ini adalah negara DXCC yang ke-106 pada 160m bagi saya. 

Momen beberapa detik ini dipantau oleh John, OZ1LXJ. Dia menulis pada Chat-line ON4KST: "18:07:09 OZ1LXJ John: Congrats Jo YC0LOW". Pemantauan oleh pihak lain ini bisa merupakan sebuah pengukuhan terhadap sahihnya sebuah QSO dua-arah.


Setelah saya, terdengar YC0NWO memanggil dan juga berhasil kontak. Rupanya OM Chandra juga masih senang ngalong untuk berburu top band DX.


VK9LA? Entah ada di mana...