13 Februari 2010

Evaluasi Sementara Antena TX Delta Loop 160m

Sudah hampir tiga minggu saya menggunakan antena tx Delta Loop (DL) 160m. Antena tsb disiapkan di halaman kantor saya di Cirendeu, Tangerang, untuk kontes CQ 160m CW di minggu terakhir Januari 2010.

Sketsa delta loop 160m dari Mike, WA5POK yang berhasil saya  coba di Cirendeu

Karena belum merasa 'puaassss' (ingat air-muka Tukul Arawana di layar kaca) saya putuskan untuk mempertahankan antena DL sampai hari ini. Konsekwensinya, tiap hari saat SS dan SR saya harus bolak-balik dari rumah di Cinere ke lokasi kantor di Cirendeu. Rincian dimensi antena, sistem matching dll sudah lebih dulu saya uraikan di blog saya.


Evaluasi sementara ini hanya berkait dengan hal-hal kinerja tx untuk DX berdasarkan report di DX Cluster dan topband (160m) CW QSO. Saya tulis supaya bisa berbagi pengalaman dengan kawan-kawan Orari. Tidak ada maksud saya yang lain dari pada itu.


1. Perolehan skor YC0LOW pada kontes CQWW 160m tergolong minim karena banyak faktor penyebab. Lagi pula, kondisi propagasi tidak istimewa. Tidak ada pembukaan atau SR enhancement. Semua stasiun yang masuk log dan saat terjadinya QSO tergolong normal - sesuai pola mekanisme propagasi (misalnya, tidak satu pun stasiun YB/YC peserta kontes tsb yang alami long path qso). Stasiun-stasiun North Eropa dan North America tidak banyak terjaring.


2. Pada hari-hari pasca-kontes, antena DL telah mengantar sinyal YC0LOW berhasil penetrasi lebih jauh ke midland USA. Terjaring WD5COV di New Mexico (lihat posting terpisah). Pada 12/2/10, WD5COV kembali melaporkan sinyal YC0LOW yang lebih kuat dari pada saat ber-QSO. Juga ada laporan dari N1BUG (qth: Maine), N4NN (qth: Florida).


Laporan dari Eropa tidak terlalu saya perhatikan karena memang jaraknya lebih dekat dari pada jarak ke Amrik. Dengan memanggil spesifik, hanya ke NA dan SA, maka saya bisa fokus untuk tidak melayani stasiun dari luar kawasan yang saya tuju.


3. Stasiun-stasiun yang juga melaporkan penerimaan sinyal YC0LOW dengan antena DL adalah:


28 Jan 2010 (sebelum waktu kontes)
23:02:09 RA3AH Igor: Jo u was 579 on my dipole dir to west
22:57:55 N1BUG Paul: Jo you peaked 559 just before SR.
22:46:40 K1UO Larry: Jo 339 now in NA

2 Feb 2010
2219 bu2aq 1814.0: YC0LOW 339/559
2204 9m2ax 1814.0: YC0LOW cq na/sa
1259 hl1kk 1812.4: YC0LOW cq

3 Feb 2010
12:19:02 WD5COV Dave: You are q5 today
12:18:52 N4NN Dale: Jo , weak cpy into FL.
12:15:31 WD5COV Dave: calling you Jo
12:11:58 N6ET Bob: Your CQs all Q5. Must have 1-way skip, Jo.Will keep trying.
1202 je1ctm 1814.0: YC0LOW cq NA being cld by a N6
11:55:02 N6ET Bob: Copyable now Jo. Am calling you.

5 Feb 2010
22:37:51 SM0MDG Bjorn: Jo, I hear you from time to time...
2220 9m2ax 1813.8: YC0LOW cq na/sa

6Feb 2010
2259 ik5mej 1812.5: YC0LOW cq cq fb now
22:21:21 OK1DXD Tomas: Jo, you are here 539 on INV V 18m UP
2122 la3xi 1814.1: YC0LOW Gm Jo 569
2114 je1ctm 1814.0: YC0LOW cq NA SA
21:10:44 JJ2LPV Sige: YC0LOW 1814 CQ
21:10:13 JE6IGP Hide: (YC0LOW) Jo-san 449
1432 jh3gcn 1814.0 YC0LOW

7 Feb 2010
22:51:19 XU7ACY Peter: YC0LOW cq on 1814.0
22:27:09 OZ1LXJ John: Jo - FB sigs agn today, abt same as yesterday.

12 Feb 2010.
12:48 N6ET Bob: Jo, you're S9 +10db on peaks your last CQ!
12:29 W0FLS Dave: Jo. . .starting to get traces of you here in Iowa
11:55 ja8isu 1814.0: YC0LOW cq NA



4. Secara umum, pada hari-hari tsb, kondisi propagasi tidak istimewa. Bila dibandingkan dengan antena T-Loaded 160m yang saya gunakan di QTH Cinere, maka ada beberapa fakta menggembirakan bahwa sinyal YC0LOW dari antena DL bisa di dengar di beberapa negara bagian baru di AS yang jaraknya dari Cirendeu lebih dari 13.500 km .


5. Antena DL belum berhasil mempenetrasi sinyal ke Pasifik di mana dalam dua malam terakhir muncul C21DL (6.700km) dan TX4T (11.200km). Padahal pemunculan mereka ada pada saat SS di mana sinyal saya dapat diterima di AS melalui path ke timur. Mungkin, problemnya adalah saya dan mereka sama-sama ada di south latitude. Pasti ada skip/hops sehingga sinyal overshoot ke Pacific. Jadi mimpi, kalau saja saya punya dua antena TX di satu lokasi :-))

08 Februari 2010

Mendengar Sinyal Lemah pada Band 80m dan 160m (courtesy of Bill, W4ZV)

Februari 2007, saya diminta oleh Orari Lokal Cilandak (lokal saya) untuk memberi semacam ceramah tentang cara mendengar sinyal DX yang lemah pada 80m dan 160m di hadapan teman-teman.


Bahan-bahan saya kumpulkan, terutama dari Bill, W4ZV yang masyhur sebagai top band DXer. Bill sudah memberi izin tertulis kepada saya untuk menggunakan bahan-bahan darinya dan bahkan menerjemahkannya ke bahasa Indonesia.


Karena di YB-land sekarang mulai banyak yang berminat 'melatih pendengarannya' sebagai pencinta derau dan static crash , bahkan bersedia jadi calon anggota SCLC (Static Crashes Listeners Club) maka saya muat bahan-bahan presentasi itu di bawah ini. 

Bila bands 80m dan 160m disebut sebagai Kerajaan Derau maka sebaiknya kita kenali struktur dan sumber daya kerajaannya. Lalu, pikirkan dengan senjata apa kita bisa menang perang dengan prajurit-prajuritnya yang brutal/insubordinasi :-)


Semoga bermanfaat!






































Radio penerima MW SW dapat dipakai untuk audit derau


























Data statistik YC0LOW pada 2010

Gambar terakhir di bawah ini adalah foto antena TX inverted-L 160m dan G5RV 80m yang pernah saya dirikan di Cinere, 2007. 

Ditopang dengan sebatang bambu di atas batang pohon angsana atau sonokembang (Pterocarpus indicus). 

Tinggi tiangnya mencapai 24 meter di atas permukaan tanah. Gambar bentangan kawat yang sesungguhnya tidak jelas sehingga saya touched-up gambar aslinya dengan garis buatan.

Kawat antena inverted-L 160m (atas) dan G5RV 80m (bawah)

Siap berlawan dengan derau? Kalau telinga ada alergi, janganlah mencoba nguping pada band 160m. Kecuali Anda memiliki antena RX yang khusus.

Full Sized Delta Loop Untuk TX pada 160m, Januari 2010

Gambar di bawah ini adalah skema antena TX Delta Loop, full-sized yang saya gunakan dalam CQWW 160m CW Contest 2010.


Rumus pada gambar adalah rumus teoritis. Penyesuaian untuk mendapat resonance dilakukan dengan menyesuaikan panjang kawat tembaga yang terentang horisontal.


Dengan antena tx ini, sinyal CW saya berhasil penetrasi ke New Mexico, AS, negara bagian baru yang ke-28 masuk ke dalam log 160m saya.


Klik untuk memperbesar gambar dan melihat pedoman rumus skema

DHDL ala YC0LOW dalam Gambar-gambar, Feb 2010.


Gbr. 1


Gbr 1 memperlihatkan sebagian tiang bambu no. 1 yang dipakai sebagai penopang kawat vertikal sekaligus menjadi pertemuan dengan kawat horizontal baseline yang sejajar dengan tanah. Pada sudut tsb disisipkan sebuah carbon resistor(jangan menggunakan jenis wire-wound) dengan nilai 960 Ohm (tergantung kondisi tanah, ketinggian kawat dll).

Sebelum menemukan nilai tetap resistor yang tepat, saya gunakan sebuah potensio 1 K sebagai variable resistor. Bila Front to Back rasio sudah kedengaran nyata di receiver, maka itulah nilai yang diinginkan antena. VR bisa diganti dengan fixed R.

Gbr. 2




Gbr.2 adalah sebuah long-shot dari tiang bambu no.1. Karena ukuran kawat antena DHDL ini hanya 0.7mm maka garis kawat yang melandai(sloping) ke titik tengah antara dua tiang segaris menjadi tidak terlihat.

Gbr. 3


Gbr.3 adalah sebuah long-shot tiang bambu no.2 yang berhadapan lurus dengan tiang bambu no.1. Pada sudut bawah kawat vertikal dengan kawat horisontal disisipkan rangkaian transformer untuk penyesuai impedansi antena dengan feedline coax RG-58, 50 Ohm. Kawat antena yang tipis tidak terlihat.

Gbr.4


Gbr.4 adalah sebuah close-up dari kotak feedpoint. Saya menemukan rasio 2T:6T (lilit) sebagai nilai terbaik pada toroid binocular Amidon BN-73-202. Pada kotak, tertulis 2T:5T.

Penerimaan antena selalu searah dengan titik feedpoint. Berhubung lahan yang terbatas, antena DHDL ini mengarah ke 5 derajat utara. Enak sekali mendengar sinyal dari Jepang. namun, pagi ini (WIB) saya mendengar sinyal W3 dengan antena ini pada 160m.

Keistimewaan antena ini adalah tidak bergantung pada kondisi tanah (ground-independant)

07 Februari 2010

Rekaman Sinyal 160m YC0LOW dari Dua Jenis Antena RX pada SM0MDG dan OZ1LXJ

Kondisi propagasi ke NA dan SA yang tidak baik, pagi ini (WIB), menyebabkan saya 'terpaksa' melayani stasiun-stasiun dari Eropa saja. Kecuali IK5MEJ yang setelah QSO dengan saya, dia nyatakan mendapat YC sebagai NEW ONE yang ke-216 pada 160m (!). Akhirnya kami 'bermain' rekam-merekam sinyal.

Usai QSO dengan Bjorn, SM0MDG, mentor virtual saya untuk antena vertikal t-loaded 18m, saya mendapat audiofile berisi rekamannya. Bjorn mengirimkannya untuk melengkapi penjelasannya bahwa dia menggunakan rx antena jenis single Pennant. Beberapa hari yang lalu, dia pisahkan antena tsb dari antena TXnya sejauh 50 meter
dan kinerja antena Pennant jadi optimal. Adapun rx loop-nya dia pisahkan hingga 100m!

John, OZ1LXJ, juga mengirimkan rekaman qso yang sama. Bedanya dia menerima sinyal kami dengan Beverage sepanjang 200m yang mengarah ke Indonesia.

Coba simak, betapa jelas penerimaan sinyal 160m pada receiver mereka sebagai hasil dari sebuah antena RX (directivity dan rasio signal-to-noise yang bekerja sempurna). Hal itu tidak terjadi pada sistem RX saya.

Saya jadi teringat cerita teman-teman operator YE1C, saat eyeball di Citos, Jakarta Selatan, Kamis lalu, yang pada kontes 160m CW yang lalu, juga menggunakan Beverage sepanjang 177 meter untuk panen QSO.

Audiofiles sudah di-upload ke
http://groups.yahoo.com/group/orari-news/files/

Bila ada yang berminat mendengarkan, silakan ke sana. Klik files dengan deskripsi sbb:

1. Rekaman QSO 160m YC0LOW dengan SM0MDG, 6Jan2010, 274 KB, MP3
2. Rekaman 160m QSO YC0LOW-SM0MDG dari OZ1LXJ, GLoc JO55PM (QRB 10936
km, QTF 325°), 6 Jan 2010, 299 KB, MP3

Tnx es 73 de Jo, YC0LOW

04 Februari 2010

Sinergi SWLer dan Topband DXer Indonesia

Belakangan ini, milis diramaikan dengan pembahasan mengenai pentingnya antena RX untuk melengkapi senjata bagi para topband (160m) DXer.

Saya sangat bersukacita dengan bertambahnya minat dan kesadaran tentang perlunya peningkatan kemampuan penerimaan (RX) setelah selama ini para DXer hanya berkutat menemukan SWR terendah untuk antena TX-nya.

Bagi para LOW band DXer (80 dan 40m), sebuah antena RX akan menjadi sangat bermanfaat dalam menaiki tangga DXCC.

Bagi para eksperimenter lain, keahlian merancang/merakit produk rangkaian T/R dengan adjustable Gain akan menambah wawasan. Syukur kalau bisa memproduksi perangkat tsb sehingga ada pendapatan.

Bagi pengguna txcvr yang hanya memiliki satu input antena akan bisa mengamankan front-end sistem RX di perangkatnya karena sudah dipasangi alat baru bikinan teman-teman Orari.

Saya ingin tahu, bagaimana seandainya kita bersinergi dengan SWLer Indonesia yang berfokus pada Medium Wave (MW). Bertukar pengalaman tentang alat apa, bagaimana cara, dll. yang terbaik untuk menerima (receive) sinyal lemah/DX.

Saya yakin ada banyak teman-teman Orari yang berangkat dari hobi SWL. Biasanya mereka lebih sabar dan tekun. Karenanya, kita (mungkin) bisa bersinergi dalam hobi ini.

Noise Auditing pada Topband

Mohon maaf, judul saya ubah supaya para maniak (penggemblung) Topband tidak dikeluhkan sebagai pembuat onar :-)

Yth OM Hari WWW, dkk

Kalau Anda jadi jalan-jalan ke dusun Nawang tsb, maka ada beberapa hal pokok yang patut dilakukan seandainya ingin memanfaatkan lokasi tsb untuk aktivasi transmisi topband (160m), entah untuk event apa, kapan pun.

Yang pokok adalah melakukan NOISE-Auditing (jadi bukan cuma orang-orang di bagian keuangan yang bisa omong tentang audit. Amatir radio juga sah bicara itu. Opo ora hebat kita ini, mas ya?

Caranya relatif mudah, tapi harus dikerjakan dengan teliti dalam pengertian audit diselenggarakan di saat yang sama dengan rencana saat operasi topband, yaitu mulai maghrib (SunSet). Jangan mengaudit noise di sekitar pada siang hari karena kesiangan akibat keenakan tidur malam (musuh dalam selimut? NO way...)

Gunakan radio jinjing (portable) penerima dengan antena teleskopisnya, misal Sony serial ICF-7600 dll. Tune pada band MW, frekwensi sekitar 1700 kHz, mode AM/MW tetapi jangan tune di frekwensi kerja stasiun BC. Ukur tingkat noise di tempat-tempat yang akan digunakan sebagai titik antena - terutama antena RX. Boleh juga di ruang operasi kelak. Ubah terus orientasi antena radio penerima tsb sampai mendapatkan derau (noise) terendah.

Karena radio penerima sejenis jarang dilengkapi dengan jarum indikator level penerimaan sinyal, maka kita pakai kertas dan bolpen untuk mencatatnya.

Pilih lokasi hamshack yang jauh dari peralatan penghasil noise seperti dimmer, tv plasma (karena switching PSU-nya), bantal hangat berlistrik dll. Yang utama, hindari dekat dengan kabel HV PLN dan/atau lampu penerangan jalan umum tipe Natrium (biasanya ini biang keroknya).

Negosiasikan kepada pemilik bangunan bahwa selama Anda menggunakan villa-nya, maka kita akan matikan semua lampu penerangan ruangan jenis TL dan akan memakai bohlam biasa (jelaskan Anda dkk adalah orang-orang romantis yang tidak perlu cahaya, cuma perlu RST dari DX)

Kalau mau pake linear amplifier, hubungi PLN supaya tambah daya dan merubah jadwal giliran pemadaman listrik di lokasi tsb. Minta mereka untuk memadamkan listrik di rumah-rumah para pengantin baru di dusun tsb.

Yang terakhir, sebelum berangkat ke sana, jangan lupa pamit dulu kepada XYL. Pilihlah dalih yang membuat kesan kepadanya bahwa ini adalah kegiatan kerja dan menyelesaikan persoalan hidup-dan-mati. Biasanya perempuan tidak mau ikut menyaksikan carok.

Gud DX es 73 de Jo, YC0LOW



Dari Orari-news@yahoogroups.com
Re: pasca hingar-bingar CQWW 160m-nya para GEMBLUNGers
Bam, YB0KO/1, menulis



Hi ALL !!!
sudah hampir 2 week-ends ini sy cuma bisa "menyimak" segala hingar-bingar, hiruk-pikuk dan kegaduhan (semua dlm artian dan konotasi POSITIP) berkaitan dg CQWW 160m ini, tanpa bisa urun-rembug ato sumbang-saran dlm bentuk apapun --- krn "personal" sikon yg ke"malang"an lagi non-kondusip adanya.

betapapun demikian, ada bbrp hal yg bisa sy "tarik kesimpulan"- kan dr penyimakan tsb., a.l. :

1. PERSIAPAN yg matang -- jasmani dan rokhani, materiil dan moril -- yg tlh disiapkan dlm waktu relatip panjang (2 bln, misalnya -- seperti tim YE1C bekasi dan TRIO paiton yg memanfaatkan Lazy Quad ex kontes yll), atopun relatip pendek (sekedar 2-3 hari, misalnya --- seperti OM Jo dg DL-nya, OM Imam dg berbagai RX antennanya, OM Ddg serta rekans Tmg, Sltg dan Yogya dg "*make shift*" antennas pd umumnya -- dg motto: tak ada bambu (utk tiang)cabang pohon mangga tetangga-pun jadi)

2. PERSISTENSI -- gigih, keukeuh, tabah smp *the last minutes -- *terutama dlm menghadapi cuaca dan propagasi (termasuk "bukaan" SR/SS) yg kurang mendukung (bagi mereka yg ber-pikir-cekak) ato justru challenging/ menantang (bagi mereka kaum "positive thinkers") .....

[mis.: jam 23:00 wib masih menyiangi kebon tomat utk mbentang beverage di Gng Malang;di bwh hjn lebat plus petir ngebut Bndws-Jmbr utk cepet-cepet naikin Double L (quote: .... dalam remang2 kegelapan, capek yg tdk drsakan cmpur batuk kering meski masih jga nrus bikin hangat bibir dng rokok + kopi.. haa3x.. trus dikebut sampai antena mau matching ..." unquote) dan contoh-contoh lain yg di-posting selama sepekan belakangan ini

3. ENJOY -- lepas dari butir 1 dan 2 di atas, apapun hasil yg diperoleh, begitu gawe usai lengkap dg ritual "gulung kabel"-nya SEMUANYA enjoy dan heppi-heppi ajah, es sgr *mentally *MENATAP kedepan: bikin post-event evaluation spt yg dilakukan OM heri 1kar a/n YE1C; usulan ttg top banders dinner-lah, jelang CQWW SSB-lah, dan seabreg WHAT NEXT yg lain-lain nya.

= = = = = = = = = = = = = = =

di sela-sela seabreg WHAT NEXT inilah kaya'nya sy baru bisa *check-in* lagi ke "forum" ini, yg sy awali dg posting ini ....

hari senin 01/02/2010 jam 15-an gitu ... sy sempat nonton TV-one (nama programnya lupa, tp pembawanya Farhan .... yg lagi jalan-jalan ke daerah PACITAN, a.l. berkunjung ke rumah keluarga SBY dan bersilaturahmi dg kakak serta buDe bliao).

Farhan mengajak pemirsa ke Pantai SERAU, yg cuma sekitar 1/2 jam dr pusat kota Pacitan. Wow ... (paling tidak di mata sy) pantai ini ideal sekali buat bikin Field
Day ato semacamnya, krn (sepintas, itupun cuma liat di layar) memenuhi bbrp pra-syarat:

1. daerah pantai (kan pinginnya mau nerusin uji coba antena yg dinaikin di daerah pantai) dg hamparan pasir putih yg menawan.

2. cukup dekat dg pusat kota (*logistic wise*, sapa tau mesti mendadak harus beli kabel monster, tambang plastik, pop-mie ...), tp lumayan jauh dr areal industri ( = sedikit man-made noise);

3. TIDAK ato belum seramai ancol, carita, kuta, senggigi, parangtritis dsb (= sedikit man-made QRM/QRN ;) -- kegiatan rekreasi yg sempat di"tangkap" Farhan adalah SURFING (rupanya pantai ini sudah termasuk dlm daftar salah satu tujuan wisata bg peselancar kls dunia). Farhan sempat ketemu (dan ngobrol-ngobrol) dg Selini -- gadis cilik (11 thn) asli pacitan yg thn kemarin jd juara III kompetisi selancar internasional kelompok < 17 thn -- yg lagi berbasah-basah di situ (dia bilang tiap hari paling tidak 3 jam dia berlatih utk menghadapi kompetisi lain di bali, bln maret nanti)

4. kemudahan akses: lewat jalur selatan, sepanjang pegunungan karst yg membentang di selatan yogya, wonogiri, solo ... (bwt OM Imam dan OM Ika kan ada route penerbangan Palembang - Yogya ato Solo);

5. adanya bentangan pegunungan karst (dg gua-gua yg "patut diduga" adalah tempat hunian manusia jawa purba) ini JUSTRU membawa tantangan tersndr utk di-selidik-sidik- telisik-i pengaruhnya sama pancaran dan penerimaan RF tentunya sy tidak (ato belum) mengharapkan kita utk rame-rame ke sono utk bikin persiapan buat CQWW SSB bulan depan, tp paling nggak bisa dr sekarang di-wacana-kan utk bikin Field Day (ato semacam Low Band QSO Party di pantai Carita, thn 2005 doeloe) di sana, taruhlah kalo' musim hujan sdh agak redaan nanti.

seinget sy di milist ini ada bbrp rekans dr ORLOK Pacitan, mungkin bisa mulai bikin survai kecil-kecilan utk menjajagi kemungkinan utk itu -- a.l. dg mengamati keberadaan dan "kwalitas" suplai listrik (PLN) di situ (kalo' gak ada -- ato belum ada -- ya tolong dicheck kemungkinan menyewa (ato dapat donasi, hehehehe) genset sekitar 5 KVA-an gitu lah ... kalo' nggak ada sebagaimana diharapkan, gimana kalo' rekans Yogya (OM budi 2ujy, OM Harry 2www dll) meluangkan waktu (salah satu week end) utk bikin survai ini (OM Ardie 2lev yg masih gampang "blebar-bleber" kemana-mana mau dong mbantuin .... "sangu"nya nodong aja sama OM Ton 2cpo ato OM budi 2um yg biang antena "end fed 3/4 lambda three-wire" itu)

Nah, "gayung" sudah daku lemparkan, semoga "bersambut" hendaknya ...

73,

[bam]


Hari, YC2WWW menjawab:

Hi,, Om Bam,
Gayung yang dilempar ouphh,,, udah kita tangkep nih Om Bam, tapi haaaps,,, kita lempar lagi ke Om Bam hehe,,,

Om Bam, Cerita tentang pantai Pacitan nan elok begitu cerita Farhan di TV-Satu. Saya justru lebih tertarik untuk menjajaki bakal tempat wisata baru dan baru diresmikan (sama-2 lihat di TV saat peresmian bbrpa bulan yg lampau) yaitu Monumen Sudirman, lokasi Dsn Nawang masih wilayah Kab Pacitan, berada pada ketinggian 1000 dpl, mirip Gunung Malang, kalau ada kesempatan 2 s/d 3 minggu ini saya coba berkunjung atau berharap ada rekan dari Lok Pacitan pada milis ini utk memberikan info.

Okelah,,kalau,,beg,,begitu, Om Bam,, mudah-2an gayung yg dilempar disambut teman yang lain, disamping tawaran dr rekan Jatim di Pantai Paiton yang sudah pasti. salam de yc2www,

03 Februari 2010

WD5COV, New Mexico

Topband (160m) membayar jerih payah saya senja hari ini, 4/2/10(WIB). Walau sudah letih karena seharian bekerja, saya putuskan untuk tidak langsung pulang (topband DXer toh bukan gadis pingitan), melainkan memanggil CQ NA pada 1814 kHz sejak 1145Z.

Beberapa menit setelah memanggil NA, JE1CTM mengirim DX spot
"1202 je1ctm 1814.0 YC0LOW cq NA being cld by a N6" Artinya? Ada harapan!

David di hamshacknya yang rapi laksana show room mebel
Yang kedengaran memanggil adalah WD5COV. Pada 1224Z sebuah DX qso yang sulit terjadi juga. Saya dapat RST 559. Sedangkan saya kirim RST 339. Adapun N6ET, belakangan saya baru tahu dia, tidak terdengar sampai saya QRT pada 1300Z.

David menggunakan antena TX full size 4-sq array
New Mexico merupakan negara bagian di AS yang ke-28 masuk dalam koleksi 160m saya. Ini pertama kali antena Delta Loop mengantar sinyal saya sejauh hampir 15500 km (GL DM62DA). Nevada, negara bagian yang berbatasan dengannya, sudah CFM pada 1988.

On Thu, Feb 4, 2010 at 7:01 AM, David Jorgensen wrote:
> Hello Jo, Wow I did not realize you obtained the first cw 160M dxcc from indonesia.
> Excellent Job!
>
> Mni thanks for the qso today. I copied you solid for over 30 minutes. I wrote >down my report 439 and 539. When I go to log the qso I became confused. But I >know we had a good qso. Me and many others appreciate you on top band and on line >chat for skeds. I hope you work Doc K7SO also someday. I will be sending you my qsl >card. I wonder if you have worked all states on 160?
>
> 73 Dave WD5COV

02 Februari 2010

Antena RX Double Halfwave Delta Loop ala TX3A

Gbr. 1


Gambar hasil EZNEC di kiri didapat dari Rys, SP5EWY dan Luis, IV3PRK (keduanya top bander yang sudah pernah beberapa kali saya jumpai di 160m CW). Sebelum kontes CQ 160m CW, 2010, saya berkorespondensi dengan Rys, via email untuk menanyakan rincian antena tsb karena saya berminat membuatnya.


Rys sendiri sukses menggunakannya untuk menangkap sinyal TX3A. Antena tsb adalah rancangan Carlos, N4IS dan George, AA7JV. Digunakan dengan baik pada DX-pedition TX3A di Chesterfield Island (2009).


Setelah korespondensi tsb, saya coba terjemahkan seluruh informasi ke dalam sebuah diagram dan keterangan lain (lihat Gbr. 2) di bawah:
Gbr.2
Gbr. 2

Salah satu keuntungan dari antena rx DHDL ini ialah dia bebas dari pengaruh ground. Berbeda dengan antena EWE, yang konon menjadi dasar desain DHDL ini. Sifatnya yang ground independant membuat antena ini tidak alami perubahan bila kondisi tanah kering dan/atau basah.


Cara pembuatannya juga sangat praktis. Diameter kawat tidak kritis. Tiang penopang harus yang non-logam. Kita bisa gunakan bambu yang kecil namun panjang. Hanya saja, toroid model binocular BN-202-73 (lihat Gbr. 3) tidak tersedia di Glodok, Jakarta melainkan harus dipesan ke Fair-Rite atau Amidon di Amerika Serikat.
Gbr. 3

Selamat mencoba!

19 Januari 2010

Lagi, VE1ZZ dll mendengar sinyal YC0LOW. YC2LEV Muncul

Malu rasanya saya menulis berulang-ulang bahwa sinyal YC0LOW terdengar di sini dan di situ. Pembaca pasti bertanya, kapan dong saya yang bisa mendengar sinyal dari situ-dan-sini?

Itu pertanyaan yang sulit dijawab karena antena RX yang saya miliki bukanlah yang ideal.Tapi, untuk berbagi cerita -setidaknya untuk menyemangati teman-teman yang berminat pada topband (160m) DX maka saya putuskan untuk tetap menulis sampai dilarang oleh admin milis :-)) Apalagi, sekarang adalah musim (season) topband. Siapa tahu, ada banyak tambahan pemula topbander di Indonesia untuk menggantikan mereka yang sudah cocok jadi pensiunan atau veteran.

Saya mulai memanggil CQDX di 1814 kHz pada 2110Z. Phil VK6GX mengumumkan penerimaannya ke DX Cluster. Kemudian, pada 2140Z, Jack, VE1ZZ, kembali mendengar saya (pertama kali kami QSO 160m, CW, di Nopember 1997, 2218Z. Dia melaporkan RST 329. Ini adalah perambatan sinyal Long Path (15.743 km dari Cinere). Di kawasan pantai timur AS dan Kanada saat itu adalah waktu SS.

Beberapa stasiun di Eropa bahkan melapor ke DX-Cluster penerimaan mereka terhadap sinyal YC0LOW, di antaranya dari UW7LL (2201Z), SM2LIY (2203Z) dan W4MYA (2249Z). Yang terakhir ini melaporkan bahwa ada stasiun VE yang menjawab panggilan saya.

RST 329 dari VE1ZZ berarti: dia bisa mengcopy dengan kesulitan yang lumayan, sinyal saya yang sangat lemah tapi nada (tone) sempurna.

Beberapa saat kemudian, setelah adzan subuh, hujan jatuh di Cinere tapi tidak disertai petir. Saya putuskan untuk tetap memanggil untuk melihat apakah kinerja antena terpengaruh oleh basah. Ternyata tidak. Pada 2134Z berQSO dengan OH2BO dan YC2LEV (2203Z) Selamat datang OM Ardi, di Salatiga! Sinyal anda RST 5NN.

Omong-omong tentang RST, ada seorang amatir radio yang heran ketika pertama kali QSO SSB dia mendapat jawaban "you are 59" Mengapa stasiun lawan bisa nebak usianya dengan cepat dan tepat pula?

Tnx es 73 de Jo, YC0LOW


2010/1/19 Partono Partokardi, YB2CPO menulis:

OM Jo,

Jangan bosan menulis sehingga saya tetap punya bacaan yang mendorong untuk segera bergabung.
FYI om Ardy YC2LEV memang lagi semangat dan saya juga menyemangati walaupun keterbatasan tempat/lahan beliau masih bisa muncul di 160m. Sempat ragu-ragu untuk muncul di top-band karena hampir setiap panggilannya tanpa terjawab kemanapun sebelumnya. Trial yang dia lakukan hampir setiap hari pada awal 2010 ini
Kami ngobrol di 1,8300 dengan mode SSB lebih dari satu jam untuk meyakinkan bahwa tidak ada yang salah dari pancarannya, cuma belum "beruntung" ketemu lawan. Kalau OM Jo telah berhasil menerima pancarannya dan laporan lain dari DX station tentu akan memacu yang bersangkutan.

Biar OM Dadang cepet pengin pulang lagi.... OM Ardy kalo sore segera pulang oprek antenna... dan CQ CQ di 160m gak perlu nunggu jumat sore OM............ bagaimana OM Dadang? kapan minta mutasi ke Semarang (he.. he) nanti bisa berlomba setiap malam yang paling dulu CQ... aku yang jadi Jurinya....

73 de yb2cpo

15 Januari 2010

FK8CP Masuk Log sebagai NEW one

Sejak berkarir di topband (160m) pada 1997, stasiun dari Kaledonia Baru) terus-terusan membuat saya penasaran karena sering melihat FK8CP masuk DX spot tapi sulit mendengarnya (titik lemah set-up sistem topband saya adalah ke arah timur Indonesia: Pasifik).

Malam ini, rasa penasaran itu punah karena setelah cukup lama memanggilnya pada 1831.5 QSX down 1815 kHz, akhirnya kami bertukar laporan. FK8 menjadi koleksi negara ke-112 (WKD) pada log saya. Sekali lagi, saya terbantu oleh antena RX loop ala N6RK. Kalau menggunakan antena TX, sinyalnya mejret ditindih oleh QRN.

Kerusakan pada RX antena yang saya tulis dalam maillist Antennamania, ternyata tidak separah yang diduga. Saya periksa pada Jumat pagi (WIB) dan menemukan hanya karena sebuah konektor yang kendur diterpa angin besar.

Jumat usai subuh (WIB)saya mendengar sinyal kuat KH2L pada 1816 kHz (20:41Z) seperti sinyal yang berasal dari Bogor! Tapi karena saya sudah CFM Guam maka saya menahan gejolak syahwat untuk memberi kesempatan stasiun dari Eropa yang pastinya lebih bergairah mendapatkannya.

Pada malam harinya, 13:45Z, pada 1814 kHz, melalui sebuah sked via email, saya juga berhasil kontak dengan JR7VHZ dari prefektur Iwate, Jepang, sehingga hanya tiga lagi prefektur di JA-land yang musti diburu pada topband.

[AntennaMania] VP6DX RX Antennas

Link yang luar biasa bagus untuk mendapatkan pelajaran --lengkap dengan download 'diktat'nya--tentang bagaimana sebuah DXpedition secara serius menyiapkan RX antenanya (terutama pada LOW bands/HF):

http://www.ncjweb.com/200807NCJVP6DXreceiveantenna1.pdf


From: Partono Partokardi
To: antennamania@googlegroups.com, Friday, January 15, 2010 8:33 A

Thank you OM Jo,

Tambah referensi, dengan kondisi lahan seminim mungkin bila digabungkan dengan usaha optimasi yang tepat guna niscaya akan memberikan keberhasilan dan kepuasan.

masih sebagai pendengar "angot-angotan" (sekenanya) dan kumpulin resource sebagai persiapan..

73 de Tono, yb2cpo



Yth OM Tono,

Memang, kita belum tentu bisa meniru pendekatan dan praktik pendistribusian RX antena seperti VP6DX -- yang memfokuskan kegiatan DXpedition-nya pada LOW bands. Tapi, setidaknya kita bisa menambah referensi tentang hobi 'gila' ini. Juga bisa tahu, bagaimana caranya bahan/alat/merek digunakan.

Coba bayangkan, dengan persiapan yang hebat ini, pada 160m band, log VP6DX (memancar dari Pasifik, OC) mencatat 6.615 QSO CW dan 1.562 QSO SSB!

Saya baru memahami bahwa pada transceiver modern yang memiliki RX antena input-port yang terpisah dari TX port-nya ternyata masih umum menerima kebocoran sinyal pada saat TX 100W sebesar 10mW (+10dBm atau S9+77dB). Itu sebabnya pre-amp RX HARUS diproteksi apalagi bila penggunanya berada di sebuah lokasi di mana banyak txcvr dioperasikan.

Juga, dengan penguasaan teknologi/ilmu, setiap operator VP6DX dapat sekaligus mendengar sinyal DX dari dua arah yang berlawanan melalui speaker headphone stereo(kiri dan kanan).

Luar biasa...

14 Januari 2010

Topband, 13 Januari 2010

Malam (WIB) setibanya di rumah dari pulang kerja. saya mendapati antena RX loop saya tidak bekerja normal pada topband (160m). Posisi petunjuk pada potensio untuk DC Voltage di Remote Tuning Unit berubah dari skala pukul 9 ke posisi pukul 13.

Menurut keterangan dari orang rumah, pada senja harinya turun hujan dan banyak petir. Kemungkinan besar ada 'spike' sehingga menyebabkan rangkaian DC voltage feeder (outdoor) untuk menala kapasitansi antena overload dan menjadi rusak (apakah ini memang mungkin terjadi?).

Saya tidak sempat memeriksa dan memperbaikinya karena gerimis dan ngantuk. Jadi, pada dini harinya saya TX dan RX hanya dengan satu antena (vertikal) saja.

Sekitar 2125Z terdengar DX1J -yang dioperasikan oleh operator dari Jepang- pada 1823.5 kHz bekerja simpleks. Stasiun dari Filipina ini sinyalnya sangat kuat RST 559. Saya ikut memanggilnya karena yakin akan bisa masuk ke lognya tapi dia hanya mau melayani stasiun dari JA. Memang, stasiun DU tergolong langka ditemukan di topband. Tidak heran bila dia mendahulukan kaumnya.

Setelah 'ditolak', saya segera buka warung sendiri pada 1814 kHz. Sempat menjaring lima stasiun dari JA dari call-area 7 dan 8. Namun, bersamaan dengan itu, sinyal YC0LOW rupanya booming di Eropa walaupun sinyal dari sana terdengar lemah. Di Cinere, saya dengar ada M0, PA, OM, DL, RU memanggil tapi pile-up terlalu besar sehingga makin sulit meng-copy callsign satu per satu walaupun saya sudah free split-operation/QSX. Pada ON4KST Chat-Line, bahkan ada yang menulis bahwa 1814 kHz sudah menjadi 'EU zoo' (kebun binatang) akibat memanggil saya. Ron, GW3YDX menyapa saya via internet dengan menyebutkan bahwa di kalangan topbander Eropa telah berkembang teknik baru, yaitu: "call longer than anyone else", hi hi...

Saya putuskan untuk QRX sesaat agar menghentikan 'dampak sistemik' (pinjam istilah dari kasus Bank Century) yang buruk. Kemudian pada 2150Z muncul ON4UN dengan sinyalnya yang kuat. Kami bertukar laporan RST 579. Ini adalah topband QSO kami yang keempat sejak 1997. John, memberitahukan bahwa keputusan saya untuk QSX-up adalah oke.

Hingga saat SR tiba, saya kehilangan sinyal apa pun pada topband. Namun, saya sempat memantau adanya YC1COZ dan juga YB4IR yang masih rajin memanggil DX (karena saat SR di Palembang memang tiba agak belakangan dari pada di Cinere).

Tnx es 73 de Jo, YC0LOW

12 Januari 2010

Topband, 11 Januari 2010

Tidak ada 'kejutan' yang berarti pada topband pagi ini (WIB). Namun, kondisi propagasi boleh dibilang lumayan OK.

Seperti biasa saya mulai CQDX pada 21:00Z di 1814 kHz. Beberapa stasiun Eropa, diantaranya OZ1, SM2 langsung mengirim DX spot karena mendengar panggilan tsb. Via internet mereka melaporkan RST untuk saya 559.

Agak belakangan, mulai sekitar 21:21Z, YC0LOW diserbu oleh stasiun-stasiun dari JA. Namun hanya sebelas dari call-area 1, 3, 6 dan 4 yang masuk log saya. Sebetulnya bisa lebih banyak, tapi, tampaknya disiplin para topbander baru di JA berbeda dengan kebiasaan yang sebelumnya. Mereka terus-menerus dan berdesak-desakan memanggil di saat saya hanya berniat melayani hanya satu stasiun yang callsign-nya belum utuh di-copy.

Di tengah tirai sinyal yang kuat dari JA, saya mendengar ada ketukan lemah, QRS, tapi konsisten. Ternyata itu adalah GM0UDL. Setelah empat tahun berselang, inilah pertama kalinya lagi saya menjalin topband QSO dengan stasiun dari Skotlandia (lebih dari 11.700km dari Cinere). Callsign ini pun tergolong baru muncul. Kalau tidak ada antena khusus RX loop, mungkin sinyalnya akan terkubur oleh static noise dan sinyal JA.

Sebelum SR tiba, saya menjalin QSO dengan YC1HBP op Gum dari Cilebut, Jawa Barat

Mari berharap semoga kondisi propagasi 160m DX di hari-hari mendatang akan makin membaik.

Tnx es 73 de Jo, YC0LOW

Eksperimen Coax Loop RX Antena 160M [dari maillist AntennaMania]

Dear all,

Akhirnya selesai sudah rakitan antena RX Loop di 160M. Sekitar pukul 13.00 wib tadi sudah terpasang di ketinggian 20M diantara spasi antena TH6DXX dengan antena tx Yagi 3 element 40M.

Bahan dari coaxial Andrew 50 ohm (sisa potongan dari antenna TX double bazoka 160M) ukurannya lebih besar sedikit dari RG5/8. Dengan masing-masing sisi sekitar 1,5M, di mana pada sudut teratasnya untuk outer coaxial-nya diputus dgn jarak 0,5 inci (yang terhubung hanya inner-nya saja) dan sudut terbawah (pertemuan antara kedua ujung coaxial) masing-masing inner-nya dihubungkan dengan 1 bh capacitor 400pf (bentuk piringan terbang yang kebetulan saya punyanya itu, sisa dari jaman radio home brew, high voltage 3KV HF). Untuk di setiap ujung outer-nya digabungkan dan akan menjadi outer dari feederline. Begitu juga di salah satu sisi kapasitor dihubungkan pula dengan inner feeder line.

Untuk kerangka antennanya, saya pakai PVC diameter 0,5 inci, dan disilangkan berbentuk tanda Plus (+) dengan panjang jari-jarinya (dari titik tengah) 1 meter.

Feederline saya pergunakan coaxial 50 Ohm Federal RG-58 sepanjang 40M menuju ke pesawat yang nantinya menjadi antena RX sedangkan untuk TX saya tetap pakai Double Bazooka.

Untuk RX, pada Antenna Analyser (TTE) menunjukan angka resonan pada frekuensi 2,0 MHz (SWR 1,2 dengan impedance 50 ohm). Karena Capacitor yang saya pakai nilainya sudah Fixed 400 pF makanya jadi gak bisa di trim untuk ngejar ke frekuensi 1,8 MHz (kecuali jika pakai Capacitor trimmer).

Setelah antena dicolok ke pesawat (2 antena saya colok di Radio Yaesu FT-950, kebetulan radio ini memiliki fasilitas dua buah input antenna, dimana untuk Antenna 1 dengan Double Bazooka dan pada antenna 2 saya pakai RX Loop.

Pada siang hari pukul 13.00 wib, Perbedaan kedua antenna tsb adalah: 

Untuk Antena 1 (double Bazooka) S meter menunjukkan angka 20db, pada antenna 2 (Loop) S meter pada S8. Artinya tingkat Noise di siang hari pada antenna loop bisa ditekan hingga menunjukkan angka S8. Mudah-mudahan receive-nya tidak berkurang. Karena belum dicoba.

Terus terang, saat ini saya udah gak sabaran nunggu sampai nanti malam dan nanti subuh untuk menjajal antena RX ini.

Mudah-mudahan sukses, akan saya laporkan ke rekan-rekan untuk report Hasilnya.

Antena ini sangat simple. Saya buat tadi pagi pukul 10.00 wib dan sudah terpasang di atas tower pukul 13.00 wib.

Best regards
73 de Imam YB4IR


----


Yth OM Imam, YB4IR,
Selamat untuk atena RX-nya. Saya membayangkan tipe tsb nyaris mirip dengan antena RX yang saya buat -dan di waktu mendatang juga akan dibuat oleh Anda dkk bila pesanan varactor dan toroid sudah tiba (ala N6RK). Dimensinya sama. Bedanya, mungkin cuma satu: saya bisa ubah kapasitansi antena RX tsb (untuk 80m atau 160m) dari hamshack karena ada Remote Tuning Unit-nya.


Yang belum jelas apakah antena buatan Anda tsb menggunakan sebuah transformer untuk impedance matching (antena vs coax/feederline)?


Reduksi derau dari 20dB ke S8 sudah lumayan -walau masih tergolong tinggi. Mungkin karena ditempatkan di ketinggian 20m dan dekat dengan bahan-bahan konduktif (seperti menara dan/antena TX). Yang penting, receiver Anda haruslah didominasi oleh noise dari antena bukan karena common-mode noise yang biasanya efek ikutan dari feederline. Jauhkanlah dari sumber-sumber QRM lain, misal: lampu TL, switching power supply dll yang berdekatan dengan antena RX tsb.


Saran saya, dicoba saja dulu untuk memantau Nusantara Net 80m dan/atau kondisi di topband (160m). Siang/sore ini, kalau Anda sudah tiba di rumah, cobalah memantau radio siaran AM pada band MW. Bandingkan penerimaan dan directivity-nya dengan antena TX. Seharusnya, dengan perubahan-perubahan orientasi dan posisinya, antena tsb akan memberi Anda efek untuk 'nulling' noise.


Tidak usah kawatir bila SWRnya tinggi karena antena ini hanya untuk RX.


Happy topband DXing. Tnx es 73 de Jo, YC0LOW